Santri Ponpes di Kota Jambi jadi Korban Bully oleh Seniornya, Alami Luka Cukup Serius hingga Dirawat di RS

Kamis 30-11-2023,20:20 WIB
Reporter : Rio Andrefami
Editor : Setya Novanto

JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID - APD (12) seorang santri di Pondok Pesantren Tawakal Kota Jambi kelas VII menjadi korban perundungan (bully) oleh dua orang seniornya.

Akibat perundungan tersebut, APD (12) mengalami luka lebam di bagian paha dan cidera di bagian kelamin sehingga membuatnya harus dilarikan ke RSUD Raden Mattaher Jambi. 

Rikarno Diwi selaku orang tua korban saat diwawancarai menerangkan, anaknya mengalami luka lebam dan cidera dibagian kelamin, karena digesek secara keras menggunakan kaki oleh seniornya. 

"Prakteknya itu mulut anak saya di tutup, tangannya dipegang, kakinya juga dipegang secara kuat dipaksa, terus kaki pelaku itu nendang kemaluan anak saya," ujarnya, Kamis (30/11) di Mapolda Jambi.

Dikatakan Rikarno, anaknya mendapatkan perundungan yang cukup parah. Pasalnya, saat korban tengah kesakitan, pelaku justru malah menginjak perut korban. 

"Luka lebam di kanan kiri paha, kemaluan sampai testisnya atau biji kemaluannya bengkak dan diperut juga," ungkapnya. 

Rikano menyebutkan, para pelaku ini bukan teman sebaya dari anaknya. Pelaku merupakan senior yang sudah lulus namun mengabdi di pondok pesantren tersebut. Pelaku tersebut ialah Rosad dan Firman. 

"Pelaku sudah lulus sekolah SMA, sedangkan anak saya masih kelas 7 SMP," sebutnya. 

Dia menerangkan, kondisi terkini korban sudah mulai membaik dan sudah bisa buang air besar, karena selama 3 hari korban tidak bisa buang air besar dan buang angin. Korban mendapatkan perawatan secara intensif. 

"Allhamdulilah sudah membaik dan sudah keluar, sekarang di Rumah Sakit Bhayangkara untuk melakukan visum," terangnya. 

APD (12) harus dibawa ke psikolog, karena menurut ayah korban, psikis sang anak terganggu. 

Rikarno menjelaskan, anaknya bukan kali pertama menjadi korban bully. Pertama kali korban mendapatkan perlakuan bully pada bulan September di asrama putra, mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan seperti didorong dan dijepit ke lemari besi. 

Disampaikannya bahwa pada kali pertama korban dibully ini, korban mengalami urat saraf belakangnya terjepit hingga bahunya bengkak. Akan tetapi, pelaku merupakan orang yang berbeda dan di tempat yang berbeda.

"Sudah sering mendapatkan perlakuan itu, cuma pihak pondok berpesan kepada murid bahwa menceritakan ke orang tua yang bagus-bagus saja yang jelek tidak usah," tambahnya. 

Pada September lalu, korban sempat ditanya soal kenyamanan ketika belajar di pondok pesantren tersebut. Namun, korban terdiam hingga menangis kepada orang tuanya. Setelah itu orang tua korban juga bertemu kepada guru sebanyak 4 guru dan 2 pamong. 

Kategori :