Bagian 4: “Komplek Penuh Cinta”

Bagian 4: “Komplek Penuh Cinta”

Ary--

Kamu sangat berarti

Istimewa di hati

Selamanya rasa ini

Jika tua nanti kita telah hidup masing – masing

Ingatlah hari ini

-Project Pop, Ingatlah Hari ini

֍♠♠♠♠֍

“Kalo kata Mama, baik – baik sama tetangga. Soalnya yang paling bisa bantu kita selain kelurga cuma tetangga dekat rumah”

-Aji, cinta tetangga 2022

>>>***<<<


yamaha--

Enza kini tengah duduk diantara ibu – ibu yang tengah mengenyeli pipinya gemas, matanya sudah memerah menahan tangis, pipinya sakit sebab terlalu banyak dicubit. Namun, Enza tidak bisa mengatakan apa – apa selain menerimanya, sedangkan Aji tengah terkikik geli menahan tawa sebab melihat adiknya yang begitu pasrah. Aji memeletkan lidahnya kepada Enza sambil mengipasi daging – daging yang terbakar di atas arang.

“Rasain lo!” Ujar Aji tanpa suara, Enza yang melihantnya sungguh ingin menguliti abangnya malam ini atau biarkan Enza menyate abangnya itu hidup – hidup. Hari ini komplek perumahan tempat tinggal Aji melakukan acara yang dinamakan ‘ramah tetangga’. Komplek yang diberikan nama komplek cinta ini benar – benar penuh cinta, tidak banyak memang yang tinggal disini, hanya sepuluh anggota kelurga, dan Aji baru menyadari bahwa yang tinggal disini rata – rata merupakan single parent dengan banyak anak seperti mama, hanya ada dua kelurga yang masih lengkap dengan orangtua yang sudah lanjut usai.

“Ji, Mas Arya mana?” Tanya perempuan tomboy berambut pendek yang seusia dengan Mas Arya, Aji mengangkat bahunya, tanda tak tahu. Namanya Rosa, namun Aji lebih akrab menyapanya Rojer, sebab perempuan itu begitu menyukai film power ranger bahkan disaat usianya sudah memasuki kepala tiga. Dan entah mengapa orang – orang sekomplek turut mengikuti Aji untuk memanggil perempuan itu dengan sebutan Rojer.

Rojer mengambil kipas ditangan Aji, menunjuk Enza dengan dagunya, “Gih selamatin adek lo, nggak kasian apa sama dia anaknya udah mau nangis,” Suruh Rojer yang dibalas gedikan bahu oleh Aji. “malas ah, anaknya ndablek kalo gue kasih tau,”

Rojer memukul kepala Aji dengan kipasnya, “Manut ama yang lebih tua sana!” Kesal Rojer, diantara keluarga Aji, Rojer itu paling sayang dengan Enza walau ia mencintai Mas Arya setengah mati, yang terus berujung penolakan setiap harinya.

“Dih! Siapa lo?” tantang Aji yang langsung dipelototi oleh Rojer, “Calon kakak ipar lo, kalo Mas lo itu nggak terus jual mahal!” Sungut Rojer yang dibalas tawa kencang oleh Aji.

“Masih aja ditolak sama Mas Arya ya? Kasian..” Ejek Aji, mendapati Rojer yang akan memukulnya Aji segera mengacir menuju tempat Enza, cukup sudah adiknya itu diunyel –unyel oleh tangan bau terasi ibu – ibu komplek.

“Permisi ibu – ibu yang sudah tua, Aji ganteng datang nih!” Sapa Aji segera duduk di tengah ibu – ibu yang duduk melingkat tersebut, melindungi Enza di belakang punggungnya. Aji mendapat cubitan di salah satu pahanya, “Duh! Mpok jangan dicubit dong, sakit ini paha saya,” Ujar Aji mengusap pahanya yang merah akibat cubitan Mpok Dina, Mamanya Rojer.

“Sembarangan bilang tua – tua, kamu nggak liat mpok habis dari salon kemaren!” Ujar Mpok Dina mengibaskan rambutnya ala iklan shampo. Aji mendengus, “Sini deh Mpok coba deketen biar Aji liat.” Suruh Aji yang dituruti Mpok Dina. Aji mengamati wajah Mpok Dina dengan seksama, setelahnya manggut – manggut, menatap semua ibu – ibu di depannya bergantian, “ternyata Mpok bener,” Ujar Aji yang direspon senyuman lebar oleh Mpok Dina. “Semua ibu – ibu disini sudah tua, bahkan Mpok yang sering kesalon aja keliatan tuanya. Jelek.” Lanjut Aji yang segera diserang ibu –ibu dengan pukulan – pukulan manja. Walau pelan, jika dikeroyok, itu tetap sakit cuy.

“Si Aji ngadi – ngadi mulu,” Kali ini Tante Diandra, perempuan yang jarang datang mengikuti acara ‘ramah tetangga’ komplek mereka kini hadir dengan sutil di tangannya. Aji meringis ngeri, membayangkan sutil itu akan turut berkonstribusi nantinya jika ia kembali memancing kekesalan ibu – ibu bringas di depannya ini.

“Hilih!” Ujar Aji mencebik kesal, walau begitu tidak ada sama sekali yang benar – benar tersinggung dengan ucapan Aji, karena hafal dengan tabiat Aji yang memang biangnya masalah, lagipula karena sifat Ajilah setiap acara ini terjadi, rasanya komplek ini penuh, hangat dan penuh tawa. Enza memang menjadi primadona di kelompoknya, namun, Aji jauh lebih istemewa, sebab sadar tidak sadar setiap orang yang bertemu Aji akan memberi Aji tempat di hati mereka, sekalipun Aji bengalnya minta ampun.

“Tante – tante sama mpok – mpok sekalian ini, nanti Aji kasih tau mama yah udah uyel – uyel Enza, liat anaknya udah hampir mau nangis!” Ujar Aji, Enza tidak berkomentar, menyembunyikan dirinya di belakang punggung Aji. Aji menarik Enza berdiri, “Bay Aji mau pergi sama Enza, jangan ganggu lagi dasar ibu –Ibu tua!” Setelahnya Aji segera berlari membawa Enza sebelum setiap sandal disana dilempar kearahnya.

“Ji, tolongin Bunda sini!” Tante Rina memanggil Aji, tampak kesusahan dengan banyaknya piring yang ia bawa dari dalam rumahnya. Aji mendakati Tante Rina yang biasa ia panggil Bunda, hanya Aji yang memanggil Tante Rina dengan Bunda. Sebenarnya panggilan itu berlaku untuk semua anak – anak komplek, namun tampaknya hanya Aji yang bersedia memakainya.

“Iya Bund, tunggu bentar, Aji datang!” Aji segera menghampiri Tante Rina, menyambut piring – piring yang ada di pelukan Tante Rina tadi. “Makasih ya anak ganteng bunda!” Ucap Tante Rina mengusap kepala Aji lembut yang segera ditepis oleh tangan Mama.

“Siapa yang dipanggil anak ganteng bunda?! Itu anak aku!” Sengit Mama menatap Tante Rina tajam, Aji meringis. Enza dan Ibu – Ibu lainnya kompak mengambil popcorn yang entah dapat darimana, duduk berbaris, menonton aksi Mama dan Tante Rina yang setiap bertemu tak ayalnya seperti Anjing dan kucing, tidak ada akur – akurnya.

“Ya anak akulah, lagian Ajinya aji nggak keberatan!” Balas Tante Rina ngotot menaruh kedua tangannya di pinggang, Mama menatap Aji dengan lirikan tajam yang dibalas Aji dengan cengiran lebar, “Sejak kapan memang Aji jadi anak kamu hah?! Dia itu anak aku!” Kesal Mama menghentakkan kakinya seperti anak kecil.

Aji tidak tahu apa masalah Mama dengan Tante Rina, sejak kepindahan pertama mereka, Aji akan selalu melihat Mama yang jika tidak tensi pasti misuh misuh di dekat Tante Rina. Padahal dalam pandangan Aji, Tante Rina itu baik, bahkan Aji sering diberi bekal dan uang jajan oleh Tante Rina. Aji yang tengah menjadi perdebatan kini, beranjak pergi dengan pelan, duduk di samping Enza, turut menyaksikan pertengkaran Mama dengan Tante Rina.

“Kamu itu Janda sok centil!”

“Lah kamu sendiri nggak sadar status, sama – sama Janda aja belagu!”

“Aku Janda kelas atasnya!”

“Memangnya kamu lagi bangun dinasti Janda!”

“Ngajak ribut kamu?!”

“Kamu yang ngegas dari tadi!!”

Diantara Aji dan Enza tiba – tiba Rojer bergabung menaruh uang merah diantara ketiganya, “gue taruhan seratus ribu buat Tante Arini yang menang,” Ujar Rojer, memilih Mama si Aji bersaudara. Aji dan Enza kompak memadang satu sama lain, kemudian tersenyum penuh arti.

“Buat Mama!” Kompak Aji dan Enza mengeluarkan uang pecahan seratus ribu dua buah dari masing – masing kantong mereka. Taruhan itu dilakukan diam – diam di belakang ibu – ibu yang kini ramai melerai Mama dan Tante Rina.

“Buat Tante Rina!” Dua buah uang pecahan seratus ribu turut bergabung dalam uang taruhan Aji, Enza dan Rojer.

“Mas Arya!” Pekik ketiganya terkejut dengan kedatangan Mas Arya yang tiba - tiba, memang dasarnya Mama cukup sial memiliki anak – anak seperti Mas Arya, Aji dan Enza. Bukannya membela Mamanya mereka malah menjadikan Mamanya ajang taruhan.

Ah, satu pikiran melintas di benak Aji, tidak salah mengapa nama komplek rumahnya ini dinamakan komplek penuh cinta, sebab didalamnya memang penuh dengan cinta dengan cara mereka, dari physical attak sampai mencari untung dalam buntung, semuanya lengkap. Bahagianya tinggal diantara damainya manusia seperti mereka.

“ternyata komplek kita benaran penuh cinta ya?” Ujar Aji tersenyum menatap Mas Arya, Rojer dan Enza bersamaan, dan kompak mendapat geplakan kuat dikepalanya dari tiga orang yang memandangnya kesal.

“Pala lo penuh cinta!” Pekik ketiganya kompak. (bersambung)

 

Sumber: