JAMBIEKSPRES.CO.ID - Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Provinsi Jambi kembali mendapat perhatian serius melalui kegiatan yang digelar oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jambi. Dengan mengusung tema “Pemberdayaan UMKM Terkait Responsif Gender dan Kewirausahaan Digital”, kegiatan yang berlangsung pada Kamis (11/9) di aula DJPb Provinsi Jambi ini diikuti 64 pelaku UMKM, meningkat dari pelatihan sebelumnya yang hanya sekitar 60 peserta.
BACA JUGA:New Kijang Innova Zenix Tingkatkan Comfort, Safety, dan Layanan Real Time Connectivity
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Jambi, Tunas Agung Jiwa Brata, menegaskan bahwa digitalisasi usaha merupakan tantangan utama yang dihadapi UMKM saat ini. Untuk itu, pihaknya menghadirkan dua narasumber dari Universitas Jambi yang memiliki kompetensi di bidang kewirausahaan digital. “Harapan kami, banyak hal yang bisa diperoleh, terutama bagaimana memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan skala usaha mereka,” ungkapnya.
BACA JUGA:Perkara Terjadi di SKM BNI Palembang, Kuasa Hukum Wendy: Perkara Harusnya Diproses di PN Palembang
Menurut Tunas Agung, 90 persen sektor usaha nasional saat ini digerakkan oleh UMKM. Maka, memberikan dukungan meski dalam bentuk sederhana diharapakan dapat memberikan dampak signifikan. “Artinya, apabila kita mampu memberikan kontribusi yang relatif kecil atau sederhana seperti ini, impact-nya bisa membuat sektor UMKM tumbuh lebih signifikan,” jelasnya.
BACA JUGA:Purbaya: Enam Bank Himbara Bakal Terima Suntikan Dana Rp200 Triliun
Selain aspek digitalisasi, kegiatan ini juga menekankan pentingnya keberpihakan gender dalam pemberdayaan UMKM. Tunas Agung menekankan bahwa dunia usaha ke depan tidak boleh hanya didominasi oleh laki-laki, melainkan juga harus membuka ruang lebih luas bagi perempuan. “Peran ibu-ibu atau perempuan dalam sektor usaha sangat positif dan perlu terus kita dorong,” tegasnya.
DJPb Jambi melihat implementasi kegiatan pemberdayaan ini tidak hanya sebatas pelatihan, melainkan juga pembinaan berkelanjutan. Seiring berjalannya waktu, jumlah UMKM binaan terus meningkat, hingga kini mencapai 64 pelaku usaha. “Pertumbuhannya cukup menggembirakan. Kami menilai usaha yang memiliki kapasitas dan kesungguhan perlu diberikan pendampingan, agar mereka bisa terus berkembang,” ujarnya.
Tunas Agung menambahkan, beberapa kriteria utama dalam pemberdayaan UMKM mencakup bukti keberadaan usaha, kualitas sumber daya manusia, kegigihan dalam berusaha, serta komunikasi aktif dengan pihak pembina. “Dari situlah nanti kita akan melihat sejauh mana usaha mereka bisa kita dorong lebih jauh,” katanya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi UMKM Jambi untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi menghadapi era digital. Dengan dukungan yang responsif gender, UMKM Jambi diharapkan tumbuh inklusif, inovatif, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. (kar)