SUZUKI

Sidang John Kei Panas

Sidang John Kei Panas

Pengacara Minta Dibebaskan

JAKARTA - Didakwa pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati jelas bukan masalah sepele bagi John Kei. Karena itu, tim kuasa hukum John Kei mati-matian melakukan pembelaan dalam sidang lanjutan pembunuhan bos PT Sanex Steel Tan Hari Tantono di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat kemarin.

 Seperti sidang pertama sepekan lalu, suasana di PN Jakarta Pusat kemarin lumayan \"panas\". Puluhan anak buah John Kei menyesaki ruang sidang. Di sisi lain, penjagaan oleh aparat keamanan begitu ketat.

 Begitu masuk ruang sidang, John Kei langsung duduk di antara belasan pengacaranya. Secara bergantian, kuasa hukum John Kei membacakan eksepsi atas dakwaan jaksa. Intinya, mereka menolak kliennya disebut melakukan pembunuhan berencana. \"Jaksa mengakui adanya hubungan baik antara terdakwa dan korban,\" kata Indra Sahlan Lubis, kuasa hukum John Kei.

 Tudingan melakukan pembunuhan berencana tersebut dianggap tidak masuk akal. Itu dibuktikan oleh dakwaan jaksa yang menyebut Ayun \"sapaan Tan Hari Tantono\" meminta John Kei keluar dari kamarnya di Swiss Belhotel.

 \"Saat itu korban mengatakan, Panglima, mohon keluar sebentar, saya mau bicara dengan anak-anak dulu,\" kata Indra menirukan dakwaan jaksa. Atas dasar itu, dia menegaskan bahwa tidak ada dasar hukum terjadinya pembunuhan berencana. Sebab, tidak ada yang menunjukkan permusuhan antara John Kei dan Ayun.

 Dia menuding aparat tidak cermat dalam membuat dakwaan. Sebab, pokok perkelahian yang terjadi antara kliennya dan Ayun tidak terungkap. \"Yang saya dengar, korban meludahi terdakwa, lalu terjadi pertengkaran,\" tuturnya.

 Indra meminta majelis hakim tidak melanjutkan sidang. Dia juga menyebutkan keterangan terdakwa lain yang tidak menyinggung keterlibatan John Kei. \"Perkara pidana ini tidak bisa dilanjutkan,\" tegasnya.

 Keributan kecil sempat terjadi saat sidang selesai dan aparat diperintah meninggalkan pengadilan. Beberapa petugas berteriak-teriak kepada massa John Kei yang dianggap memberikan tatapan sinis. Beruntung, kedua kubu berhasil menahan amarah sehingga tidak terjadi keributan.

(dim/c5/ca)

Sumber: