Dari Riset Diabetes Jadi Bisnis Teh Rempah Sukses
Dari Riset Diabetes Jadi Bisnis Teh Rempah Sukses--
JAMBIEKSPRES.CO.ID - Kesadaran akan tingginya risiko penyakit diabetes pada anak muda Indonesia melatarbelakangi lahirnya usaha Teh Rempah di Jambi. Dimulai sejak tahun 2024 oleh seorang alumnus jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Jambi, bisnis minuman herbal ini kini sukses memikat generasi muda sekaligus menjangkau puluhan mitra di berbagai pelosok Indonesia.
BACA JUGA:All New Innova Zenix Hybrid EV Jadi Daya Tarik Utama Toyota Space 2026 di Jamtos
Ide pendirian usaha ini berawal ketika Arifah sang pemilik tengah menyusun tugas akhir (skripsi) mengenai penyakit diabetes. Dari penelitian tersebut, ia menemukan fakta terkait tingginya risiko diabetes pada kalangan remaja. "Dari situ muncul kekhawatiran aku, 'Oh ternyata di Indonesia ini orang-orang anak remaja yang memiliki risiko diabetes itu tinggi.' Aku berpikir, 'Apa nih yang menjadi penyebab hal itu terjadi?' Ternyata jajanan-jajanan yang ada di sekitar kita itu kadar gulanya melebihi batas normal," ungkap Arifah.
BACA JUGA:Diduga Korsleting Listrik, Dua Rumah di Talang Banjar Terbakar
Kekhawatiran tersebut mendorongnya melahirkan produk minuman yang tidak hanya berorientasi pada kesehatan, tetapi juga bernilai bisnis. "Seiring berjalannya waktu, Teh Rempah ini kan enggak cuman memikirkan tentang tujuan yang awal, tapi juga memikirkan omset dan lain-lain, sampai akhirnya terlahirlah Teh Rempah ini," lanjutnya.
Perjalanan bisnis Teh Rempah dirintis dari bawah. "Modal awal aku bikin Teh Rempah ini kecil ya, Kak, 2 juta. Itu memang dimulai dari peralatannya seadanya, gelasnya memang seadanya, lalu kontainernya masih kontainer bekas," tutur Arifah
BACA JUGA:Praperadilan Kematian Brigadir Eko, Kuasa Hukum Soroti Perbedaan Dokumen Penyidik
Guna mendobrak citra minuman herbal yang kerap dihindari anak muda, Teh Rempah menerapkan strategi visual dengan memanfaatkan bahan baku alami yang penuh warna. Pemilihan bahan baku seperti bunga telang (biru), bunga rosella (merah), serta rempah segar (kuning) dipadukan dengan konsep penyajian kekinian. Bahan rempah jahe, kunyit, dan lengkuas dibeli langsung dari petani lokal Jambi, sementara bunga kering didatangkan dari luar daerah. "Karena anak muda itu orang yang sangat visualistik gitu kan ya, mereka itu suka dari apa yang mereka lihat. Makanya pemilihan bahan-bahan herbal untuk Teh Rempah ini tuh menggunakan bahan-bahan yang colorful," jelas Arifah.
Ia juga berinovasi menyeimbangkan rasa rempah agar tetap ramah di lidah anak muda. "Kami berinovasi bikin rempah-rempahnya itu yang enggak terlalu berempah justru. Jadi kami lebih modifikasinya itu sama bahan-bahan yang lebih kekinian, misal dicampur lemon, dicampur susu, gitu Kak, biar anak muda tuh setidaknya mau untuk mencoba," paparnya.
Varian seperti Telang Lemon dan Telang Milk pun menjadi bestseller di kalangan remaja. Kini, dari dua cabang di Kota Baru dan Mendalo dengan empat karyawan, Teh Rempah mampu menjual rata-rata 150 hingga 200 gelas per hari, dan puncaknya bisa mencapai 350 gelas. Omzet bulanan berkisar antara Rp2,5 juta hingga Rp3,5 juta dengan laba bersih sekitar 30%.
Salah satu tantangan terbesar usaha ini adalah menyiasati naik-turunnya harga bahan baku rempah. Namun, ia memilih berkorban margin demi menjaga loyalitas pelanggan. "Harus merelakan margin biar harganya tetap stabil. Kadang owner itu harus berkorban margin, kadang marginnya tipis, kalau lagi murah marginnya tebel. Itu salah satu perjuangan aku sih untuk membangun Teh Rempah ini," tegasnya.
BACA JUGA:Yono Miliki Identitas Resmi untuk Pertama Kalinya, Warga SAD Sampaikan Syukur
Kuncinya ada pada konsistensi. "Teh Rempah ini dipercaya bukan karena dia yang paling bagus atau karena yang paling hebat, Kak, tapi karena kami konsisten untuk menjual hal yang sama dan konsisten di harga yang murah," tambahnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




