Budayakan Keamanan Siber Agar Terhindar dari Kejahatan
Security Solution Director ITSEC (PT ITSEC Asia Tbk/CYBR) Atik Pilihanto tengah memberikan penjelasan tentang keamanan siber di bidang pelayanan publik di Jakarta, Sabtu (19/4/2025). ANTARA/Ganet Dirgantoro/aa.--
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Praktisi di bidang keamanan siber, Atik Pilihanto mengingatkan pentingnya keamanan siber menjadi budaya di dalam organisasi bisnis atau pemerintahan agar terhindar dari kejahatan siber.
"Memang untuk menerapkan prinsip kehati-hatian kelihatannya kompleks dan rumit tetapi kalau sudah menjadi budaya (cyber aware) hal itu menjadi biasa," tutur Atik yang juga Security Solution Director ITSEC (PT ITSEC Asia Tbk/CYBR) di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, penerapan budaya kehati-hatian dapat memperkecil atau bahkan menutup celah-celah yang dapat dieksploitasi pihak yang tidak bertanggungjawab.
"Kalaupun terjadi insiden (terjadi gangguan terhadap sistem akibat kejahatan siber) maka investigasi menyeluruh dapat dilakukan sehingga aktivitas pelaku dapat terdeteksi dan sistem dapat segera ditangani," katanya, dikutip dari antara.
BACA JUGA:Pengendara Diduga Mabuk Tabrak Pejalan Kaki dan 21 Motor Parkir
Atik yang telah berkeliling sebagai konsultan keamanan siber di Asia Tenggara dan Timur Tengah ini membenarkan adanya perusahaan atau organisasi yang terkena serangan berulang sehingga mengalami kerugian yang tidak sedikit.
Hal ini terjadi karena setelah mengalami serangan pertama, terkadang perusahaan (organisasi), terutama di bidang pelayanan publik ingin buru-buru online padahal investigasi belum tuntas.
"Sehingga ketika layanan tersebut beroperasi, perusahaan (organisasi) tersebut rentan terkena serangan kembali," kata jebolan Program Studi Teknik Elektro di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.
BACA JUGA:Wabup Junaidi Tinjau Lokasi Banjir di Taman Rajo
Salah satu aspek pentingnya adalah melakukan uji keamanan terlebih dahulu untuk memastikan seluruh kendali keamanan dan regulasi sudah terpenuhi. Perusahaan yang bergerak di bidang keamanan siber biasanya memberikan layanan pengujian keamanan, konsultasi keamanan strategis, monitoring dan digital forensik.
"Jadi ada tiga hal yang kerap disediakan, mulai dari konsultasi keamanan siber, produk dan solusi keamanan siber dan layanan manajemen (meliputi monitoring dan respons keamanan siber)," katanya.
Atik membenarkan yang kerap terlihat dipermukaan, serangan siber banyak ditujukan pada institusi finansial.
BACA JUGA:Jabatan Kadis PMD Tanjabtim Akan Diisi Plt
Namun pada kenyataannya, ada cukup banyak juga serangan pada institusi yang terkait dengan layanan publik seperti perusahaan minyak dan gas, telekomunikasi, e-commerce, layanan sistem pembayaran, layanan transportasi, bahkan layanan kesehatan (rumah sakit).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



