DISWAY BARU

Mengawali Tahun Baru Dengan Kewaspadaan Superflu

Mengawali Tahun Baru Dengan Kewaspadaan Superflu

Arsip foto - Dua siswa menggunakan masker sebelum mengikuti pelajaran literasi di halaman Sekolah Dasar Negeri 54, Banda Aceh, Aceh, Rabu (5/11/2025). Pemerintah Aceh mengimbau pihak sekolah meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit influenza A--

JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Ketika tahun berganti, setiap orang biasanya memiliki resolusi diri, seperti ingin lebih sehat lagi, ingin lebih bugar lagi.

Namun, tantangan, untuk mewujudkan resolusi itu kini diuji, dengan terdeteksinya virus influenza A (H3N2) subclade K atau "superflu" di dalam negeri.

BACA JUGA:PELATARAN, Solusi untuk Masyarakat Dapatkan Layanan Pertanahan di Akhir Pekan

Menurut informasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025 menunjukkan bahwa subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

BACA JUGA:Al Haris Ingatkan Komut Komitmen Besarkan Bank Jambi,Tersisa Tiga Calon Ikuti Asesmen Kompetensi LPPI

Hingga saat ini, Kemenkes mencatat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak-anak.

Kendati demikian, Kemenkes juga menegaskan bahwa situasi influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam "kondisi terkendali" dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade maupun subclade influenza lainnya.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa secara global peningkatan kasus influenza A (H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring dengan masuknya musim dingin, dikutip dari antara. 

Subclade K sendiri pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A (H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.

Di kawasan Asia, subclade K telah dilaporkan di sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025. Meskipun influenza A(H3) menjadi varian dominan, tren kasus influenza di negara-negara tersebut menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.

Kemenkes, kata Prima, akan terus memperkuat surveilans, pelaporan, serta kesiapsiagaan untuk merespons perkembangan situasi influenza sesuai dinamika yang ada.

Pakar kesehatan yang juga Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan pemerintah Indonesia perlu terus menginformasikan kepada seluruh masyarakat tentang perkembangan influenza A (H3N2) subclade K untuk meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian.

Selain itu, pemerintah juga perlu terus melakukan surveilans yang ketat, meliputi jumlah kasus, berat atau ringannya gejala, hingga pola penularan. Selain itu yang juga tidak kalah penting adalah menyiapkan sarana kesehatan untuk mengantisipasi peningkatan kasus.

Kendati superflu ini mungkin akan mengakibatkan gelombang penyakit flu, tapi, menurut Tjandra, setidaknya belum mengarah ke pandemi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: