Membidik Investasi dari Energi Bersih
Dr.M.Lucky Akbar, S.Sos, M.Si--
Oleh: Dr.M.Lucky Akbar, S.Sos, M.Si
Transisi energi kini memasuki fase baru. Ia tidak lagi hanya soal penurunan emisi dan perubahan iklim, melainkan juga terkait pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, industrialisasi, dan persaingan untuk menarik investasi global. Bagi Indonesia, peluang ini terlalu besar untuk dilewatkan.
Kabar baiknya kebutuhan investasi ini bertepatan dengan saat negara membutuhkan modal besar untuk menopang pertumbuhan. Menurut Kantor Berita ANTARA, Kadin Indonesia memperkirakan peluang investasi pada jalur transisi energi yang mencapai 3,8 triliun dolar AS hingga tahun 2050. Angka itu semakin menarik bila dibandingkan dengan rekor investasi transisi energi global sebesar 2,3 triliun dolar AS pada tahun 2025, dimana Asia Pasifik menyumbang hampir separuhnya.
BACA JUGA:Antisipasi Peredaran Narkoba, Polresta Jambi Sisir Tempat Hiburan Malam
Terkait hal tersebut, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia punya potensi untuk menggarap energi bersih tersebut, melainkan seberapa siap negara ini untuk merebut dan mempertahankan investasi tersebut dalam rangka menjaga keberlanjutan investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi dari sektor transisi energi yang saat ini dibutuhkan untuk mendukung keberlangsungan ekonomi hijau secara global.
Pasar Energi Baru
Energi bersih saat ini sedang membentuk pasar baru. Investasi mengalir bukan hanya ke pembangkit tenaga surya, air, angin, panas bumi, atau bioenergi, tetapi juga ke inovasi baterai, kendaraan listrik, jaringan transmisi, penyimpanan energi, hidrogen dan amoniak hijau, bahan bakar penerbangan berkelanjutan, serta ekonomi sirkular.
BACA JUGA:Kebakaran Hebat di Jaluko, Tiga Unit Rumah Ludes Dilalap Api
Perubahan ini sejalan dengan kebutuhan kawasan yang membutuhkan energi bersih tersebut ke dalam ekosistemnya. Menurut laporan International Energy Agency (IEA), dalam Southeast Asia Energy Outlook 2026, memperkirakan kebutuhan listrik Asia Tenggara akan lebih dari dua kali lipat hingga 2050. Investasi energi bersih di kawasan naik sekitar 60 persen sejak tahun 2015, dan total investasi energi mencapai lebih dari 100 miliar dolar AS pada tahun 2025, meski itu hanya sekitar 3 persen dari investasi energi global, jauh di bawah proporsi populasi Asia Tenggara.
Dalam hal ini, ruang untuk pertumbuhan investasi sangat besar, dan Indonesia punya modal yang relatif lengkap: potensi energi terbarukan besar, cadangan mineral kritis, pasar domestik luas, basis industri yang berkembang, dan posisi strategis di Asia Pasifik. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat potensi energi terbarukan sekitar 3.687 GW, termasuk 3.294 GW dari tenaga surya, tetapi pemanfaatan pada 2026 baru sekitar 16,33 GW. Kesenjangan ini menunjukkan ruang investasi yang luas.
BACA JUGA:Gencarkan Gerakan Gempar Door to Door, Lavita Syukur Turun Langsung Edukasi Warga Pulau Kemang
Lebih jauh, ruang tersebut mulai masuk ke dalam perencanaan konkret. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 mempunyai peluang potensi investasi sekitar Rp2.133,7 triliun untuk sektor pembangkitan, dengan estimasi nilai sekitar Rp1.341,8 triliun yang akan diarahkan ke energi baru terbarukan lewat skema Independent Power Producer (IPP). RUPTL menargetkan penambahan kapasitas 69,5 GW, dimana 42,6 GW (61 persen) berasal dari energi terbarukan dan 10,3 GW dari penyimpanan energi.
Angka-angka tersebut menunjukkan energi bersih sudah menjadi agenda investasi nyata, dan dalam perkembangannya, investasi energi bersih dapat mendorong transformasi industri secara nyata. Energi yang lebih bersih dan kompetitif menjadi penting bagi kawasan industri, pusat data, manufaktur kendaraan listrik, industri baterai, dan sektor yang mempertimbangkan jejak karbon dalam rantai pasoknya. Oleh karena itu, investasi tidak boleh berhenti pada pembangunan pembangkit; Indonesia perlu membangun ekosistem industri di belakangnya agar manfaat ekonominya lebih besar.
Menangkap Nilai Tambah
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




