Dari Hutan Menuju Harapan: Perjalanan Ali dan Sidarmi untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Satu keputusan, sejuta harapan. Ali tinggalkan ketidakpastian demi kehidupan yang lebih baik. -Ist-
JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Ali memulai harinya sebelum matahari terbit. Dengan galah panen dan helm di tangan, ia bersiap menuju perkebunan kelapa sawit tempat ia bekerja sebagai pemanen tandan buah segar (TBS).
Selama lima tahun terakhir, ia menjadi bagian dari tenaga kerja Sinar Mas Agribusiness and Food, peran yang ia pilih demi mencari keamanan yang lebih baik bagi kesejahteraan keluarganya.
BACA JUGA:Kontingen SMSI Provinsi Jambi Berangkat Ikuti Rangkaian Hari Pers Nasional 2026 Banten
Sebagai anggota Suku Anak Dalam (SAD), komunitas yang telah lama hidup berdampingan dengan hutan Jambi, kehidupan Ali dulu sangat bergantung pada berburu.

Sidarmi memilih mandiri, memiliki penghasilan sendiri.-Ist-
Namun dalam beberapa tahun terakhir, ketergantungannya pada hutan sering kali membawa ketidakpastian. Seiring berkurangnya satwa liar, Ali menyadari bahwa keterampilannya dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga membutuhkan sumber pendapatan yang lebih stabil.
BACA JUGA:PLTA Merangin Hidro Buka Data Penyebab Penyusutan Air Danau Kerinci
"Berburu tidak semudah dulu. Kadang kami dapat banyak, tapi sering juga satu minggu penuh tidak mendapatkan apa-apa,” kenangnya.
Saat mengetahui adanya peluang kerja di PT Kresna Duta Agroindo (KDA), ia langsung melamar dengan harapan bisa berkembang bersama perusahaan dan berkontribusi pada sesuatu yang lebih pasti. Kini ia bekerja tujuh jam sehari, enam hari seminggu, memanen buah sawit, dengan penghasilan yang bergantung pada jumlah buah yang ia kumpulkan.
“Kalau buah sedikit, tentu pendapatan berkurang. Tapi bekerja di sini, setidaknya saya punya penghasilan tetap, dan bisa pulang bertemu keluarga setiap hari,” katanya. “Itulah yang paling saya nikmati dari pekerjaan ini, waktu bersama keluarga.”
Motivasi terbesarnya jelas: kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya.
Ia memiliki tiga anak; dua masih sekolah dan satu masih balita. Bagi Ali, hari gajian setiap tanggal 6 bukan sekadar menerima upah, tetapi kesempatan untuk memastikan masa depan anak-anaknya. Ia ingin memberikan sesuatu yang berarti bagi mereka.
“Saya memilih jalan yang bisa buat anak-anak saya sekolah. Dulu orang tua saya tidak memikirkan masa depan saya. Waktu beliau meninggal, saya tidak dapat apa-apa, cuma badan ini saja. Saya tidak mau seperti itu. Pikiran saya, anak-anak saya nanti kalau saya sudah tidak ada, setidaknya mereka punya sedikit harta. Saya ingin mereka lebih maju dari orang tua mereka,” ujar Ali.
Keberanian Seorang Perempuan untuk Menentukan Jalannya Sendiri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



