DISWAY: Puasa Lokal

Minggu 03-04-2022,00:00 WIB

Oleh: Dahlan Iskan

Minggu, 03 April 2022

 

SAYA sudah sahur kemarin malam, tapi baru buka puasa nanti sore. Makan sahurnya tetap –istri sudah telanjur masak– tapi tidak jadi puasa: mundur, ikut pemerintah.

Heboh kapan mulai berpuasa memang kembali ramai –meski tidak seheboh kalau yang berbeda Lebarannya. Lumayan bisa sedikit melupakan kenaikan harga BBM.

Perbedaan hari Lebaran itu berat karena ada unsur ayat yang berbunyi: haram berpuasa di hari Lebaran.

Kalau sebagian sudah Lebaran, yang masih berpuasa bisa merasa dituduh berbuat haram. Tapi Indonesia punya caranya sendiri: hari itu sudah tidak berpuasa tapi Lebarannya ikut keesokan harinya.

Meski berbeda dalam memulai puasa, tahun ini perbedaan itu sudah lebih \'\'ilmiah\'\'. Sudah tidak lagi soal pakai melihat bulan atau pakai hitungan astronomi. Soal \'\'sudah bisa melihat bulan\'\' atau \'\'belum bisa melihat bulan\'\' tidak lagi penting. 

Perdebatannya sudah menyangkut 2 derajat dan 3 derajat.

Semua sudah sepakat menggunakan perhitungan astronomi. Semua sudah sepakat: kemarin itu bulan memang sudah terbit.

Hanya saja masih terlalu rendah. Baru 2 derajat. Secara mata, terbit 2 derajat belum bisa dilihat. Tapi secara ilmiah, meski baru 2 derajat bulan sudah terbit.

Perbedaannya tinggal mana yang dipegang: sudah terbit atau sudah bisa dilihat.

Saya ikut orang yang lebih pintar dari saya saja –apalagi kalau yang lebih pintar itu memulai puasanya belakangan.

Tapi sebenarnya saya punya pendapat sendiri: perlunya otonomi daerah dalam menentukan dimulainya puasa. Puasa ditentukan secara lokalitas. Demikian juga Lebaran. Jatuh pada tanggal berapanya ditentukan tidak secara nasional.

Tags :
Kategori :

Terkait