“Ginanja”
Ginanja mendengar namanya dipanggil namun dirinya tidak menemukan gerangan siapa yang memanggilnya, sekitarnya masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing – masing. Ginanja melihat sekelilingnya dan di dapatinya Serena tengah melambaikan tangan padanya. Serena tersenyum lebar padanya seolah masalah kemarin dan semalam tidak pernah terjadi di antara mereka. Melihat Serena yang begitu bersemangat, Ginanja turut melambaikan tangan membalas sapaan Serena tidak kalah semangat. Serena menghampiri Ginanja dengan berlari kecil.
“Wih…yang lagi bersih – bersih rajin banget,” Ujar Serena yang dibalas Ginanja dengan putaran bola mata malas, melihatnya Serena tertawa kecil sambil memukul Ginanja kuat tanpa ia sadari.
“Sakit Ser, kalo mukul kuat banget!” Protes Ginanja, Serena mengabaikan protesan Ginanja dan memberi air minum yang ia bawa untuk Ginanja.
“Mau nggak?” Tawar Serena yang dibalas anggukan cepat oleh Ginanja, Ginanja segera menerima air dari Serena dan menegaknya hingga tetes terakhir. Setelah Ginanja meminum airnya, Serena segera menarik Ginanja berlari menjauh dari Mushola, dan membuat pekerjaan Ginanja tertinggal begitu saja. Ginanja tidak sempat untuk meminta Serena berhenti sebab Serena menariknya begitu kuat dan tiba – tiba mengajaknya berlari kencang sehingga yang ada di pikiran Ginanja sekarang adalah berlari sejauh – sejauhnya entah untuk apa.
Ginanja terus berlari hingga Serena menarik kuat sarung Ginanja yang tersampir di lehernya, karena tarikan Serena begitu kencang, sarung yang Ginanja kenakan malah melilit lehernya dan membuat Ginanja tercekik.
“Ser- lepas Ser,” Ujar Ginanja tercekik, yang langsung dilepas Serena begitu saja, membuat Ginanja yang menahan sarung tersebut harus terpental ke depan sebab Serena melepasnya tiba – tiba.
“Ups, Sorry.” Ucap Serena melihat betapa mengenaskannya Ginanja dalam keadaan terjungkal di hadapannya, setelahnya Serena tertawa keras karena posisi Ginanja yang benar – benar patut untuk ditertawakan, Ginanja terjungkal dengan keadaan wajah yang tertupi tanah basah seperti lumpur yang Serena yakini telah bercampur dengan kotoran Sapi, melihat banyaknya Sapi yang berkeliaran di sekitar mereka.
“Ketawa terus!” Kesal Ginanja setelah bangkit dari jatuhnya yang masih ditertawakan oleh Serena.
“Ya gimana lagi kan lucu,” ujar Serena masih terus tertawa.
“Jangan ketawa banget entar nangisnya kenceng banget.” Ingat Ginanja.
“Emang bisa gitu?” tanya Serena bingung.
“Bisa,” Jawab Ginanja yakin menatap Serena serius.
“Masa?” Ragu Serena, Serena bukan sekali dua kali mendengar hal itu, hanya saja sulit rasanya mempercayainya, hanya tertawa saja dilarang, lalu mengapa saat kita menangis kencang tidak pernah dilarang malah dibiarkan? Siapa sih yang membuat mitos seperti itu, membuat orang – orang terbebani saja karena tidak bisa tertawa lepas.
“Iya…percaya.” Ujar Ginanja meyakinkan Serena. Serena menatap Ginanja bingung, mengapa laki – laki seperti Ginanja sangat mudah percaya dengan hal – hal seperti itu. Namun melihat keyakinan Ginanja, Serena menjadi ragu untuk mempertahankan pendapatnya bahwa dirinya tidak percaya. Bisa jadi hal itu memang benar, jika tidak, mengapa banyak orang yang percaya?
“Berarti ketawa yang ini balasan buat nangis kenceng tadi malam,” ujar Serena enteng menganggukan kepalanya serius.