Rupiah Menguat Dipengaruhi Komitmen Kerja Sama AS-Indonesia
Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (21/1) bergerak menguat 20 poin atau 0,12 persen menjadi Rp16.936 per dolar AS dari har--
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat, bergerak menguat 6 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.888 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.894 per dolar AS.
BACA JUGA:BMKG: Waspada Jakarta Diperkirakan Hujan Pada Sabtu Pagi Hingga Malam
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan kurs rupiah dipengaruhi komitmen kerja sama antara Indonesia dengan AS.
BACA JUGA:Menurut Teori Psikolog Hal Yang Bisa Mendatangkan Kebahagiaan
“Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menyepakati dokumen perjanjian perdagangan resiprokal bertajuk Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance, Jumat ini. Perjanjian tersebut diteken langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat, dikutip dari antara.
Dalam perjanjian itu, tertuang sejumlah komitmen kerja sama antara kedua negara yang melingkupi 11 nota kesepahaman (MoU), pembentukan dewan ekonomi permanen, penurunan tarif ribuan pos produk, hingga komitmen pembelian energi dan pesawat.
Penandatanganan dokumen tersebut yang dilakukan di Washington DC, kata dia, menandai babak baru hubungan ekonomi dua negara yang selama ini ditopang perdagangan, investasi, dan kerja sama strategis Indo-Pasifik.
Lebih lanjut, perjanjian ini dinilai akan menjadi tonggak bersejarah dalam kemitraan RI-AS, memperkuat keamanan ekonomi, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta secara berkelanjutan berkontribusi terhadap kemakmuran global. Lebih jauh.
“Prabowo dan Trump menginstruksikan jajaran menteri untuk segera menurunkan kesepakatan tersebut ke dalam kebijakan teknis dan regulasi pendukung agar implementasinya berdampak nyata terhadap perekonomian,” ungkap Ibrahim.
Melihat sentimen global risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Januari menunjukkan nada hati-hati namun cenderung hawkish. Risalah tersebut memperkuat pandangan bahwa pemotongan suku bunga jangka pendek tidak mungkin terjadi.
Selain itu, data ekonomi AS Klaim Pengangguran Awal turun menjadi 206 ribu untuk pekan yang berakhir pada 14 Februari, jauh di bawah perkiraan 225 ribu dan turun dari 229 ribu sebelumnya. Selanjutnya, Survei Manufaktur Federal Reserve Philadelphia naik menjadi 16,3 pada Februari, melampaui ekspektasi 8,5 dan membaik dari 12,6 pada bulan Januari.(ant)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




