Banjir Bandang Landa Padang

Banjir Bandang Landa Padang

Empat Warga Dilaporkan Tertimbun, Ratusan Diungsikan

PADANG – Prediksi sejumlah ahli, aktivis lingkungan dan mahasiswa pecinta alam bakal terjadinya banjir bandang susulan setelah bencana yang sama 24 Juli lalu, akhirnya terbukti.

Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Pauh, Kota Padang sejak pukul 14.00 WIB menimbulkan bencana banjir bandang akibat meluapnya Danau Kariang berjarak 30 meter di perbukitan hulu Sungai Batang Kuranji sekitar pukul 16.30 WIB, kemarin (12/9).

Hujan deras juga memicu longsor tiga titik lokasi di kawasan Batu Busuk. Informasi yang dihimpun Padang Ekspres di kawasan itu, lima rumah warga tertimbun longsor. Tepatnya di RT I, II dan IV. Dilaporkan empat orang warga di kawasan itu tertimbun longsor.

Keempat warga itu terdiri dari tiga orang bocah dan satu orang dewasa. Hal itu diungkapkan Si Em, 28, warga RT IV yang bersama istrinya Juli berhasil selamat. diperkirakannya tertimbun di rumahnya.

Sementara itu, banjir bandang merendam ribuan rumah warga setengah meter hingga lebih satu meter di kawasan Batu Busuk, Koto Panjang dan Limau Manih, Alai Pauh di Kecamatan Pauh, serta di Kecamatan Nanggalo meliputi daerah Gurun Laweh dan Tabing Banda Gadang. Di kawasan tersebut ratusan warga diungsikan.

Di Pauh, saat ketinggian air yang baru mencapai setinggi pinggang orang dewasa, ratusan warga berbondong-bondong pergi ke tempat ketinggian untuk menyelamatkan diri bersama keluarga.

Warga yang tinggal di Koto Panjang Pauh sempat terisolasi karena tidak bisa menyeberang ke Limau Manih akibat jembatan penghubung dua daerah itu putus saat banjir bandang Juli lalu dan belum selesai diperbaiki. Beberapa jam kemudian mereka berhasil dievakuasi tim BPBD, SAR dan Dinas Pemadam Kebakaran Padang menggunakan seutas tali.

Saat itu warga yang terdiri ibu-ibu, anak-anak, dan para orang tua tersebut bersusah payah sambil terus memegang tali. Pasalnya, saat mereka menyebarang, arus sungai Batang Kuranji sangat deras menerpa tubuh mereka.

“Kami harus mengungsi sekarang, kalau tidak kami akan terjebak seperti kejadian banjir bandang Juli lalu. Kami akan mengungsi sampai air sudah kecil, rencananya kami mengungsi di Masjid Raya Limau Manis, karena masjid itu berada di ketinggian,” ujar Neti , 50 kepada Padang Ekspres.

Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu, menyebutkan, tahun lalu dia dan keluarganya sempat terjebak banjir bandang yang sangat menakutkan dan membuat diri serta keluarga trauma hingga kini. Diakuinya, semula air sungai batang Kuranji ini masih terlihat tenang sekitar pukul 15.00 WIB, setelah itu air sungai Batang Kuranji mulai berubah warna dari bening jadi coklat, setelah perubahan tersebut hujan lebat yang disertai petir terjadi.

Warga yang melihat adanya perubahan tersebut, mengambil keputusan mengungsi secara bersama saat warga tengah bersiap, deru air semakin kuat dan warga bertambah takut.

Wanita yang tengah memegang cucunya itu, mengungkapkan, setelah mendengar deru air semakin kuat, ia dan warga lain tidak bisa menyeberang lagi akibat jembatan yang putus Juli lalu belum bisa dilalui. Setelah menunggu, tidak beberapa lama tim BPBD, Basarnas muncul dan mengatakan seluruh warga akan diseberangkan menggunakan tali tambang yang telah diikatkan di sisi kiri dan kanan sungai.

Sementara, warga yang tinggal dekat pinggir sungai di kawasan Batu Busuk seluruhnya telah mengungsi ke tempat ketinggian, tepatnya di SD Semen Padang, dekat PLTA Pauh.

Sumber: