Melawan Lupa dari Omah Munir

Melawan Lupa dari Omah Munir

  BATU - Upaya mengungkap misteri pembunuhan pejuang hak asasi manusia Munir Said Thalib terus dilakukan. Hal itu ditandai dengan berdirinya Omah Munir di kota kelahiran sang tokoh di Batu, Jawa Timur, kemarin (8/12). Sejumlah tokoh nasional hadir dalam acara tersebut.

    Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifudin menyebut, Munir tidak hanya aktif memperjuangkan HAM, tapi juga memiliki andil dalam sisi legislasi. Munir berperan penting dalam lahirnya ketetapan MPR Nomor XVII Tahun 1998 tentang HAM. Juga UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM. \"Kami berharap Omah Munir ini bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua,\" ucap tokoh yang getol memperjuangkan Munir menjadi pahlawan nasional itu.

   Mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Abdul Mukti Fadjar mengatakan, Omah Munir dibangun sebagai penanda hormat terhadap Munir. \"Bukan hal yang kebetulan jika ini bertepatan dengan tanggal kelahiran Munir dan dua hari lagi adalah Hari HAM Sedunia,\" kata pria yang menjadi dewan pengawas Omah Munir tersebut.

   Istri Munir, Suciwati, menjelaskan bahwa pendirian Omah Munir merupakan strategi lain gerakan melawan lupa yang terus digulirkan bersama sahabat-sahabat Munir. Perspektif tentang keadilan HAM dalam masyarakat adalah sesuatu yang harus diubah dan diperbaiki agar ketidakadilan yang dialami Munir tidak terjadi kepada orang lain.

   \"Omah Munir berbagi energi untuk melawan rasa takut. Munir dan kisah korban pelanggaran HAM adalah catatan penting perjalanan bangsa ini. Untuk mereka, Omah Munir didirikan,\" ucap dia.

   Ketua Tim Pembangunan Omah Munir Andi Achdian menginginkan Omah Munir bisa menjadi pusat pembelajaran HAM bagi siswa yang berkunjung ke sana. Juga akan ada pelatihan HAM di Omah Munir. \"Tak hanya bagi aktivis. Kami ingin Omah Munir ini juga menjadi tempat belajar siswa,\" kata sejarawan dari UI tersebut.

   Acara itu juga dimeriahkan aksi monolog Butet Kertaredjasa. Menurut Butet, cara paling mudah bagi politisi untuk menutupi kasus adalah memunculkan kasus yang lebih besar. Pembicaraan soal kematian Munir pun kemudian tenggelam dengan kasus-kasus besar seperti Bank Century dan sebagainya.

   \"Omah Munir ini menjadi ikhtiar merawat kebenaran. Ibarat kebenaran memiliki rumah, maka di hati kita kebenaran itu bersemayam. Ini tidak sedang soal seorang Munir, namun tentang kebenaran yang harus kita perjuangkan bersama,\" ucap Butet.

(did/JPNN/c6/ca)

Sumber: