Oleh: Dr. drh. Jafrizal,MM *
Ketika data Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 dirilis, publik mungkin hanya melihatnya sebagai angka statistik tahunan. Namun bagi daerah, angka tersebut sebenarnya adalah cermin yang jujur: seberapa siap sebuah wilayah bersaing dalam ekonomi modern.
Rata-rata nasional IDSD berada pada angka 3,50, dengan rentang skor provinsi antara 2,44 hingga 4,16. Jika kita menengok Pulau Sumatera, gambarnya cukup menarik. Beberapa provinsi mencatat skor relatif tinggi, seperti Sumatera Barat (3,79), Aceh (3,61), dan Bengkulu (3,60). Namun sebagian lainnya masih berada di bawah rata-rata nasional, seperti Riau (3,40), Kepulauan Bangka Belitung (3,30), bahkan Sumatera Utara (3,22).
Di tengah peta tersebut, Jambi berada pada skor 3,46, sedikit di bawah rata-rata nasional. Posisi ini menunjukkan satu hal: Sumatera memiliki potensi besar, tetapi kekuatan ekonominya belum sepenuhnya terkonversi menjadi daya saing yang kuat.
Pertanyaannya sederhana namun penting: mengapa wilayah yang kaya sumber daya seperti Sumatera belum mampu menjadi pusat daya saing nasional?
Paradoks Kekayaan Alam
Sumatera adalah salah satu wilayah dengan kekayaan sumber daya alam terbesar di Indonesia. Perkebunan sawit, karet, batu bara, minyak dan gas, hingga potensi pertanian dan peternakan tersebar luas di pulau ini.
Namun dalam ekonomi modern, kekayaan sumber daya tidak otomatis menghasilkan daya saing tinggi. Banyak daerah justru terjebak dalam apa yang disebut para ekonom sebagai resource trap—ketergantungan pada komoditas mentah.
Sebagian besar ekonomi daerah masih bergantung pada penjualan bahan baku. Sawit dijual sebagai CPO, karet sebagai bahan mentah, ternak sebagai hewan hidup, dan produk pangan tanpa pengolahan lebih lanjut. Nilai tambah justru dinikmati daerah atau negara lain yang memiliki industri hilir lebih kuat.
Akibatnya, ekonomi daerah sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas global. Ketika harga naik, pertumbuhan melonjak. Namun ketika harga turun, ekonomi daerah ikut melemah.
Inilah paradoks yang masih dihadapi banyak wilayah di Sumatera.
Daya Saing Tidak Dibangun dengan Beton Saja
Selama ini pembangunan daerah sering identik dengan pembangunan fisik: jalan tol, pelabuhan, atau kawasan industri. Infrastruktur memang penting, tetapi daya saing daerah tidak hanya dibangun dengan beton dan aspal.
Dalam kerangka IDSD, daya saing daerah dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: