Saat mengelola kebun secara mandiri, produksinya menurun drastis. Sebelumnya, ia bisa mencapai 6–7 ton per bulan dari dua hektare lahan, namun turun menjadi hanya 2–3 ton. Penurunan ini berdampak besar pada pendapatan keluarga. “Dulu saat masih bermitra, rata-rata bisa 6–7 ton per bulan. Setelah dikelola sendiri, paling banyak hanya 2–3 ton. Pendapatan kami terpangkas setengah, itu masa yang sangat sulit,” ungkap Umar.
Bagi Umar, keputusan kembali bermitra dibangun atas dasar kepercayaan. Ia melihat bagaimana perusahaan sebelumnya mengelola operasi secara transparan dan memberikan hasil maksimal. Kepercayaan ini menjadi fondasi hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan.
Kemudahan Akses dan Dukungan Perusahaan
Program PSR yang dijalankan PT KDA memberikan berbagai bentuk dukungan, termasuk akses bibit unggul Dami Mas, pupuk beserta jadwal pemupukan, serta panduan praktik budidaya sawit berkelanjutan.
Perusahaan juga membantu proses administrasi yang biasanya rumit dan memakan waktu, seperti pengumpulan sertifikat tanah, fotokopi surat kepemilikan lahan, kartu keluarga, dan KTP.
Melalui PSR, petani menerima dukungan dana dari BPDP berupa hibah Rp30 juta per hektare, maksimal empat hektare per petani, untuk mendukung peremajaan sawit. Dana yang dikelola melalui kelompok tani atau koperasi ini mencakup bibit bersertifikat, persiapan lahan, pupuk, dan pelatihan teknis. Dukungan ini meringankan biaya tinggi peremajaan, membantu petani meningkatkan hasil, mengurangi utang, dan membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan serta menguntungkan.
Bimbingan teknis, penyediaan bibit unggul, dan pupuk juga menjadi bagian penting dari kemitraan ini. Nazarudin, Koordinator PSR di PT KDA, menjelaskan bahwa perusahaan menyediakan bibit berkualitas tinggi, bantuan agronomi dari para ahli, serta jaringan kontraktor yang membantu menekan biaya peremajaan. Pembayaran pupuk ditunda hingga pohon mulai berproduksi, sehingga petani tidak terbebani di awal.
Inisiatif ini sejalan dengan ambisi keberlanjutan PT KDA sebagai bagian dari Sinar Mas Agribusiness and Food. Tujuan perusahaan yang tertuang dalam kerangka keberlanjutan Collective for Impact mencakup pelatihan bagi 100.000 petani sawit rakyat dalam praktik pertanian yang baik pada 2035.
Harapan Petani untuk Masa Depan
Kisah serupa datang dari Atno Wadi, anggota KUD Sidodadi yang telah menjadi petani sawit sejak 1960. Seiring waktu, pohonnya menua dan produktivitas menurun. Atno ingin melakukan peremajaan, dan program kemitraan PSR PT KDA hadir tepat pada waktunya. “Kami bersyukur perusahaan memberikan solusi. Bukan hanya soal pendanaan, tapi juga pelatihan dan bimbingan. Kami belajar cara bertani sawit yang benar,” kata Atno.
Bagi Atno, kemitraan ini memberikan rasa aman. Ia tidak lagi khawatir tentang penjualan hasil panen karena perusahaan menjamin harga jual sesuai regulasi yang ditetapkan Dinas Perkebunan setempat (Disbun).
Melalui program PSR, Umar, Atno, dan seluruh anggota KUD Sidodadi memiliki harapan besar. Mereka ingin mengembalikan produktivitas kebun ke tingkat sebelumnya, bahkan melampauinya.
Harapan mereka sederhana namun penting: bibit unggul yang terjamin, ketersediaan pupuk tepat waktu, dan bimbingan berkelanjutan dari para ahli agronomi.
“Kami ingin mencapai hasil maksimal, tapi juga ingin belajar dan berkembang. Dengan dukungan perusahaan, kami yakin masa depan akan lebih cerah,” tutup Umar.(*)