Bagian 7: “Semoga Kuat Sampai Resign”

Bagian 7: “Semoga Kuat Sampai Resign”

Ari Hardianah Harahap--

“Semua orang punya jalan juang, punya target masing – masing, kalo lo mau kaya bisa jadi gue cuma penge  bahagia, jadi jangan pernah bilang kita sama, karena kita ya kita, dari segiapapun udah keliatan bedanya!”

-Riana

>>>***<<<

Riana tidak memiliki teman yang banyak di kantornya, hanya sebatas mengatahui nama satu sama lain sebagai rekan kerja, bahkan sekedar untuk minum kopi atau makan siang bersama saja, hanya Sandra dan Budi sajalah yang sering mengajak Riana. Jika, tidak Riana hanya akan makan sendiri di kubikelnya atau tidak makan sama sekali. Ada banyak faktor mengapa Riana dan rekan kerjanya tidak terlalu akrab, padahal 24/7 mereka selalu bersama, pertama waktu kerja mereka yang begitu padat membuat mereka memilih untuk menggunakan waktu luang mereka pada orang – orang yang nantinya mereka butuhkan, Riana bukannya tak memiliki kualitas atau potensi, namun orang – orang sepertinya tahu dengan sangat baik, berharap sama Riana samalah dengan omong kosong, Riana terlalu sibuk dengan dunianya. 

“Capek,” Keluh Riana, padahal ia baru saja menduduki meja kerjanya, bahkan belum terhitung lima menit ia sampai di kantornya, komputer kerjanya bahkan masih memproses layar desktop, dan Riana sudah mengeluhkan hari yang belum seperempatnya ia jalani dengan kata melelahkan.

“Masih pagi udah ngeluh capek aja neng?” Celutuk Maya, rekan kerja Riana yang baru saja datang. Riana hanya menggelengkan kepalanya lemas, tidak terlalu bersamangat menanggapi Maya.

“Resign aja kalo capek, Na.” Saran Maya lagi yang langsung dilirik sinis oleh Riana, “Lo doain gue jelek banget, belum tergapai rekening 10 milyar gue, jadi belum bisa resign.” Ujar Riana, ia memencet sembarang mouse komputernya, menunjukkan gelagat bahwa ia bosan dengan rutinitas yang selalu sama.

“lagian nih lingkungan kerja toxic banget sumpah, eh tapi enggak sih semenjak bos baru datang, kayak berubah aja gitu pelan – pelan.” Lanjut Maya yang dibalas tatapan bingung oleh Riana.

“Apanya yang berubah?” Tanya Riana.

“Kita punya waktu lebih fleksibel, lebih enjoy sama kerjaan kita, bahkan sekarang banyak rekan – rekan kita yang udah mulai makan bareng, padahal biasanya kita semua itu sibuk dengan dunia kita sendiri, sampe ngga berani ngobrol atau tegur sapa kalo di jam kerja, gue jadi pengen lebih lama disini.”

“Memangnya lo mau kemana?” Tanya Riana, Maya belum sempat menjawab sebab kedatangan Reno.

“Widih…..karyawan gue rajin banget pagi – pagi udah stand by.” Ujar Reno jumawa yang dibalas tawa oleh Maya dan wajah biasa saja oleh Riana.

“Cewek, senyum dong!” Goda Reno mencolek dagu Riana, yang dibalas Riana dengan delikan sebal.

“Apasih pegang – pegang, bukan muhrim!” Kesal Riana, Reno mengedikkan bahunya, mengejek Riana yang terus saja ditertawai oleh Maya.

Sumber: