Pagi Didemo, Siang Dicopot

Pagi Didemo, Siang Dicopot

Demo Siswa di SMAN 6 Kota Jambi

JAMBI-Karir  Sahala Hutagalung sebagai Kepsek di SMA Negeri 6 Kota Jambi,  berakhir sudah. Dia dicopot dari jabatan sebagai kepsek  dan digantikan oleh Acep Sutoyo. Pelantikan pun sudah digelar di rumah dinas walikota, kemarin sore.

Terlepas kebetulan atau tidak,  sebelum pencopotan Sahala,  kemarin pagi, usai upacara bendera, siswa SMA Negeri 6 Kota Jambi sempat menggelar aksi demontrasi di sekolah tersebut.  

                  Siswa menuntut sekolah untuk memenuhi fasilitas sekolah. Terutamanya adalah fasilitas olahraga yang minim.

 “Fasilitas dan alat olahraga kurang. Contohnya bola dan semacamnya. Malahan bukan kurang lagi, memang tak ada,” kata Ari, siswa kelas 2 reguler di SMAN tersebut.

Selain itu, mereka juga mengeluhkan ruangan laboratorium IPA yang dialihkan peruntukkannya menjadi kelas. Sehingga, ketika membutuhkan laboratorium, siswa tak bisa memanfaatkannya. Disamping itu, di sekolah itu juga ada yang namanya kelas rintisan olahraga. Di kelas itu, menurut Ari, semua siswa yang berbakat dan mengambil bidang olahraga dibina.

Akan tetapi, kepada siswa itu, dibebankan biaya senilai Rp 250 ribu per orang untuk uang komite. Dengan adanya pungutan itu, siswa merasa keberatan. “Kami minta diturunkan. Katanya mau diadakan proyektor juga, rupanya fasilitasnya tak dipenuhi,” sebutnya.

Sementara untuk siswa regular dan siswa kelas rintisan olahraga, sambungnya, juga seperti ada diskriminasi. Karena, siswa kelas regular, tak diperkenankan menggunakan fasilitas olahraga. “Memang fasilitasnya belum lengkap. Malahan, bulanannya berat sekali. Pungutan senilai Rp 250 ribu itu mulai ditarik dari mulai masuk sekolah,” tegas Sukri, salah satu siswa kelas 1 rintisan olahraga.

Oleh karenanya, siswa menjalankan aksinya tersebut, agar tuntutan mereka dikabulkan pihak sekolah. “Makanya kami ngumpul tidak masuk kelas. Kami juga sempat membawa papan tulis yang kami tulis tuntutan kami. Namun papan tulis itu diambil keamanan sekolah,” sebutnya M Andika Kurniawan, siswa kelas 2 IPS.

Sementara itu, Erinaldi, Ketua Koordinator Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kota Jambi, yang ditemui usai melakukan pertemuan dengan pihak sekolah di lokasi tersebut kemarin, menerangkan, dirinya datang ke sekolah karena mendapatkan laporan.

“Saya dapat laporan, ada siswa mogok belajar. Nah, ini ada beberapa tuntutan siswa dan semua tuntutan siswa itu menurut saya riil dalam proses peningkatan mutu dan kualitas sekolah. Jadi wajar saja mereka menuntut. Diantaranya tuntutan mereka adalah fasilitas olahraga,” katanya.

Sementara itu, Sahala M Hutagalung, Kepala SMAN 6 Kota Jambi, ditemui harian ini malah terkesan balik menyalahkan siswa. Ia meminta, siswa yang meminta fasilitas ditingkatkan, untuk menyadari apa yang menjadi tanggung jawab mereka. “Jadi kalau menuntut fasilitas yang lengkap, kita minta apa yang sudah disepakati orang tua dan komite itu dijalankan dan mulai dibayar,” tegasnya.

“Sebagaimana diketahui, anggaran rutin juga agak mandek dan belum bisa digunakan,” sambungnya.

Lalu bagaimana solusi yang akan diberikan sekolah? Ia menjelaskan, siswa harus memenuhi kewajibannya. “Yang mereka minta akan kita penuhi setelah membayar uang komitenya. Karena uang komite itu yang akan digunakan sebagaimana yang tercantum dalam RAPBS. Sejuah ini, siswa yang sudah membayar itu baru 20 persen,” sebutnya.

Sumber: