Kadin Minta Pengusaha Waspada Penurunan Ekspor

Kadin Minta Pengusaha  Waspada Penurunan Ekspor

KAMAR Dagang dan Industri (Kadin) Jatim mengimbau pelaku usaha agar waspada atas penurunan ekspor. Turunnya ekspor menunjukkan bahwa gempuran produk impor mempengaruhi kondisi pasar lokal. Dampaknya, bisa menggoyahkan industri dalam negeri, terutama produsen yang produknya sejenis dengan barang-barang impor yang masuk.

Data Badan Pusat Statistik Jatim menunjukkan sepanjang Januari -Juli 2012 ekspor non migas mencapai USD  8.492,91 juta. Kalau dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu mengalami penurunan sebesar 22,14 persen yang mencapai US $ 10.907,65 juta. Sementara impor menunjukkan gejala sebaliknya. Selama Januari -Juli  2012 impor non migas Jatim mencapai USD 10.346,80 juta atau naik 10,25 persen dibanding periode yang sama tahun lalu

sebesar USD 9.384,98  juta.

Wakil Ketua Umum Kadin Jatim bidang Perdagangan Luar Negeri Isdarmawan Asrikan mengatakan kinerja ekspor menunjukkan hasil tidak menggembirakan. Menurut dia, turunnya ekspor tersebut sebagai indikasi atas ketidakmampuan bersaing dengan barang-barang impor. Apalagi, di sisi lain volume impor menunjukkan pertumbuhan signifikan. \"Nah makin tingginya impor, berarti para pengusaha harus mewaspadai produk impor yang masuk. Terutama untuk barang-barang sejenis dengan produk yang dihasilkan oleh industri dalam negeri,\" kata Isdarmawan.

Sejalan dengan gempuran produk impor tersebut, Kadin juga meminta agar pengusaha aktif mengajukan permohonan untuk mendapatkan tindakan pengamanan. Terutama kalau merasa dirugikan dengan kedatangan barang-barang impor. Sampai sekarang Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) sudah melakukan pendataan terhadap produk impor yang mengalami lonjakan signifikan. Khususnya, lonjakan barang impor yang sejenis dengan yang diproduksi oleh industri dalam negeri.

Wakil Ketua Komite Anti Dumping Indonesia Joko Wiyono mengatakan indikasi telah terjadi ancaman serius tersebut terlihat dari peningkatan impor beberapa produk, terutama produk sejenis. \"Kami melihat peningkatan impor produk tertentu sebagai sesuatu yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi produsen lokal. Apalagi, Jatim sebagai basis industri yang menyuplai kebutuhan nasional, sehingga ketika produk impor sejenis masuk maka akan mengisi pasar produsen terkait,\" ucap dia.

(res)

 

Sumber: