Islam dan Motivasi Beramal

Islam dan Motivasi Beramal

--

Oleh: Faridl Hakim, MA

Penulis, Dosen fakultas Adab dan Humaniora

UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

Beragama atau mengamalkan praktik Agama merupakan kewajiban setiap orang yang sudah terbebani oleh Agamanya untuk menjalankan/mengamalkan. Di dalam Agama Islam merujuk kepada literatur keIslaman orang yang mengamalkan/terbebani oleh praktik Agama Islam minimal memenuhi syarat yang sudah ditentukan. Pertama Islam, mampu mengucapkan dua kalimat syahadat “Aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah SWT dan Nabi Muhammad adalah Utusan Allah” merupakan kalimat tauhid atau teologi yang selalu dipegang/simpulkan atau meyakini dalam hati secara kuat. Kedua baligh merupakan orang yang mencapai semi remaja, remaja atau bahkan dewasa yang mampu membedakan baik dan buruk, berusia limabelas tahun : meski terdapat perbedaan pendapat, untuk laki-laki sudah mengalami mimpi basa (keluar sperma saat bermimpi), untuk perempuan sudah mengalami haid (datang bulan). Ketiga, berakal merupakan manusia yang secara akal atau pikiran sehat, mampu mencerna dengan baik informasi yang ada, tidak mengalami keterbelankangan, dan mampu mencerna ilmu pengetahuan.

Islam memberikan syarat demikian agar manusia yang telah berIslam dapat melaksanakan praktik amal perbuatannya dengan sempurna, kaffah dan penuh kesadaran. BerIslam dengan sempurna, kaffah dan penuh kesadaran merupakan langkah pertama dan utama untuk mencapai keimanan tertinggi, yaitu meraih Allah SWT. Fenomena saat ini menurut penulis memberikan gambaran yang berbeda dengan capaian praktik berIslam. berIslam saat ini mengalami ketermerosokan dalam hal praktik ibadah. Terperosoknya praktik Islam yang capaiannya sampai Iman tertinggi kepada Allah SWT karena beberapa faktor. Pertama, keberIslaman manusia saat ini cenderung kuat dalam praktik tapi kurangnya Ilmu/tanpa dilandasi Ilmu pengetahuan Islam yang memadai. Kedua, kecendrungan keberIslaman manusia saat ini di pengaruhi trend dan style. Alhasil manusia sekarang berIslam tanpa meresapi keberIslaman itu sendiri bahkan hanya mencapai tujuan duniawi. Ketiga, keberIslaman saat ini, lebih menonjolkan doktrin semata tidak saling mengigatkan dan bahkan saling mencela. Akibatnya lahirnya pertikaian, ketidak seimbangan dan perkelahian.

Motivasi BerIslam di Era Milenial

 Tahun 2022 ini banyak beredar berita cetak atau pun elektronik yang mengabarkan bahwa banyaknya dari kalangan manusia Indonesia yang berpindah Agama. Misalnya orang yang beragama Islam pindah ke Agama non-Islam begitu sebaliknya. Hal ini merupakan perkara yang menurut penulis tidak sehat untuk dikabarkan sebab menurut kaca mata Islam orang tersebut tidak bersungguh-sungguh dalam memeluk Agamanya. Uniknya perpindahan Agama ini dilakukan oleh beberapa public figure. Mereka seenaknya mempertontonkan bahkan mengobral keberpindahan Agamanya begitu murah, ini sesuatu yang tidak baik. Kemungkinan banyak faktor yang menyebabkan mereka pindah Agama sebab ekonomi, pernikahan, kekecewaan terhadap keluarga dan bahkan pindah karena mencari pengetahuan mengenai Agama baru yang mereka anut.

Di Islam sebenarnya tidak ada paksaan dalam beragama, tetapi Islam memberikan tekanan supaya manusia yang telah beragama Islam mampu melaksanakan keberIslamannya dengan sungguh-sungguh. Artinya sekali memilih satu Agama, seyogyanya di amalkan sepenuh hati. Penulis setelah membaca dan melihat dilapangan memang seperti halnya, tetapi sekarang jika pindah organisasi, golongan, atau bahkan doktrin dalam lingkup satu Agama. Penulis contohkan islam sunni pindah ke Islam syiah, atau Islam berkemajuan (MD) pindah ke Islam Rahmatan Lialamin (NU) atau Islam tradisional pindah ke dalam Islam kaum perkotaan atau Islam Ahmadiyah pindah ke Islam Fundamentalis (Salafiyun) dan lain-lainnya. Penulis menyoroti persoalan ini merupakan hal ihwal yang sangat unik dan mungkin berdampak positif- plus negatif. Keberpindahan seseorang yang Islam ke Islam yang disana adanya organisasi, golongan, atau bahkan doktrin dalam lingkup satu Agama Islam merupakan cara efektif untuk menyelamatkan keimanannya tanpa mengantikan dengan keimanan yang lain. Hemat penulis mereka mencari cara aman untuk mempertahankan keimanannya.

 

Sepanjang pengetahuan penulis dan pembacaan literatur yang telah ditemukan, faktornya keberpindahan seseorang yang Islam ke Islam yang disana adanya organisasi, golongan, atau bahkan doktrin dalam lingkup satu Agama Islam dikarenakan beberapa bagian. Pertama faktor ekonomi, faktor ekonomi merupakan suatu hal yang sangat mempengaruhi seseorang untuk pindah ke suatu organisasi, banyak kasus yang memberitakan demikian, bahwa seorang berpindah kesebuah organisasi karna modus ekonomi, kekuasaan, jabatan dan lainnya. Seorang yang berpindah atau bahkan membuat organisasi baru terkadang karena popularitas dan berkeinginan menjadi seorang ketua atau pimpinan organisasi.

Kedua faktor kedudukan/jabatan, sebagain besar orang berambisi ingin menjadi nomer satu di dalam sebuah organisasi atau golongan, menjadi kesempatan sangat terbuka bagi orang yang berkeinginan menjadi ketua, pengurus atau apapun yang dapat menaikkan tingkat strata sosialnya, dapat menaikkan namanya dan mendapatkan eksistensi didalam sebuah organisasi dan lainnya. Berpindahnya seseorang kepada organisasi tertentu atau golongan tertentu meniscayakan kedudukan/jabatan secara intans. Setelah seseorang tersebut mendapatkan kedudukan/jabatan dari sebuah organisasi atau golongan lebih banyak memgembangkan organisasi atau golongan tersebut dan mungkin Ia mendapatkan keuntungan pribadi.

Ketiga faktor narsis/ambisi pribadi, bahasa yang penulis pakai adalah narsisisme, karna manusia tidak dapat dinafikan bahwa manusia makhluk sosial yang kesetiap harinya berkomunikasi, berelaborasi, gotong-royong dengan manusia lain, dengan begitu narsis menjadi suatu porsi penting dalam bersosial dengan manusia. Banyaknya orang yang memiliki sifat ini, menjadikan orang tersebut menunjukkan eksistensinya dalam sebuah wahdah komunia baik itu organisasi, LSM, atau golongan yang lain. Orang tersebut akan mendapatkan kepuasan batin plus kebahagiaan kerena keberadaannya diakui oleh sebagain pihak.

Keempat faktor kepemimpinan dan kecerdasannya serta keamanahnya, gabungan faktor-faktor ini menjadi sebuah sesuatu yang sangat berbeda dengan faktor-faktor sebelumnya. Kepeminmpinan karena orang tersebut memiliki jiwa kepemimpinan yang mumpuni sehingga ia patut menjadi pemimpin sebuah organisasi, LSM, dan golongannya. Kecerdasan menjadi modal untuk sebuah organisasi yang membawa kemajuan, ketertiban, dan power. Serta keamanahannya, sebuah sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin memimpin. Amanah adalah sebuah keniscayaan bagi para pemimpin yang menjadikan para pemimpin tersebut dapat memberikan energy positif mengenai nilai kebaikan. Terakhir, motivasi beramal pada Islam mempunyai banyak faktor-varian yang berbeda-beda terlebih zaman milenial hari ini, faktor-varian tersebut mempunyai tujuan yang lebih luas dibandingkan dengan tujuan-tujuan motivasi beramal pada Islam saat dulu, hari ini karena popularitas, kekuasaan, jabatan, eksistensi, dan lainnya. Sementara motivasi beramal pada Islam dahulu, hanya beberapa faktor-varia yaitu motivasi kepemimpinan, kecerdasan dan keamanahan. (*)

Sumber: