Syaratnya, Tempat Pameran Harus Jual Kopi Lokal

 Syaratnya, Tempat Pameran Harus Jual Kopi Lokal

Nikmati Seni tanpa Mengernyitkan Dahi ala Komunitas Kopi Keliling

 Kopi dan seni konon tidak bisa dipisahkan. Bahkan, sampai ada komunitas yang menggabungkan dua hal itu dalam aktivitas mereka. Itulah yang dilakukan anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas Kopi Keliling Jakarta.

 

 GUNAWAN SUTANTO, Jakarta

 

 Sebuah kedai kopi mungil dua lantai di kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan, menjadi tempat meeting Raymond Malvin. Dia datang di kedai kopi itu bersama teman komunitas sekaligus kekasihnya, Patricia Wulandari, untuk bertemu seorang relasi.

 Secangkir kopi espresso menemani perbincangan Raymond sore itu (12/1). Patricia memesan sebuah racikan ice coffee yang di-blend. Tidak berapa lama, perbincangan bisnis tersebut berakhir. Raymond dan Patricia kemudian menemui Jawa Pos untuk berbincang seputar aktivitas komunitas uniknya, Kopi Keliling (Kopling).

 Seperti namanya, komunitas itu memang berkeliling dari satu kedai ke kedai kopi yang lain. Yakni, menggelar pameran-pameran seni rupa, terutama seni ilustrasi. Di sela-sela pameran, diadakan diskusi tentang kopi, mulai soal rasa, asal, hingga sejarahnya.

 \"Dengan cara (pameran) seperti itu, kami sekaligus ingin mengenalkan kopi asli Indonesia,\" paparnya.

 Kedai kopi yang dipilih sebagai venue tidak asal-asalan. Syarat utamanya, kedai kopi tersebut harus menjual minuman dari biji kopi asli Indonesia. \"Karena itu, kami juga tidak bisa sembarangan menggelar pamerannya,\" jelas Raymond.

 Sejak didirikan pada Februari 2010, Kopling baru tujuh kali mengadakan pameran seni rupa. Sebab, mereka tidak mau asal-asalan dalam penyelenggaraan.

 \"Meski masih sedikit, kami berupaya konsisten untuk menyelenggarakan pameran. Bahkan, sekarang mulai keluar Jakarta,\" papar pria kelahiran Jakarta, 3 April 1982, itu.

 Pada Kopling Volume 7, bersama sejumlah perupa, Kopling menyelenggarakan pameran di Jogjakarta. \"Banyak yang bertanya kenapa kami mengangkat seni dan kopi. Jawabannya panjang. Tapi, jawaban simpelnya, kami seniman dan suka ngopi,\" kata lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Pelita Harapan itu. Patricia yang duduk di samping Raymond menganggut-anggut lantas tersenyum tanda setuju.

Menurut mereka, ada korelasi antara seni dan kopi yang sangat identik di Indonesia. Sebagaimana yang dikatakan sejumlah penggiat kopi selama ini, kualitas kopi Indonesia termasuk yang terbaik di dunia.

Sumber: