Jokowi Pimpin Jakarta

Jokowi Pimpin Jakarta

JAKARTA - Kemenangan Joko Widodo atas Fauzi Bowo sekaligus mempermalukan partai-partai pendukung Foke. Enam partai besar yang berjanji mengerahkan kadernya memilih Foke ternyata gagal menghadang popularitas Jokowi.


\"Mesin partai tidak beroperasi maksimal, termasuk mesin PKS yang selama ini dikenal solid dan loyal. Pemilih menjatuhkan pilihan berdasarkan pertimbangan pribadi, bukan instruksi partai,\" terang Wakil Direktur Eksekutif Jaringan Suara Indonesia Fajar S. Tamin.

Fenomena tersebut bukan hal baru. Pada Pemilu 2004, Susilo Bambang Yudyono yang hanya didukung Partai Demokrat yang ketika itu hanya partai gurem berhasil memenangkan pemilu presiden. 

\"Dalam pilkada, mesin partai memang tidak cukup berperan. Pencitraan ke masyarakat yang lebih penting. Sejauh ini, Jokowi mampu menghasilkan pencitraan yang bagus,\" terangnya.

Hasil perhitungan jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia menunjukkan, pemilih calon-calon lain di putaran pertama memilih Jokowi dibandingkan Foke. Sementara, sekitar 30 persen kader PKS yang memilih Hidayat Nur Wahid di putaran pertama, ternyata memilih Joko Widodo di putaran dua. Hanya pemilih PPP yang konsisten, sekitar 80 persen, mengalihkan dukungan ke Fauzi Bowo setelah calon yang diusungnya, Alex Nurdin, gagal melaju ke  putaran dua. 

\"Kenapa PKS lebih membangkang\" Meski sama-sama berbasis Islam dan Betawi, tapi juga karena faktor tingkat pendidikan. Ini yang menjelaskan PKS masih bocor ke Jokowi. Jangankan Foke, Hidayat Nur Wahid saja tidak 100 persen dipilih PKS,\" kata Direktur Eksekutif Komunikasi Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanudin Muhtadi.

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuhro, menilai kekalahan Fauzi Bowo menunjukkan partai-partai pendukungnya tidak benar-benar serius mengarahkan kadernya memilih Foke. Besar dugaan, partai-partai tersebut tidak peduli apakah Foke menang atau kalah. 

Siti Zuhro juga yakin partai-partai pendukung Foke tidak akan merecoki kinerja Jokowi. Bahkan, partai-partai yang duduk di DPRD diyakini akan berbalik menjadi pendukung Jokowi. 

\"Partai itu pragmatis. Tidak ada musuh atau kawan abadi dalam politik, karena yang abadi dalam politik hanya kepentingan,\" terangnya.

Pendapat Siti tersebut merujuk pada kemenangan sejumlah calon kepala daerah dari independen yang berhasil menenangkan pilkada. Misalnya, Kabupaten Batubara di Sumatera Utara, Kubu Raya di Kalimantan Barat, Garut di Jawa Barat, dan Rote Nda di Nusa Tenggara Timur. \"Meski berasal dari independen, bupatinya tidak diusik-usik DPRD,\" terangn Siti. 

(dim)

 

Sumber: