>

Behind: Impossible

Behind: Impossible

***

“Lo yakin kalo itu beneren dia?” Tanya Dafa pada Sanu yang kini tengah menegak minuman bersoda di depannya.

“Gue yakin Daf, yakali gue bohong sama lu” ujar Sanu lagi, “Dia saudara gue, kembaran gue, nggak mungkin gue nggak kenal sama saudara gue sendiri.” Lanjut Sanu lagi.

“San, lo tau kan di dunia nggak ada yang pernah abadi, sekalipun itu tentang kesetiaan, dalam sedetik lo bisa liat temen lo jadi lawan dan lawan lo jadi kawan.” Ucap Dafa tiba – tiba, “sebelum, semuanya makin jauh lebih baik lo bilang ke gue lo dipihak mana, lo bebas dan lo bakal tetep jadi temen gue setelah semua ini selesai.” Lanjut Dafa lagi menatap Sanu dengan tatapan tak terbaca.

Sanu menatap Dafa kosong, “lindungi Danu, dan gue bakal ada di pihak lo,” ujar Sanu dengan senyum skeptis, terlalu menyakitkan hanya untuk sekedar memilih.

Dafa beranjak untuk mengambil satu botol vodka dan dua cangkir gelas dari rak penyimpanan di ruang kerja. Dafa menuangkan satu gelas vodka untuk Sanu dan satu lagi untuk dirinya, “Anggap aja ini bukti kesepakatan kita,” ujar Dafa. Sanu hanya tersenyum lalu menyatukan gelasnya dan gelas Dafa, suara dentingan terdengar dari pertemuan dua gelas tersebut, Dafa dan Sanu menegak minuman mereka masing – masing dengan pikiran yang berkecamuk di benak masing – masing.

Setelah aksi minum mereka, Sanu meninggalkan Dafa saat fajar mulai menyingsing, dan Dafa benar – benar tidak tidur mengingat urusannya, Dafa melihat dokumen yang terbungkus ampop coklat yang dibawa oleh Sanu tadi, Dokumen tersebut berisi tentang Veera, anak kandung dari ibu pantinya, Amanda Rosena.

Amanda Rosena merupakan wanita yang berkerja di tempat ia dibesarkan dulu, panti asuhan Karya Dewi. Disana Dafa dikenal menjadi anak yang nakal dan sangat sering membuat semua pengasuh panti tidak tahan dan lebih ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya. Bukan tanpa alasan mengapa Dafa selalu menjahili dan membuat semua pengasuh panti tidak tahan untuk bekerja di panti asuhan, itu semua karena pengasuh di panti asuhan tidak pernah benar – benar mengurus mereka selain menyuruh mereka bekerja siang dan malam. Bahkan uang sekolah yang selalu dititipak oleh donator selalu dihabis pengasuh mereka untuk foya –foya. Setiap pengasuh berganti, Dafa selalu mengharapkan adanya perubahan, pada dirinya dan pada adik – adiknya di panti, walau mereka terlahir dari orangtua yang berbeda, mereka adalah adik Dafa, itu menurut Dafa. Namun silit berganti harapan itu selalu pupus dengan kekecewaan bahwa setiap pengasuh yang datang selalu sama dengan yang sebelum – sebelumnya.

Hingga Amanda Rosena datang, Dafa tidak pernah berhenti menjahili Amanda Rosena, namun Amanda Rosena selalu sabar, dan bahkan menyekolohkan mereka, hal yang membuat Dafa semakin menyayangi Amanda Rosena adalah Dafa ingat kala itu tidak ada donator sama sekali yang menyumbang ke panti asuhan mereka, donator tetap mereka yang selama ini selalu merawat panti asuhan mereka tidak pernah lagi berkunjung, dengan mengerahkan seluruh sisa tabungannya Amanda Rosena mati – matian menghidupi mereka dan menyekolahkan mereka dengan bekerja siang malam, membuat Dafa semakin menyayangi Rosena.

Semua anak didikian yang di asuh Rosena, Dewasa dan tidak ada anak yang datang ke panti asuhan karya Dewi lagi membuat Rosena dan Dafa menjadi satu – satunya yang tersisa, karena tidak tega membiarkan Rosena terus tinggal di panti, Dafa mengajak Rosena untuk tinggal bersamanya di apertemennya, sedang Rosena tidak ingin, hingga rosena jatuh sakit dan di rumah sakit Rosenna meminta bantuan pada Dafa untuk mencari dua putri kandungnya, Rossena hanya sempat memberitahu sedikit tentang Veera sebelum Rossena pergi meninggalkan Dafa untuk selamanya.

Dafa menghela nafas mengingat kenangannya dengan ibu pantinya dulu, dengan perasaan sedih sekaligus lega Dafa membuka amplop tersebut dan membaca dokumen tersebut, Dafa terkejut dengan fakta yang ia dapati

“Wanita itu..”

Bersambung

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: