JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID – Puluhan nenek di wilayah kerja Puskesmas Rawasari, Kota Jambi, kembali duduk di bangku "sekolah". Bukan untuk mengejar ijazah, melainkan untuk belajar cara terbaru memberi makan cucu agar terhindar dari stunting. Program bertajuk Sekolah Nenek ini digelar tim pengabdian kepada masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Jambi bersama Puskesmas Rawasari pada Sabtu, 18 Juli 2026.
BACA JUGA:RPK PT Kaswari Unggul Bantu Padamkan Kebakaran Lahan Warga di Dendang
Sebanyak 35 lansia pengasuh berusia 50 hingga 78 tahun mengikuti kegiatan tersebut. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat target awal panitia yang hanya 15 peserta.
Nenek, Penentu Menu Harian Cucu
Selama ini program pencegahan stunting umumnya menyasar ibu hamil, ibu balita, dan kader Posyandu. Padahal, dalam banyak keluarga di Jambi, neneklah yang sehari-hari mengasuh cucu saat ibu bekerja. Nenek kerap menentukan kapan bayi mulai diberi makan, apa menunya, dan apakah bayi cukup diberi ASI.
BACA JUGA:PT Kaswari Unggul Bagikan Masker Gratis untuk Warga Dendang di Tengah Asap Karhutla
Masalahnya, sejumlah mitos gizi lama masih diwariskan turun-temurun. Contohnya, anggapan bahwa pisang mengurangi ASI, bayi boleh diberi makan sebelum enam bulan, anak gemuk pasti sehat, atau bubur encer tanpa lauk sudah cukup. Ibu muda yang paham ilmu gizi terbaru sering memilih diam karena sungkan membantah orang tua.
Wilayah Puskesmas Rawasari dipilih karena beban gizinya cukup berat. Data Dinas Kesehatan Kota Jambi per November 2025 mencatat 103 kasus berat badan balita tidak naik, tertinggi di Kota Jambi, serta 25 ibu hamil dengan kurang energi kronis.
Belajar Tanpa Merasa Disalahkan
Materi disampaikan dengan pendekatan yang menghargai pengalaman para nenek. Fasilitator tidak menyalahkan kebiasaan lama, tetapi mengajak peserta membandingkan zaman. Dulu informasi gizi terbatas sehingga mitos wajar dipercaya. Kini ilmu gizi menawarkan cara yang lebih baik untuk kesehatan cucu.
Sesi dibuka dengan analogi gunung es. Tubuh pendek hanyalah puncak yang tampak di permukaan. Di bawahnya tersembunyi gangguan perkembangan otak, daya tahan tubuh yang lemah, dan gangguan metabolisme akibat kurang gizi dalam waktu lama.
Tim FKIK Universitas Jambi menyampaikan materi -Ist-
Peserta juga dikenalkan pada makanan pendamping ASI (MP-ASI) dari bahan lokal yang mudah dibeli di pasar Jambi, seperti ikan patin, telur puyuh, dan pucuk ubi. Materi lain membahas peran nenek dalam mendukung ibu menyusui, termasuk cara mengenali tanda bayi cukup ASI.
Skor Pengetahuan Naik
Sebelum dan sesudah kegiatan, peserta mengerjakan kuesioner 15 soal yang dibacakan perlahan oleh tim. Rata-rata skor pengetahuan naik dari 70,3 menjadi 85,0 pada skala 100.