1 Juta Mobil Listrik dalam 10 Tahun

Kamis 03-08-2017,00:00 WIB

 

JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai perkembangan mobil listrik akan sangat cepat di masa mendatang. Dalam kurun satu dekade lagi, mobil listrik akan banyak berseliweran di jalan. “Dalam waktu sepuluh tahun mobil listrik ini sudah akan banyak,” ujar JK usai membuka pertemuan internasional geothermal di Jakarta Convention Center, kemarin (2/8).

Dia menuturkan perkembangan yang pesat itu perlu dukungan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Salah satunya kebutuhan setrum untuk mobil listrik tersebut. Dia berharap pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal bisa mengambil peran signifikan. 

”Coba bayangkan kalau satu juta mobil tiap malam dicarger berapa listrik itu diperlukan itu akan terjadi dalam kurun waktu sepuuh tahun,” ujar pejabat berlatar belakang pengusaha itu.

Dia menuturkan kebutuhan listrik itu harus diusahakan sejak sekarang. Apalagi energi fosil seperti batu bara dan minyak bumi untuk pembangkit listrik semakin hari semakin habis. Energy terbarukan seperti geothermal punya potensi tinggi tapi yang dimanfaatkan baru 10-11 persen saja. ”Tahun 2025 sisa delapan tahun, sekarang untuk mencapai 23 persen perlu dua kali lipat,” kata JK.

Ada target kapasitas terpasang panas bumi sebesar 7.200 MW pada 2025. Investasi yang akan tersedot dalam dalam industri itu mencapai USD 23 miliar. 

Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia Abadi Poernomo menuturkan pihaknya siap dalam penyediaan listrik yang melimpah dalam sepuluh tahun ke depan untuk mendukung mobil listrik. Dia menyebutkan kebutuhan industri mobil ramah lingkungan itu memang sangat tergantung pada listrik yang konstan. ”Sepuluh tahun bisa saja. Tidak hanya geothermal juga,” kata Abadi.

Tapi, dia juga berharap pemerintah memberikan kepastian regulasi dalam pengembangan industry geothermal. Dia mengakui tahun ini memang agak lesu salah satunya karena aturan yang mengharuskan hubungan business to business dengan PLN

”Ini memerlukan waktu lama karena sdm PLN terbatas. Kemudian WKP (wilayah erja panas bumi) yang dirundingkan banyak sekali sehingga membutuhkan waktu yang berlarut-larut,” ungkap dia.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana menuturkan, pengembangan sumber energi untuk teknologi mobil listrik yang berasal dari geothermal belum masuk dalam pembicaraan hingga saat ini. \"Idealnya sih ada geothermal, jadi listrik, lalu listriknya untuk nge-charge mobil kan. Sampai saat ini belum kesana sih,\" ujarnya kemarin.

Rida menjelaskan, hal itu disebabkan belum adanya jumlah pasti terkait pasokan dan kebutuhan energi yang harus disiapkan untuk pengembangan teknologi mobil listrik. \"Karena kan kita nggak tahu nih listrik yang kita pakai dari geothermal itu berapa, masih nyampur,\" jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto meminta pemerintah menargetkan pengoperasian potensi panas bumi untuk listrik pada tahun 2021. \"Kita sudah niatkan untuk tahun 2021 itu sebesar 7.000 MW. Itu harus sudah mulai beroperasi. Untuk itu paling tidak kita bisa mencukupi kebutuhan lokal,\" ujarnya di The 5th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) di JCC, kemarin (2/8).

 

Pengelolaan panas bumi, lanjut Agus, juga membutuhkan komitmen dan perkembangan sektor lain seperti perencanaan, teknologi, dan investasi. \"Namun kami semuanya di DPR sudah menyiapkan diri supaya energi ini betul-betul bisa kita kejar,\" tegasnya.

Namun, meski begitu, Agus tak menampik pengelolaan panas bumi di Indonesia yang masih menemui banyak hambatan. Menurutnya, potensi panas bumi sebagai bahan listrik dapat dimanfaatkan maksimal, jika diikuti dengan sistem pengelolaan yang baik.

Tags :
Kategori :

Terkait