Sambung Jawa-Sumatera, Beda Presiden Beda Idenya Ada yang Jembatan Ada yang Terowongan

Selasa 05-09-2023,15:05 WIB
Reporter : Dona Piscesika
Editor : Dona Piscesika

JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO.ID – Sudah 4 kali ganti presiden namun jembatan penghubung dua pulau penting di Indonesia yaitu Sumatera dan Jawa tak kunjung juga dimulai.
 
Beda presiden beda ide, berbagai masukan pun muncul dari pemimpin-pemimpin Indonesia, namun tujuannya tetap satu yaitu untuk menyambung Pulau Jawa hingga menyatu dengan Pulau Sumatera.

Adapun semangat awal menyambung Jawa-Sumatera ini dimulai dari gagasan membuat  jembatan dengan nama Jembatan Selat Sunda.

Ide membangun jembatan ini sebenarnya telah dimulai sejak 63 tahun lalu tepatnya tahun 1960.

Adalah Prof. Sedyatmo, guru besar di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menggaungkan ide Jembatan Selat Sunda untuk pertamakali.

Ketika itu Prof Sedyatmo memberi nama Jembatan Selat Sunda ini sebagai Tri Nusa Bimasakti, artinya jembatan yang akan menghubungi tiga pulau sekaligus yaitu Pulau Sumatera, Pulau Jawa, dan Pulau Bali.

Dalam rencananya, jembatan Selat Sunda ini akan membentang sepanjang 31 Kilometer dengan lebar bentang sekitar 60 meter.

Tak main-main, jembatan ini ditargetkan bisa membawa berbagai jenis kendaraan, dari mobil hingga kereta api.

Secara struktur, jembatan ini rencananya akan dibangun dengan tinggi pilar yang sangat menjulang, sekitar 70 meter dari permukaan air laut.

Ide Prof Sedyatmo ini kemudian sampai juga ke telinga presiden pertama RI, yaitu Presiden Soekarno.

Soekarno kemudian meminta ITB maju selangkah lagi, membuat desain baru untuk kemungkinan versi lain berupa tunnel atau terowongan bawah laut.

Sayang, belum rampung dirancang, kepemimpinan Soekarno sudah berakhir pada tahun 1967.

Namun rupanya mimpi besar ini masih belum juga padam. Tim ITB rupanya masih melanjutkan uji desain untuk terowongan bawah laut tadi.

Tahun 1989 ITB kemudian menyerahkan hasil uji desain penghubung Selat Sunda kepada Presiden RI yang kedua yaitu Presiden Soeharto, tetap dengan nama yang sama, yaitu Tri Nusa Bimasakti.

Soeharto pun langsung tertarik. Kemudian ia memerintahkan Prof. B. J. Habibie selaku Menristek ketika itu, untuk mulai berpikir merealisasikan dan mengerjakan Jembatan Selat Sunda ini.

Sekitar tahun 1990-an tim ahli ITB pun diminta untuk melakukan kejian, tim ini dipimpin oleh Prof. Wiratman Wangsadinata dan Dr.Ir. Jodi Firmansyah.

Hasil kajian mereka kemudian membawa pada kesimpulan, kembali ke ide awal.

Setelah dikaji lagi oleh Prof. Wiratman Wangsadinata dan Dr.Ir. Jodi Firmansyah, disarankan agar pembangunan Jembatan Selat Sunda lebih layak dibanding membangun sebuah terowongan bawah laut.

Memilih dan merekomendasikan jembatan atas laut karena berbagai pertimbangan, baik dari sisi biaya, kekuatan, pertimbangan lingkungan dan lainnya.

Hari dan tahun pun berganti, gagasan untuk membangun jembatan ini kemudian terus menyala.

Hingga akhirnya dalam masa kepemimpinan Presiden RI ke 3 Susilo Bambang Yudhoyono, proses studi kelayakan Jembatan Selat Sunda kembali berproses.

Ketika itu dua pemimpin daerah yang terkait dengan Jembatan Selat Sunda diminta terlibat dalam proses pra studi kelayakan, yaitu Gubernur Lampung dan Gubernur Banten.

Dalam sebuah acara pertemuan di di Hotel Borobudur Jakarta, lima hari sebelum HUT RI ke 64 tahun 2009, kemudian pemerintah pusat mengajak serta 10 provinsi lain di Pulau Sumatera untuk terlibat.

Seiring perjalanan waktu, kemudian tahun 2005 Presiden SBY melakukan revisi terhadap Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2005.

Dalam perpres ini kemudian dibentuk kembali group untuk melakukan studi kelayakan Jembatan Selat Sunda.

Saat itu kelompok lebih komplit lagi, studi dilakukan untuk berbagai sektor, dari teknis, tata ruang hingga sektor ekonominya dan juga sosialnya.

Ketika itu ditemukan sebuah kesimpulan, bahwa ternyata untuk merealisasi proyek Jembatan Selat Sunda masih membutuhkan kajian kembali yang akan menghabiskan waktu sekitar 12 hingga 18 bulan lagi.

Dalam studi kelayakan ini, jembatan jangan dulu dipikir akan membentang sangat panjang di tengah lautan hingga 31 km, namun jembatan akan dibuat dalam beberapa rute, antar pulau, hingga akhirnya tersambung dari Jawa hingga ke Sumatera.

Setidaknya dalam studi yang dilakukan akan ada beberapa rute Jembatan Selat Sunda yang akan dibangun.

Diantaranya dari Pulau Jawa - Pulau Ular dengan panjang 3 kilometer dalam bentuk jalan layang.

Lalu Pulau Ular - Pulau Sangiang sepanjang 8 kilometer akan disambung dengan jembatan gantung atau suspension bridge.

Lalu dari Pulau Sangiang sepanjang 5 kilometer dilanjutkan dengan jalan raya darat dan juga ada rel kereta api
Rute berikutnya dari Pulau Sangiang ke Pulau Panjurit dengan panjang 8 kilometer akan dilanjutkan dengan jembatan gantung atau suspension bridge.

Dari Pulau Panjurit dilanjutkan dengan jalan darat dan juga ada rel kereta api sepanjang 7,6 kilometer
Lalu dari Pulau Panjurit menyeberang ke  Pulau Sumatra sepanjang 3 kilometer dengan akses jembatan layang (viaduct).

Hanya saja, kemudian rencana dan mimpi membangun Jembatan Selat Sunda ini kemudian tak lagi terdengar sejak masa kepemimpinan Presiden RI ke 4 yaitu Ir Joko Widodo.

BACA JUGA:Negara yang Terowongannya Terendam Banjir Diajak Bangun Terowongan IKN

Meski demikian masa pemerintahan Jokowi masih berkosentrasi pada infrastruktur di Jawa dan Sumatera.

Pemerintahan pada masa ini gencar pembangunan Jalan Tol Trans Jawa dan dimulainya konstruksi Jalan Tol Trans Sumatera.

Lantas apakah semangat membangun Jembatan Sulat Sunda masih menyala? Sama-sama kita tunggu ke depannya. (*)

Kategori :