Bagian 10: “Harga Untuk Sebuah Prestasi”

Bagian 10: “Harga Untuk Sebuah Prestasi”

--

“Prestasi abadi itu penghargaan dan apresiasi untuk hal yang kecilnya kadangkala tak dianggap, namun punya nilai yang begitu berarti, untuk hidup seseorang atau untuk apapun perihal bertahan”

>>>***<<<

“Lo pernah kepikaran nggak sih kalo dipikir – pikir kita itu bertahan hidup bukan buat bahagia tapi buat...?” Arjuna menggantungkan kalimatnya, tiba – tiba kepalanya kosong, ia menatap Jeje bingung. Jeje yang sedari tadi menyimak, mendegus tak habis pikir.

“Buat..?” Tanya Jeje menatap Arjuna geram sebab ia yang tak suka digantung rasa penasaran.

“Ya, buat apa ya? Kayak lo mau sesedih apapun lo tetap mastiin besok lo masih bernafas kan? Mau sedepresi apapun lo tetap masttin diri lo makan dan nggak lapar kan?” Kalimat Arjuna semakin berbelit, Jeje yang tengah pusing menyusun portofolinyo semakin pusing dibuat Arjuna yang tiba – tiba menjadi sangat filosofis.

Jeje mendiamkan Arjuna, ia kembali fokus dengan kertas gambar dihadapannya, sudah dua jam yang lalu Jeje berkutat dengan berbagai alat gambit, cat dan air juga sudah berantakan di lantai kamarnya. “Gue nyusahin ya, Je?” Tanya Arjuna tiba – tiba, ia duduk membelakangi Jeje, biasanya saat mengobrol seperti ini keduanya akan duduk berhadapan atau sampingan sembari menikmati semangkok mie atau menghabiskan camilan di lemari dapur Jeje. Karena Jeje tak ingin gambarnya dilihat sama sekali, Arjuna terpaksa menjaga keduanya matanya, walau rasa penasarannya ada di ubun – ubun. Jika saja di depannya ini bukan Jeje, Arjuna tidak akan repot – repot seperti ini.

“Lo tahu Na, kadangkala manusia yang pantas diapresiasi itu bukan manusia yang punya segudang prestasi, tapi manusia yang tau caranya menghargai.” Percakapan itu bermula setelah kedunya selesai menenoton film di bioskop, berjalan ke pintu keluar dengan masing – masing sampah bekas tangan mereka.

Arjuna menatap Jeje dengan raut wajah bingung, “Mirip gini, nih. Lo tau dari banyaknya kita yang nonton menurut lo berapa banyak yang ninggalin sampahnya didalam?” Tanya Jeje.

“Ya, banyaklah!” Jawab Jeje.

“Itu salah satu contoh, yang bersihin emang dibayar tapi bukan berarti lo bisa semena – mena gitu aja. Kita nggak tahu, yang lo pandang rendah sekarang bisa jadi yang paling berkuasa besok, yang kuat sekarang bisa jadi yang paling menyusahkan besok. Cuma dengan cara lo menghargai lo bisa bertahan diantara itu, saat lo menghargai yang lemah, satu hari nanti selemah apapun lo, lo nggak akan pernah dikhianati, saat lo berkuasa, lo bakal tahu mana yang tulus dan mana yang Cuma pura – pura. Jadi apresiasi kecil itu bentuk penhargaan yang paling abadi.”

Arjuna tersenyum kecil, ia menyenderkan tubuhnya pada Jeje yang sangat fokus pada gambarnya itu. “Je!” Arjuna memanggil Jeje dengan lebih keras, “Menurut lo gue nyusahin nggak?” Tanya Arjuna ulang, akhir – akhir Arjuna seolah merasa ia terus merepotkan banyak orang dengan kehadirannya. Dan untuk sesuatu yang terasa mengganjal hati, Jeje adalah tempat yang paling pas, walau tidak memberi solusi, Jeje mudah membuat rasa itu menjadi ringan.

“Lo tau kan manusia itu makhluk sosial?” Tanya Jeje, hela nafasnya terdengar malas meladeni Arjuna.

“Taulah!” Balas Arjuna mantap.

“Kalo gitu nggak ada salahnya buat ngerepotin banyak manusai sesekali.” Ujar Jeje santai. Arjuna mencebikkan bibirnya tak senang, rasanya belum puas pada jawaban Arjuna.

Sumber: