Bukittinggi Kembali Perkuat Usulan Sebagai Daerah Istimewa
Wali Kota Bukittinggi, Sumatera Barat Ramlan Nurmatias saat diwawancarai di Kota Bukittinggi. ANTARA/Muhammad Zulfikar--
BUKITTINGGI, JAMBIEKSPRES.CO.ID- Pemerintah Kota BUKITTINGGI, Sumatera Barat (Sumbar) kembali memperkuat usulan kota tersebut sebagai daerah istimewa.
Usulan tersebut lewat rangkaian seminar dan literasi internasional pada peringatan satu abad Jam Gadang yang puncaknya Juni 2026.
"Usulan sebagai daerah istimewa sudah kita sampaikan, dan kita selesaikan dulu di tingkat bawah," kata Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias di Kota Bukittinggi, Senin dikutip dari Antara.
BACA JUGA:Presiden Prabowo Merayakan Idul Fitri 1447 H Sekaligus Syukuran Ulang Tahun Putranya
Ramlan mengatakan nantinya hasil seminar atau diskusi ilmiah rangkaian 100 tahun Jam Gadang akan disampaikan kepada pemerintah pusat, atau pihak terkait sebagai salah satu pertimbangan pengusulan daerah istimewa.
Secara khusus, Ramlan Nurmatias menyampaikan hasil seminar itu diteruskan kepada Komisi II DPR RI yang membidangi pemerintahan, Kementerian Hukum hingga Presiden RI. Sebelum ini Wali Kota Bukittinggi telah menemui Sri Sultan Hamengkubuwono X dan keluarga Bung Hatta tentang keterkaitan sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
BACA JUGA:Viral Pungli Parkir Rp15 Ribu di Telun Berasap, Polres Kerinci Langsung Tertibkan
Menurutnya, perjalanan Indonesia hingga lahirnya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) hingga kemerdekaan yang diraih saat ini tidak lepas dari peran kota kelahiran Bung Hatta tersebut.
Pada saat Mohammad Hatta di Bukittinggi bersama Syafruddin Prawiranegara dan ketika berencana balik ke Pulau Jawa, Bung Hatta meminta Syafruddin Prawiranegara untuk tetap di Bukittinggi.
BACA JUGA:Mudik Lebaran 2026 Terkendali, ASDP Jaga Layanan Penyeberangan Tetap Prima
Alasannya, kala itu Bung Hatta sudah mengetahui ia akan ditawan oleh penjajah sehingga butuh sosok pemimpin yang harus melanjutkan napas Indonesia.
Bersamaan dengan itu, Bukittinggi ditunjuk sebagai sebagai Ibu Kota Negara menggantikan Yogyakarta yang jatuh ke tangan penjajah pada agresi militer II Belanda.
BACA JUGA:BMKG Waspada Hujan Disertai Kilat-Angin di Mayoritas Kota Besar RI
Selama di Ranah Minang, Syafruddin Prawiranegara dikejar-kejar Belanda hingga ia melarikan diri ke Halaban, Kota Payakumbuh dan Bangkinang, Provinsi Riau.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




