Saatnya Kebangkitan Perekonomian Jambi

Kamis 28-04-2022,00:00 WIB

Melalui Optimisme Pelaksanaan APBN Pada Triwulan I 2022

JAMBI - Memasuki Tahun 2022, kebijakan pelonggaran-pelonggaran kegiatan ekonomi dan aktivitas masyarakat mulai diterapkan berbarengan dengan proses akselerasi vaksinasi dosis III (booster). Sempat meningkat di bulan Februari, kasus positif Covid-19 di Jambi berangsur menurun di bulan Maret. Berdasarkan website Kemenkes per tanggal 18 April 2022, tingkat vaksinasi dosis pertama, dosis kedua, dan dosis ketiga di Jambi masing-masing telah mencapai 2.546.363 orang (94,8% populasi), 1.950.821 (72,6% populasi), dan 223.007 orang (8,3% populasi).

Dampak dari kebijakan pelonggaran dan akselerasi vaksinasi adalah aktivitas perekonomian yang masih kuat sehingga mencatatkan indikator-indikator perekonomian dan kesejahteraan masyarakat dengan tren yang makin positif baik secara nasional maupun secara regional. Salah satu indikatornya, yaitu pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan akan tumbuh positif mengingat adanya tren perbaikan setelah sempat tumbuh negatif di tahun 2020 sebagai dampak dari kebijakan pengetatan aktivitas masyarakat di era pandemi.

Pertumubuhan ekonomi tahun 2021 nasional ditutup di angka 3,7 (yoy) dan lingkup regional Jambi di angka 3,66 (yoy). Catatan tersebut belum menyamai capaian pertumbuhan ekonomi tahun 2019 atau sebelum pandemi berlangsung. Strategi kebijakan APBN yang antisipatif dan responsive didukung pemulihan sektor swasta akan terus mengakselerasi penguatan ekonomi. Indikator lainnya turut menunjukkan optimisme, di antaranya yaitu Nilai Tukar Nelayan (NTN) tumbuh 1,6% ke angka 140,12, NTN relatif stabil di angka 110,19, dan inflasi yang tercatat di anga 1,32% (mom).

Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Jambi, Supendi mengatakan, neraca perdaganan juga surplus USD 131,79 juta, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. “Ekspor di Jambi mengalami kenaikan yang signifikan dengan kondisi pertumbuhan sebesar 73% dominasi produk karet (25,8%). Sementara itu, Impor juga tumbuh positif 52% (yoy) dengan komoditi tertinggi berupa produk barang modal,” ujarnya saat menyampaikan siaran rilinya, Selasa (26/4).

Sampai dengan bulan Maret 2022, capaian penerimaan Rp 801,4 M yang terdiri dari Penerimaan Perpajakan sebesar Rp 659,37 M dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp142,03 M. Penerimaan Perpajakan dalam Negeri terdiri dari PPh sebesar Rp 507,53 M, PPN dan PPnBM sebesar Rp 118,53 M, PBB sebesar Rp 3,10 M, dan Pajak lainnya sebesar Rp 14,03 M. Secara sektoral, sektor yang tumbuh positif adalah Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, dan Kegiatan Jasa Lainnya. Program Pengungkapan Sukarela (PPS) mendorong peningkatan penerimaan pada PPh Final pada Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan serta Sektor Kegiatan Jasa Lainnya.

Dari sisi Penerimaan Perpajakan Perdagangan Internasional Triwulan I Tahun 2022 sebesar Rp 82,10M terdiri dari Bea Masuk sebesar Rp 1,99 M dan Bea Keluar sebesar Rp 80,11 M. Capaian Bea Masuk sampai dengan Maret 2022 mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2021 (Rp2,07 M) yang disebabkan oleh terdapat penurunan impor kacang tanah sebesar -42% (yoy) dan mainan anak-anak sebesar -61% (yoy). Meskipun demikian, terdapat peningkatan atas impor barang dari plastik seperti floor covering, kitchen ware, mug, bottle, brush dan sebagainya.

Supendi menambahakan, Melalui berbagai cara, pemerintah bertekad untuk terus hadir di tengah masyakarat. “Kebijakan APBN terus didorong untuk mampu memantik, menstimulus, menjaga, mendukung, sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan-kebijakan tersebut tentunya didasarkan pada kajian dan analisis sehingga mampu diperoleh outcome seperti yang diharapkan,” tandasnya. (*/kar)

Tags :
Kategori :

Terkait