“Mbak,” Panggil Putri, Senja menatap Putri menunggu perkataan Putri selanjutnya, namun lama menunggu tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Putri. Tidak ada tanda – tanda Putri akan berbicara, Mbak Senja yang akhirnya bersuara.
“Kenapa Put?” Tanya Mbak Senja akhirnya, “Putri--” Putri diam sesaat sebelum melanjutkan kata – katanya, “Bang Gangga-” Putri menghentikan pekataanya, Putri tersenyum paksa dengan tatapan nanar.
“Kenapa Bang Gangga?” Tanya Mbak Senja.
“Nggak kenapa – kenapa.” Ujar Putri dengan gelengan kepala, “Putri lapar!” Ujar Putri dengan tingkah manjanya lalu bergelayut di lengan Mbak Senja.
Mbak Senja tersenyum pelan, mengusap lembut kepala Putri, “Ya udah ayo masak,” Ajak Mbak Senja. Walau, Putri tak mengatakannya Mbak Senja tahu, bagaimana perasaan adiknya itu perihal Gangga. Dan seolah tahu, Mbak Senja menatap pintu kamar Ginanja, selain Putri, ada manusia lain yang terluka lebih dalam, Ginanja.
***
Ginanja merebahkan tubuhnya di kasur, setelah membantu Mbak Senja memasak, Ginanja segera pergi ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya karena jika tidak Mbak Senja pasti akan memaksanya kembali untuk melakukan pekerjaan yang tidak ia sukai, sebenarnya pekerjaan yang akan dilakukannya tidaklah susah, hanya mengantarkan makanan yang Mbak Senja buat ke tetangga sebelah rumahnya. Namun, anak perempuan dari tetangga sebelah rumahnya benar – benar tidak waras, malas sekali rasanya jika pagi – pagi saja sudah harus bertemu orang gila.
“Ginanja!”
“Keluar Ginanja!”
“Ginanja, antar dulu makanannya!”
“GINANJA!”
Suara Mbak Senja terus terdengar dari balik pintu kamar Ginanja, sesekali dapat Ginanja dengar seperti suara tendangan dan suara pintu yang sepertinya di dobrak paksa. Ginanja menyelimuti tubuhnya selama Mbak Senja memborbardir pintu kamarnya, dan meringis sesekali saat dibayangkannya betapa sakitnya kaki Mbak Senja menendang pintu kamarnya tadi. Lambat laun, suara – suara Mbak Senja tidak lagi terdengar, membuat Ginanja bertanya apa Mbak Senja menyerah menyuruhnya, namun bukankah sangat aneh jika Mbak Senja menyerah? Ini bukan biasanya Mbak Senja. Penasaran, Ginanja mengintip dari balik selimutnya, kosong. Tidak ada siapapun. Karena merasa situasi aman, Ginanja perlahan keluar dari selimut yang membungkusnya.
“Astagfirallah!” Kaget Ginanja saat melihat Mbak Senja sudah berdiri dihadapannya dengan tangan berkacak pinggang dan wajah yang memerah.
“Ya Allah Mbak, pagi – pagi udah buat kaget aja. Gimana kalo aku punya penyakit jantung?! Tewas sudah aku gara – gara mbak.” Ujar Ginanja mengelus dadanya.
Mbak Senja tidak menggubris satupun kata Ginanja dan masih menatap Ginanja dengan wajah merah menyalang, sadar akan situasi yang terjadi, Ginanja menampilkan senyum termanisnya, sambil cengengesan tidak jelas.
“Duduk dulu Mbak,” Tawar Ginanja menarik tangan Mbak Senja, berniat medudukkan Mbak Senja di sampingnya namun belum lagi teraih sempurna tangan Mbak Senja, Ginanja sudah mendapat pukulan keras di lengannya dari Mbak Senja.