DISWAY BARU

Mengawali Tahun Baru Dengan Kewaspadaan Superflu

Mengawali Tahun Baru Dengan Kewaspadaan Superflu

Arsip foto - Dua siswa menggunakan masker sebelum mengikuti pelajaran literasi di halaman Sekolah Dasar Negeri 54, Banda Aceh, Aceh, Rabu (5/11/2025). Pemerintah Aceh mengimbau pihak sekolah meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit influenza A--

Menurut Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) itu, jika ada pertanyaan apakah penyakit ini akan jadi pandemi atau tidak, maka itu sangat tergantung dari tiga faktor.

Faktor pertama, apakah akan ada mutasi-mutasi yang lebih signifikan yang membuat H3N2 "benar-benar" baru seperti H1N1 tahun 2009? Kedua, apakah penularan dan keparahannya akan meningkat dengan tajam? Ketiga, apakah penularan antarnegara akan terjadi secara luas?

Menyikapi hal tersebut, ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh masyarakat. Pertama, jika mengalami gejala seperti flu, maka harus istirahat dan menggunakan masker agar tidak menulari orang lain. Kedua, segera konsultasi ke petugas kesehatan bila gejala yang dialami terus memberat. Ketiga, vaksinasi flu bisa menjadi pertimbangan terutama pada kelompok lansia atau mereka yang memiliki komorbid.

Menurut Prof Tjandra, vaksinasi flu tetap dapat menjadi investasi proteksi yang krusial karena efektivitasnya bisa mencapai 70 hingga 75 persen pada anak-anak dan 30 hingga 40 persen pada dewasa untuk membentengi diri dari paparan virus. Terutama pada kelompok rentan, diharapkan dapat efektif mencegah sakit berat dan rawat inap.

Perkuat Surveilans

Penguatan surveilans yang terintegrasi dan langkah cepat merespons perkembangan situasi influenza, menjadi kunci penting dalam menyikapi dinamika penyakit ini. Dengan penguatan deteksi di hulu melalui sistem surveilans yang terukur, maka pemerintah dapat mengambil keputusan berbasis data yang tepat sasaran.

Profesor Riset BRIN Bidang Epidemiologi dan Biostatistik, Prof. Masdalina Pane, mengatakan bahwa pengendalian wabah sangat bergantung pada optimalisasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). Secara teori, sistem ini bekerja ibarat radar yang memantau ambang batas epidemiologi.

Penguatan fungsi surveilans di titik-titik layanan kesehatan terpilih juga penting untuk menjaga sensitivitas deteksi kasus. Dengan data yang berkualitas, pemerintah dapat mengukur tingkat kategori varian ini secara presisi.

Namun, upaya pemerintah juga tentunya harus dibarengi dengan langkah masyarakat untuk terus menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh.

"Pastikan kualitas istirahat dan hidrasi yang cukup, penuhi nutrisi harian dengan mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung banyak vitamin dan mineral. Jangan lupa aktivitas fisik," pesan Masdalina Pane.

Meningkatkan kewaspadaan mandiri harus menjadi komitmen masyarakat sebagai bagian resolusi diri. Dengan sinergi antara surveilans dan disiplin individu, akan mampu memitigasi risiko superflu.

Meskipun tahun baru dibayangi superflu, tapi tidak perlu panik. Kemenkes sudah menegaskan bahwa kondisi terkendali. Selain itu, pengalaman kolektif bangsa Indonesia dalam menghadapi pandemi beberapa tahun lalu telah memberikan banyak pelajaran berharga yang terus mengingatkan bahwa sistem kesehatan yang tangguh juga bermula dari kedisiplinan individu.(ant) 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: