Bagian 17: “Kapten Kapan Pulang? Abang Rindu”

Bagian 17: “Kapten Kapan Pulang? Abang Rindu”

Ary--

Bintang malam samapaikan padanya

Aku ingin melukis sinarmu di hatinya

Embun pagi katakan padanya

Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya

-Kerispatih, Lagu Rindu

֍♠♠♠♠֍

“Padahal kita sudah tau, diantara jumpa aka nada pisah. Padahal sudah dari jauh hari bersiap untuk dukanya, ternyata sakitnya masih sama saja.”

-Aji rindu kapten, sekarang!


yamaha--

>>>***<<<

Deburan ombak kian deras, dinatara bebatuan yang berdiri tegap, ada Enza dan Aji yang tengah menatap laut, langitnya kini Jingga padahal rasanya baru tadi langit itu masih cerah dengan warna biru muda. Udara juga semakin terasa dingin, kaki yang tadinya tenggelam diantara air laut, mereka putuskan untuk menyelesaikannya. Lambat laun suasana yang tadinya temeram kini berubah bak kota metropolitan, lampu – lampu dengan warna menguning hidup satu demi satu, memberi pencahayaan pada tiap sudut laut yang mereka singgahi.

“Abang, Kapten bakal bahagia nggak ya disana?” Enza menatap langit dengan raut bertanya – tanya, sedang sang empu yang ia ajak bicara tidak berkata – apa, sebab pikirannya yang jauh berkelana. Keterdiaman panjang terjadi diantara mereka, Enza berdecak sebal, menyentuh bahu Aji pelan.

“Abang!” Panggil Enza, Aji berkedip menatap Enza dengan tatapan bingung.

“Hah?”

“Ish, aku nanya, makanya kalo aku ngomong di dengerin dong!”

“Ya mana gue tau kalo lo ngomong bocil!”

“Makanya dengerin! Ini aku mau nanya, kapten bakal bahagia nggak disana?!” Kesal Enza.

Aji mengangkat kedua bahunya, “mana ada orang mati yang bahagia, kesiksalah!” Cetus Aji.

“Tapi kan kapten orang baik!”

“Ya terus lo pikir manusia yang baik tu bakal bebas dari dosa?!” Sewot Aji.

“Kasian dong kapten!” Prihatin Enza, yang dibalas dengusan malas oleh Aji.

“Namanya Ajal, kalo lo mau tanya, nyusul sana!”

Enza menepuk paha Aji keras, “Sembarangan kalo ngomong!”

“Ya elu sih!”

Enza memutuskan untuk beranjak dari batu yang ia duduki bersama Aji,”Dahlah gue males ngomong sama orang stress kayak abang!” Kesal Enza meninggalkan Aji sendirian. Aji hanya melirik kepergian Enza sekilas, kemudian kembali sibuk dengan pikirannya.

Hari ini tepat hari kematian kapten, waktunya kunjungan Aji menemui laut. Tidak ada yang spesial, sebab biasanya di setiap tahunnya ia akan sibuk mencari kerang dengan kapten, menambah lokasi kerang kapten di etalase ruang kerja miliknya. Namun, kini tidak ada lagi. Bahkan satu – satunya koleksi kerang kapten yang tertinggal hanya kalung mungil milik Aji.

Aji mengamati kalungnya, ia ukur senyum manis yang miris, sebab kenangan yang terus menyeruak, memaksa penuh hingga ke inci terkecil memorinya. Tawa kapten terngiang jelas di kepalanya, ternyata setelah sekian lama pun luka itu tak kunjung pulih ya. Aji pikir, waktu akan menyembuhkannya, ternyata sama saja. Sakitnya tetap sama seperti yang sudah lalu – lalu.

Aji kembali melihat sosok bayang kapten di sampingnya, wajahnya masih sama teduhnya, tegas dan berwibawa. “Kapten, kenapa nggak pulang?” Tanya Aji, entah ini halusinasinya atau tidak Aji tidak tahu. Tapi, tolong biarkan Aji untuk menikmati momen sesaatnya ini.

Aji dapat melihat tawa yang sangat ciri khas itu lagi, mendengernya dengan jelas, merongrong setiap sudut gendang telinganya, “Kapten pulang, kali ini kapten pulang ke rumah yang lebih lama.”

Aji tertawa pelan, matanya berair, “Kalo gitu, bawa Aji ke rumah lama kita kapten. Aji rindu, rasanya sakit.” Aji meramat dadanya, menunjukkan ekstensi keberadaan sakit tak kasat mata di tubuhnya, tidak ada luka namun terasa sangat perih, tak ada darah namun terasa sangat besar, tak ada duka namun terasa sangat parah adanya.

“Mama masih butuh abang, memangnya abang udah siap jauh sama mama?” Kapten bertanya dengan senyum teduh, tangannya mengusap surai Aji yang jatuh dan basah oleh keringat.

Aji mengangguk, “Mama juga akang pulan kan? Tapi nanti, sekarang biarin Aji lebih dulu. Masih ada Mas Arya, masih ada Enza juga.”

“Memangnya abang siap liat Enza?”

“Enza udah dewasa,”

“Kalo gitu abang yang sabar,”

“Tapi sampai kapan?”

“Bentar lagi, sabar ya abang sampai kita bisa kumpul sama – sama.”

Tangis Aji pecah, ia tenggelamkan kepalanya diantara lututnya yang ia tekuk, suara itu semakin lama di dengar semakin pilu, siapa yang tidak tahu dari rasa sakitnya ditinggalkan. Padahal setiap waktu kita harus siap menerima sebuah perpisahan, bahkan sekalipun perpisahan itu tanpa pamit yang layak. Tanpa kata sampai jumpa yang harusnya mereka katakan. Mengapa rasanya masih sangat sakit?

“Kapten pulang, Abang rindu.” Lirih Aji pelan ditengah isak tangisnya, malam itu deburan ombak menyamarkan suara pilunya diantara lalu lalangnya manusia. Sedang satu diantara manusia itu, bersembunyi seolah tak tahu apa – apa, berusaha bahagia, padahal jika ditelaah, mereka sama menderitanya. (bersambung)

 

Sumber: