Bengawan Solo Meluap, 4.874 Rumah Terendam

Bengawan Solo Meluap, 4.874 Rumah Terendam

JAKARTA - Hujan berintensitas tinggi di bagian hulu dan tengah Daerah aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo dan DAS Lamong telah menyebabkan debit sungai meluap. Akibatnya, sebanyak 4.874 rumah terendam banjir.

       Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa wilayah di sekitar sungai di Bojonegoro, Tuban, Mojokerto, dan Gresik Jawa Timur (Jatim), hingga kemarin (15/12) masih tergenang air. \"Banjir yang dimulai Sabtu (14/12) pukul 18.00 WIB hingga Minggu sore masih terendam banjir,\" kata Sutopo kemarin.

       Sutopo menjelaskan bahwa banjir yang terjadi di Bojonegoro dan Tuban disebabkan kombinasi antara hujan lokal dan sejumlah banjir kiriman dari hulu Bengawan Solo, yaitu Wonogiri, Solo, Sragen, Ngawi, Ponorogo, dan Madiun. Sedangkan banjir yang terjadi di Mojokerto dan Gresik disebabkan karena meluapnya Kali Lamong di Jatim.

       Sutopo mengatakan bahwa bencana banjir di Bojonegoro telah merendam sedikitnya 30 desa di 7 kecamatan. Akibatnya, banjir memaksa 1.705 Kepala Keluarga (KK) untuk mengungsi dan 1.727 hektar sawah terendam banjir.

       Berdasarkan data yang berhasil dihimpun BNPB, Sutopo membeberkan bahwa banjir terparah berada di Kecamatan Padangan. Banjir yang terjadi di sana menyebabkan 9 desa yang dihuni oleh 823 KK dan sawah seluas 250 hektar terendam.

       Sedangkan di Kecamatan Bojonegoro, banjir telah merendam 3 desa yang dihuni oleh 585 KK dan 28 hektar sawah. Laporan dari BNPB mengatakan bahwa hingga kemarin, tinggi muka air Bengawan Solo di titik pantau Karangnongko (barat laut Bojonegoro) pada posisi 29,30 meter atau berstatus Siaga 1.

       \"BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro telah membangun shelter untuk pengungsi banjir di Bojonegoro sehingga dapat digunakan menampung sebagian pengungsi,\" ujar Sutopo.

       Sementara di Tuban, banjir dilaporkan telah melanda 13 desa di 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Semanding, Suko, Parengan, dan Singgahan. Selain itu banjir juga menyebabkan sebanyak 2.249 rumah terendam.

       \"Di desa Sambung Rejo Kecamatan Semanding sekitar 800 rumah terendam. Sedangkan di Mojokerto dan Gresik banjir di 6 kecamatan dengan 920 rumah terendam,\" papar Sutopo.

       Sementara jumlah korban, terutama korban jiwa serta jumlah pengungsi akibat bencana banjir tersebut masih belum diketahui secara pasti. Namun, satu orang dilaporkan telah hanyut di Kecamatan Benjeng. Hingga dikonfirmasi kemarin, belum diketahui nasib orang tersebut.

       \"Hingga saat ini belum ditemukan,\" ucap Sutopo.

       Sutopo menambahkan bahwa BPBD Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Mojokerto, dan Gresik bersama TNI, Polri, SKPD serta relawan telah melakukan penanganan darurat, di antaranya dengan mendirikan dapur umum dan menyediakan makan siap saji. Selain itu, sebagian masyarakat di daerah terdampak banjir juga telah dievakuasi

       \"Pendataan pengungsi masih dilakukan,\" ucap Sutopo.

       Dia juga menghimbau masyarakat untuk selalu waspada dengan ancaman bencana banjir dan longsor. \"Puncak hujan sebagian besar wilayah Indonesia pada Januari hingga Februari,\" katanya.

Sumber: