Oleh : Wida Nurfauzah, Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian masyarakat setelah terus mengalami penguatan terhadap rupiah. Bagi sebagian orang, kenaikan dolar mungkin terlihat sebagai persoalan ekonomi yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun kenyataannya, dampak dolar sangat terasa bagi masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. Ketika dolar naik, harga kebutuhan pokok ikut meningkat, biaya hidup semakin mahal, dan daya beli masyarakat perlahan menurun.
Belakangan ini, nilai tukar rupiah sempat berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp16.500 per dolar AS. Kondisi tersebut memunculkan berbagai kekhawatiran di tengah masyarakat. Meskipun Presiden Prabowo Subianto pernah menyampaikan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar secara langsung, kenyataannya dampak kenaikan dolar tetap dirasakan rakyat kecil melalui naiknya harga barang dan kebutuhan sehari-hari.
Indonesia masih bergantung pada barang impor untuk memenuhi berbagai kebutuhan, seperti bahan baku industri, obat-obatan, alat elektronik, hingga pangan tertentu. Ketika dolar menguat, biaya impor otomatis meningkat. Akibatnya, produsen menaikkan harga barang di pasaran karena biaya produksi ikut bertambah. Inilah yang membuat masyarakat mulai merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Dampak tersebut terlihat dari naiknya harga beberapa bahan pangan dan kebutuhan rumah tangga. Kedelai impor misalnya, mengalami kenaikan harga karena sebagian besar kebutuhan kedelai Indonesia masih berasal dari luar negeri. Akibatnya, harga tahu dan tempe ikut naik. Gandum untuk produksi mi instan dan roti juga masih bergantung pada impor sehingga harga produk turunannya ikut terdampak ketika dolar menguat.
Kenaikan dolar juga memengaruhi harga barang elektronik dan kebutuhan pendidikan. Harga telepon genggam, laptop, hingga perlengkapan sekolah menjadi lebih mahal karena sebagian besar komponennya berasal dari luar negeri. Bagi masyarakat dengan penghasilan tetap, kondisi ini tentu semakin memberatkan karena pengeluaran meningkat sementara pendapatan tidak bertambah.
Selain masyarakat biasa, pelaku usaha kecil dan UMKM juga ikut merasakan dampaknya. Banyak pelaku usaha harus membeli bahan baku dengan harga lebih tinggi. Di sisi lain, mereka kesulitan menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat sedang menurun. Akibatnya, keuntungan usaha semakin kecil dan tidak sedikit pelaku usaha yang mengalami penurunan pendapatan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan dolar bukan hanya tentang angka di pasar keuangan, tetapi berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Ketika harga kebutuhan naik, masyarakat harus mengurangi pengeluaran dan lebih berhati-hati dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika situasi terus berlangsung, tekanan ekonomi terhadap masyarakat kecil tentu akan semakin berat.
Karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah yang tepat untuk mengurangi dampak kenaikan dolar terhadap masyarakat. Salah satunya dengan memperkuat produksi dalam negeri agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor. Selain itu, pengawasan terhadap harga kebutuhan pokok juga harus diperketat agar tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan berlebihan.
Pemerintah juga perlu memperkuat bantuan sosial dan perlindungan terhadap masyarakat kecil agar daya beli tetap terjaga. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, masyarakat membutuhkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat, bukan sekadar penjelasan tentang kondisi ekonomi global.
Pada akhirnya, kenaikan dolar memang tidak bisa sepenuhnya dihindari karena dipengaruhi situasi ekonomi dunia. Namun dampaknya terhadap masyarakat dapat dikurangi jika pemerintah mampu menjaga kestabilan ekonomi dan memperkuat sektor produksi dalam negeri. Sebab, meskipun masyarakat tidak menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari, dampaknya tetap terasa hingga ke dapur rumah tangga.(*)
(Penulis Wida Nurfauzah adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi)