Mangkir Sidang Adat, Terduga Pelaku Perselingkuhan di Muaro Jambi Digerebek, Rumah Dirusak Massa
Mangkir Sidang Adat, Terduga Pelaku Perselingkuhan di Muaro Jambi Digerebek, Rumah Dirusak Massa--
MUARO JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID – Skandal perselingkuhan yang menyeret pria berinisial S alias Bujang di Desa Pematang Raman, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, berujung ricuh.
Sosok yang sebelumnya dikenal sebagai pelapor dalam kasus guru honorer itu kini justru menjadi sorotan setelah diduga tertangkap basah berbuat mesum dengan perempuan bersuami.
BACA JUGA:Libur Panjang Lebaran 2026, Rivera Park Jadi Pilihan Utama Masyarakat Jambi
Peristiwa itu memicu kemarahan warga. Apalagi, aksi dugaan perselingkuhan tersebut terjadi saat suami sah perempuan berinisial D tengah bekerja di luar rumah.
Informasi yang beredar cepat melalui video viral di media sosial membuat suasana desa memanas. Warga menilai perbuatan tersebut tidak hanya melanggar norma agama dan sosial, tetapi juga mencoreng adat istiadat setempat yang masih dijunjung tinggi.
BACA JUGA:Harga BBM Meroket Drastis di Inggris, Per Liternya Tembus Rp33.800
Kapolsek Kumpeh, Iptu Aris Israwan, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menjelaskan, peristiwa mencuat pada Rabu malam, 25 Maret 2026 sekitar pukul 23.30 WIB, saat digelar sidang adat di Kantor Desa Pematang Raman untuk menyelesaikan dugaan kasus perselingkuhan itu.
Namun, situasi justru semakin memanas setelah S alias Bujang tidak menghadiri sidang adat yang telah dijadwalkan. Ketidakhadiran tersebut memicu kekecewaan warga, yang menganggapnya sebagai bentuk ketidakpatuhan terhadap hukum adat.
BACA JUGA:Bakpao Gandum RoyalKueID, Pilihan Camilan Praktis yang Tumbuh Bersama Ekosistem Pemberdayaan BRI
Puncaknya, emosi massa tak terbendung. Warga berbondong-bondong mendatangi rumah S dan melakukan aksi penggerudukan. Dalam insiden tersebut, rumah milik S dilaporkan mengalami kerusakan akibat amukan massa.
Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan upaya pengamanan dan mengimbau masyarakat untuk menahan diri agar situasi tidak semakin meluas. Kasus ini juga menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu konflik sosial di tengah masyarakat desa.
"Masyarakat aktifitas seperti biasa," katanya. (wan)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




