Sempat Terbengkalai, Makam Sultan Thaha Saifuddin di Tebo Akan Direnovasi

Sempat Terbengkalai, Makam Sultan Thaha Saifuddin di Tebo Akan Direnovasi

--

MUAROTEBO, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Makam Sultan Thaha Saifuddin yabg terltak di Ibu Kota Kabupaten Tebo bakal direnovasi akhir tahun ini. Hal tersebit disampaikan Pj Bupati Tebo, Aspan di deoan awak media Rabu (15/6) kemarin

Dirinya mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jambi telah menganggarkan untuk renovasi Makam Sultan Thaha Saifuddin yang terletak di Kota Muarotebo Renovasi tersebut kata Aspan, akan dilakukan akhir Tahun 2022 ini.

"Melihat kondisi makam yang mulai banyak yang rusak, makanya kemarin saya melapor ke Provinsi, alhamdulillah akhir tahun nanti akan direnovasi oleh pemerintah provinsi," ujar Aspan

Makam satu-satunya pahlawan nasional asal Jambi ini dibangun sejak Tahun  1995, yang terletak di pusat ibu kota Kabupaten Tebo atau berjarak sekitar 250 km dari Kota Jambi. Makam ini pun sering sekali dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat baik itu masyarakat biasa maupun para pejabat yang sengaja berkunjung untuk berziarah kie makam sultan Jambi ini.

Bukan itu saja, selain dikunjungi dan menjadi kegiatan rutin oleh pemkab Tebo pada hari-hari besar seperti hari pahlwan dan HUT Republik indonesia, makam Sultan Thaha Syaifuddin juga sering dikunjungi oleh warga dari luar Jambi seperti jawa.

Di lahan seluas kurang lebih hektar ini, selain terdapat Makam Sultan Thaha Syaifuddin juga didirikan satu buah pondopo di sampingnya. Selain itu juga pada dinding beton bagian belakang komplek makam terdapat juga lukisan tentang bagiamana perjuangan Sultan Jambi ini dalam berperang melawan penjajah. Selain itu juga di sebelah kiri bagian depan juga terdapat bangunan yang sebelumnya direncanakan untuk para pengelola makam namun tidak difungsikan.

Namun sayang, bangunan yang sangat bersejarah bagi Provinsi Jambi ini sebelumnya terlihat tidak diperhatikan bahkan terkesan diabaikan. Bangunan yang dulunya terkesan megah ini, kini seperti makam yang tidak dirawat bahkan rumput di sekitar makampun tumbuh tanpa ada yang memotongnya. Selain itu, pada bangunan makam dan pondopo terlihat bagian deknya yang sudah lapuk dan bolong akibat air hujan yang turun dari atap-atap yang berlubang.

Menurut keterangan penjaga makam, Hamdan (56) bahwa sejak Tahun 2005 saat dirinya mulai bekerja disana, belum pernah dilakukan perbaikan pada makam pahlawan nasional asal Jambi tersebut. Dirinya bahkan harus bekerja ekstra keras saat turun hujan karena lantai makam akan sangat kotor akibat bocor dibagian atap makam. Selain itu, pihak pemerintah Provinsi Jambi yang merupakan penanggung jawab atas makam tersebut juga terkesan tidak peduli karena sudah limat tahun menurut hamdan, baiaya operasional dan alat pembersih tidak pernah diberika sehingga dirinya kesulitan untuk memotong rumput dan membersihkan makam secara maksimal. Dirinya mengaku hanya menerima honor 400 ribu rupiah perbulan dari Provinsi Jambi itupun dibayar tidak rutin.

“Atap yang bocor itu sudah saya laporkan ke pihak provinsi beberapa tahun yang lalu tapi tidak ada tanggapan, bahkan perlengkapan untuk membersihkan makam saja tidak pernah diberikan lagi sejak lima tahun lalu, kami berdua dengan isteri cuma dikasih 400 ribu sebulan itupun dibayar 6 bulan sekali bahkan kadang harus menjemputnya ke Jambi di kantor yang di depan SMP 7," ujar Hamdan polos.

Jika hal ini terus dibiarkan dan tidak diperdulikan terutama oleh Pemerintah Provinsi Jambi, maka tidak mustahil Makam Sultan Jambi atau makam Pahlawan Nasional asal Jambi ini akan rusak dan hancur.

Perlu diketahui bahwa Sultan Thaha Syaifuddin adalah sultan terakhir dari Kesultanan Jambi. merupakan pahlawan nasional asal Jambi yang dilahirkan pada pertengahan tahun 1816 di Keraton Tanah Pilih Jambi. Pada tahun 1904, Belanda melakukan penyerbuan dan berhasil menyergap pasukan Sultan Thaha di dusun Betung Berdarah.

Dalam penyerbuan itu, Sultan Thaha wafat dalam usia ke 88. Jasadnya dikebumikan di Muara Tebo yang kini dijadikan sebagai Makam Pahlawan Nasional Sultan Thaha Syaifuddin. Atas jasa-jasanya, Thaha Sjaifuddin diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 24 Oktober 1977  dengan Keppres No. 79/TK/1977. Namanya diabadikan sebagai nama bandara di Jambi dan berbagai bangunan lainnya.(bjg)

Sumber: