Protokol Puting

Protokol Puting

Pemberian vaksin PMK perdana di Kota Bandung, Senin (27/6). (Sandi Nugraha/Jabarekspres)--

Oleh: Dahlan Iskan

Selasa, 28 Juni 2022

 

SAYA berhasil!

Saya sudah menemukan obatnya!

Itulah kata-kata pertama yang disampaikan kepada saya tadi malam. Habis magrib.

Yang menelepon saya itu, Anda sudah tahu: drh Indro Cahyono. Ia pantas bergembira. Saya juga: obat PMK sudah ia temukan. Sudah pula bisa diproduksi.

Minggu lalu pun sebenarnya Indro yakin obat temuannya itu akan manjur. Tapi ia ingin hati-hati. Ia harus menunggu hasil lab dulu. Toh Senin sore kemarin hasil lab itu bisa diperoleh.

Indro tidak hanya meneliti darah. Juga liur. Bahkan susunya. Tiga-tiganya menunjukkan hasil yang nyata: dari darah dan air liur menunjukkan sapi sudah negatif-virus. Dari air susunya diketahui CT Value-nya sudah mendekati 40.

Bandingkan dengan sebelum diobati: CT Value sapi itu hanya sama seperti saya waktu kena Covid dulu: 21.

Itu angka sebelum dan setelah 7 hari sapi diobati.

"Saya akhirnya menemukan obat PMK. Pertama di Indonesia," ujar Indro.

Ia tidak hanya menemukan obat. Tapi juga merumuskan protokol kesehatan sapi dalam menghadapi PMK. Yakni pembersihan kandang, pemberian bubur ke sapi, dan pengobatan. Yang ia bangga: protokol kesehatan itu bisa dilakukan sendiri, secara mandiri, oleh peternak. Tidak perlu kehadiran dokter. (Lihat Disway 23 Mei 2022 dan 25 Juni 2022).

Apakah temuan drh Indro ini akan lolos BPOM? Lalu bisa segera diproduksi? Bisakah temuan drh Indro mendapat perlakuan khusus? Katakanlah bisa dapat ''izin darurat'' seperti Amerika dan Tiongkok mengizinkan vaksin Covid?

Kebetulan soal obat hewan ini tidak perlu izin BPOM. Tapi harus mendapat izin BPMSOH. Anda sudah tahu singkatan apa itu: Badan Pengujian Mutu & Sertifikasi Obat Hewan. BPMSOH itu di bawah kementerian pertanian.

Indro sudah siap dengan angka-angka hasil penelitiannya. Ia seorang peneliti. Ia tahu bagaimana prosedur yang benar dalam sebuah penelitian ilmiah.

Ia segera ajukan permohonan perizinan itu.

Sejak menyadari belum ada obat PMK, Indro memang langsung berinisiatif melakukan penelitian mandiri. Tanpa dana dari pemerintah. Wabah PMK harus segera diatasi. Wabah itu sudah merata. Tidak ada lagi daerah yang nihil.

Hampir tiap hari Indro mengemudikan mobil kecilnya itu selama dua jam. Kelas mobilnya, ampuuun, 1000 cc.  Calya. Ia menuju Pangalengan. Yakni salah satu pusat sapi di Jawa Barat. "Di sini laporan resminya ada 1.000 sapi yang terkena PMK. Menurut hitungan saya lebih 2.500," ujar Indro.

Ia pun mondar-mandir dari Pangalengan ke laboratorium. Selama satu bulan terakhir. Lalu dari lab ke Pangalengan. Ia merasa tertantang harus bisa menemukan obat PMK.

Mengapa sampai meneliti susunya?

“Saya bermaksud menjadikan susu sapi sebagai vaksin untuk anak-anak mereka," ujar Indro.

Menurut hasil penelitian Indro, susu sapi yang baru saja terkena virus PMK mengandung titer antibodi yang tinggi. Maka anak-anak sapi yang masih sehat bisa diminumi susu sapi yang sudah sembuh PMK. "Apalagi anak sapi yang masih berumur 1-3 bulan belum bisa divaksin," ujarnya.

Kalau itu bisa dilakukan, Indro merasa Indonesia bisa menyelamatkan satu generasi sapi setelah wabah ini.

Hanya saja ada hambatan. Di dalam puting susu itu ada kemungkinan bersembunyi virus PMK. Maka Indro merencanakan membuat protokol pencucian puting susu. Yakni bagaimana peternak bisa merendam puting susu ke dalam cairan antiseptik. "Saya lagi meneliti. Perlu berapa menit perendaman puting itu. Sebentar penelitiannya selesai," katanya. "Perkiraan saya antara 5 sampai 10 menit. Tapi agar angkanya pasti tunggu hasil penelitian," tambahnya.

Bukan main leganya Indro bisa menemukan obat PMK ini. Ia ingat peristiwa 15 tahun lalu. Ia menerima ''hukuman'' dari atasan. Yakni saat ia melaporkan penemuannya: PMK sudah mulai masuk Indonesia.

Waktu itu Indro sudah selesai memperdalam ilmu virologi. Tapi ia merasa belum dipercaya sebagai ilmuwan. Maka ia putuskan berhenti bekerja. Ia belajar lagi. Ia dalami ilmu imunologi, patologi, fisiologi, epidemiologi, sistem diagnostik, dan biologi molekuler. Dua tahun ia di Australia.

Bahwa akhirnya Indro menemukan sesuatu untuk negara dan rakyatnya itu karena kesabarannya. Ia sudah kenyang dengan caci maki, hinaan, dan peremehan.

"Setiap kali ada wabah virus saya berpikir melihatnya dari banyak sudut keilmuan," katanya. "Virus itu sama. Di manusia, hewan, maupun tumbuhan" katanya.

Indro tipe peneliti yang tidak peduli gaji, penghasilan, dan fasilitas. "Sepanjang ada kopi satu galon penelitian jalan terus," katanya. "Apalagi kalau disertai rokok 4 pak," tambahnya.

Ia bukan orang fanatik. Ia ganti merek rokok sejak dua tahun lalu. "Gara-gara warung di depan rumah jual rokok merek itu," katanya. (*)

 

 

Komentar Pilihan Disway*

Edisi 27 Juni 2022: Jalan Zulhas

 

rid kc

Ternyata nama zulhas direstui alam. Sebentar lagi dikutuk sama petani sawit. Nama zulhas tidak direstui bangsa manusia hahaha

 

Ali Abdurrahman

Harga sawit kemitraan dari dinas hanya berlaku untuk 'kebun plasma' yang dikerjasamakan dan dikelola oleh perusahaan inti, harga sawit masyarakat (petani) selalu dibawah harga dari dinas (selisih 500-1000rupiah)

 

edi hartono

Pak DI, tolong disampaikan ke pak menteri. Harga sawit di tulang bawang lampung ada yg cuma 500/kg. Sangat mungkin juga dialami petani di daerah2 yg lain. Ceritanya minggu kemarin ada kerabat dari lampung datang untuk acara wisuda anaknya di iain sunan kalijaga. Dalam perbincangan di teras rumah, di bawah pohon mangga, dia mengeluh harga sawit jatuh, dari 3000 an/kg menjadi 500an / kg. Jatuhnya begitu dalam. Sampailah kejadian untuk kali pertama, di mana buah sawit berubah menjadi buah simalakama. Dipanen malah rugi, karena biaya panen lebih besar dibanding harga jualnya. Tidak dipanen juga rugi, karena sawit tua yg tdk dipanen akan merusak batang pohonnya. Ketika beliau pulang, saya agak kecewa, karena saya tdk sempat menanyakan tata niaga nya. Apakah dia jual lewat koperasi atau tengku-lak atau yg lain. Namun, menteri apa yg pas untuk menerima curhatan hati para petani ini? Yg bikin harga minyak turun, ada menteri perdagangan. Yg bisa bikin harga sawit naik, menteri apa ya? Tidak tahu! Pantas saja selama ini petani selalu jadi pihak yg kalah. Ketika panen, harga malah jatuh. Tidak ada menteri yg secara jelas memikirkan harga hasil panen petani. Mungkinkah hkti bisa menjembatani? Menurut saya tidak juga. Karena selama ini hkti hanya terdengar namanya. Terdengarnya bukan saat petani membutuhkan advokasi. Namun, ketika masa kampanye tiba, wkwkwk

 

doni wj

Ketika terjadi larangan ekspor, petani sawit teriak. Teriaknya 2,7 juta orang yang berpenghasilan minimal ratusan juta hingga triliunan per tahun. Juga teriaknya industri yang menyumbang ratusan triliun per tahun. Sebelumnya, ketika "diharapkan bersikap dewasa", tahu hak dan kewajiban, berhak ekspor tapi pura-pura lupa kewajiban DMO, ratusan juta pengelola keuangan rumah tangga yang teriak karena harga migor yang Nauzubillah. Teriaknya orang-orang berpenghasilan kurang dari 50 juta setahun. Kalau melihat kenyataan pasar, dari zaman kuda belajar catur juga yang lebih berkuasa adalah yang punya modal. Entah di tingkat yang kulakan, ataupun tingkatan pengekspor. Secara mendasar kondisi ini berlangsung di semua komoditi. Memang, pemangku kebijakan yang berhadapan dengan 2 kepentingan itu bagaikan tidur berselimut sarung. Ditarik ke atas kaki yang dingin. Dilorot ke bawah, badan yang dingin. Keset mah sudah di luar yang dua itu.. wkwkwkwkwk

 

Juve Zhang

Faktor inflasi yg menurunkan harga Minyak sawit, minyak bunga matahari juga sama turun. Elon Musk sampai PHK 10 ribu karyawan nya .inflasi tinggi di mana mana, pabrik Mega Tesla di Berlin dan Texas dijuluki EM seperti Tungku yg bakar uang Miliaran dolar. Sesak napas Tesla. kalau Morris Garage jauh lebih Cerdik dari EM, buat pabrik super Gede nya di Fujian terbesar se Asia, dari sana disiapkan Armada kapal Banyak dengan Tujuan Eropa, India, Australia, efeknya penjualan Mobil MG meledak , Diler di buka sangat banyak di Eropa, India, Australia. Sangat brilian idenya. Tesla kalah di Australia oleh MG, di Eropa segera menyalip Tesla. Di India Tesla tak masuk. Siapa mau beli Tesla ? Diler show room saja tak ada? Wkwkwkwk. prinsip Elon Musk rusak Beli baru jangan masuk bengkel. Di Australia tak laku, lah tak ada satupun showmroom.nya. Wwkwkwk. Morris Garage adalah nama Legenda Inggris di hidupkan dan di Globalkan oleh SAIC.Shanghai.

 

Macca Madinah

Kok saya jadi ingat acara "Wicked Tuna" di kanal NatGeo. Setiap si pemancing (nelayan) mendapatkan ikan tuna yang besar, pada akhir hari, mereka akan bawa tangkapannya ke pengepul yang mangkal di dermaga. Ikannya dipotong menjadi dua, lalu ada bagian dagingnya yang diambil oleh semacam alat bor berongga. Terlihat daging ikannya, merah, lembut, dsb. Yang saya heran, berapa pun harga yang ditetapkan oleh "hakim" itu, diterima saja oleh si pemancing, belum pernah, paling tidak di episode yang saya tonton, ada yang menolak keputusan itu. Padahal itu di AmSer lho. Apa lagi di sini.

 

Lukman bin Saleh

Resesi Amerika? Kalau bisa jangan. Negara lain sj yg resesi. Jangan Amerika. Ekonomi Amerika terlalu besar bg dunia. Jika resesi seluruh dunia akan merasakan dampaknya. Termasuk kita. Kalaupun ada resesi, cukuplah negara2 kecil macam Sri Langka. Masih bisa d tolong oleh negara2 besar. Tp kalau negara besar yg resesi. Siapa yg menolong siapa? Ayo Amerika, China, Eropa bangkit. Selamatkan ekonomi dunia...

 

LiangYangAn 梁楊安

Beberapa waktu yang lalu saya sempat diskusi santai dengan teman-teman yang mengerti masalah perekonomian. Kebijakan Pemerintah waktu itu "menyetop export CPO" kemungkinan besar dilandasi 2 faktor : 1. Kekhawatiran yang tinggi terjadinya "stagflasi" yakni inflasi disertai pertumbuhan ekonomi yang rendah dan tingkat pengangguran yang tinggi yang terjadi secara bersamaan dalam periode tertentu. Apalagi kondisi perekonomian Indonesia belumlah sepenuhnya pulih paska Pandemi Covid-19. 2. Overestimate atas harga CPO dunia yang stabil di kisaran harga yang tetap tinggi, secara rasional memang supply yang lebih rendah daripada demand akan membuat harga tetap tinggi. Apalagi Indonesia adalah salah satu eksportir terbesar CPO, dengan menyetop ekspor CPO maka supply CPO dunia akan jauh di bawah demandnya, dengan demikian harga akan tetap tinggi, dan Pemerintahpun cukup lihai menyetop eksport CPO tersebut hanya untuk kurun waktu yang singkat dan berharap segera kembali mengekspor dalam kondisi harga yang stabil tinggi. Prediksi dalam sebuah Kebijakan Ekonomi tetaplah mengandung resiko karena tidak selalu akan sejalan dengan dinamika ekonomi dunia yang unpredictable. Selain itu, sepertinya dinamika politik di dalam negeri yang seringkali mempolitisir hal-hal yang sensitif membuat pemerintah tidak berani "flow as a circumstance according to Phillips Curve"

 

LiangYangAn 梁楊安

Beberapa waktu yang lalu saya sempat diskusi santai dengan teman-teman yang mengerti masalah perekonomian. Kebijakan Pemerintah waktu itu "menyetop export CPO" kemungkinan besar dilandasi 2 faktor : 1. Kekhawatiran yang tinggi terjadinya "stagflasi" yakni inflasi disertai pertumbuhan ekonomi yang rendah dan tingkat pengangguran yang tinggi yang terjadi secara bersamaan dalam periode tertentu. Apalagi kondisi perekonomian Indonesia belumlah sepenuhnya pulih paska Pandemi Covid-19. 2. Overestimate atas harga CPO dunia yang stabil di kisaran harga yang tetap tinggi, secara rasional memang supply yang lebih rendah daripada demand akan membuat harga tetap tinggi. Apalagi Indonesia adalah salah satu eksportir terbesar CPO, dengan menyetop ekspor CPO maka supply CPO dunia akan jauh di bawah demandnya, dengan demikian harga akan tetap tinggi, dan Pemerintahpun cukup lihai menyetop eksport CPO tersebut hanya untuk kurun waktu yang singkat dan berharap segera kembali mengekspor dalam kondisi harga yang stabil tinggi. Prediksi dalam sebuah Kebijakan Ekonomi tetaplah mengandung resiko karena tidak selalu akan sejalan dengan dinamika ekonomi dunia yang unpredictable. Selain itu, sepertinya dinamika politik di dalam negeri yang seringkali mempolitisir hal-hal yang sensitif membuat pemerintah tidak berani "flow as a circumstance according to Phillips Curve"

 

agus budiyanto

Orang Jawa bilang, Zulhas kepener sunate.

 

Yoga The Iceman

saya pikir nasib Sri Lanka pun sama seperti mantan mendag Lutfi, sial saja nafasnya kurang panjang untuk menunggu kebijakan Quantitative Tightening dari the Fed. jangan2, jadwal pergantian mendag sengaja sudah diatur waktunya supaya popularitas naik tanpa pusing mikirin kebijakan?

 

alasroban

Di Eropa. Bahkan di level peternak. 1 sapi meninggal lapor ke app punya pemerintah. Semacam departement pertanian/peternakan atau yang sejenisnya. 1 ekor sapi lahir juga begitu langsung di laporkan dan di registrasi. Maka data status persediaan makanan (daging sapi) up to date terus. Dengan system supply chain management yang begitu bagusnya. Maka drama politik pergantian mentri seperti yang terjadi di Indonesia raya ini jadi berkurang. Mungkin karena terlalu PD dengan syste yang di punyai, maka berani main gertak-gertakan negara tetangga.

 

Jimmy Marta

PSI juga gk bersalah pak. Ia hanya ikut2an. Tp kena imbas yg paling berat. Petani Sawit Indonesia.

 

Agus Suryono

PKS DAN PKB.. "Harusnya Pemerintah menegut PKS", ujar Tini Lolang, petani sawit 100 hektare di Kaltim, yang lulusan Amerika.. Karena PKS membeli sawit di bawah harga Rp 1.600 seperti diharuskan Mendag. "Hah..? Kalau PKB bagaimana.., kataku. == PKS = pabrik kelapa sawit PKB = petani kaya baru..

 

 

Johannes Kitono

Selamat untuk Mendag Zulhas yang hoki 2 kali. Pertama terpilih jadi Mendag, kedua saat diangkat harga global CPO turun yang tentu berdampak terhadap harga minyak goreng domestik juga. Siapapun Presiden dan Menterinya kalau bikin keputusan jangan melihat dari satu sisi saja. Harus secara holistik. Saat mass media ramai ramai ekspose ibu ibu antri minyak goreng, Presiden dengan Sapujagat langsung stop ekspor CPO dan turunannya. Padahal saat itu harga global CPO sedang tinggi. Tinggal para petani sawit yang harus gigit jari. Harga sawit langsung turun seperti pelosotan sampai detik ini, biarpun ekspor sdh dibuka kembali. Ketika harga sawit diatas Rp.3.000,-/kg yang juga diikuti naiknya harga pupuk. Hari Senin ini ( 27/6) harga sawit per kg yang diterima PT ASP di Kab Sanggau sbb : - Buah besar Rp.1 260,- Buah kecil Rp.1.160,- dan Brondolan Rp.1.800,- sedangkan di Kab Sambas harganya rerata Rp.1.200,- dengan pemotongan berat 3,5 - 4 %. Dan harga pupuk yang sudah tinggi masih tetap tinggi. Tidak turun lagi seperti harga sawit. Untuk masalah harga ini ternyata Presiden maupun Menteri tidak berdaya melawan hukum besi. Hukum permintaan dan penawaran yang berlaku universal. Now,pemerintah harus antisipasi. Turunnya harga TBS dan naiknya Pupuk bisa membangkrutkan petani dan pengusahanya.Kalau itu terjadi bisa bisa suatu saat Indonesia harus impor minyak goreng dari Malaysia. Amit amit, semoga itu tidak terjadi !!!

 

Yea A-ina

Rasanya agak sulit dibayangkan, menghadapi mekanisme pasar cpo dunia, dengan kebijakan model semi autopilot. Data tahun 2022, industri sawit kita memenuhi pasar lokal dan eksport sejumlah 52,65 juta ton. Tahukah anda, kebutuhan konsumsi DN hanya 8,,95 juta ton, setara 16,9% saja dari total. Itupun selisih tidak seberapa dibandingkan kebutuhan

 

*) Diambil dari komentar pembaca http: disway.id

Sumber: