Nyantri, Dari 40 Hari Menjadi 1 Hari

Nyantri, Dari 40 Hari Menjadi 1 Hari

Prosesi Hari Pertama Royal Wedding GKR Hayu dan KPH Notonegoro

Hari pertama Hajad Dalem Sri Sultan HB X dimana Keraton Jogjakarta Hadiningrat menggelar Royal Wedding putri terakhirnya, GKR Hayu dan KPH Notonegoro diawali dengan acara Parakan Nyantri atau prosesi mengenalkan calon menantu kepada Keraton Jogjakarta.

 

ACARA dimulai pukul 09.00, calon mempelai laki-laki beserta orang tua dan pengikutnya dijemput abdi dalem untuk menuju Kagungan Dalem Mangkubumen melalui Kagungan Dalem Regol Magangan. Kemudian rombongan mempelai laki-laki ini berhenti sebentar untuk menggunakan alas kaki.

       Selanjutnya, mempelai laki-laki, orang tua, dan pengikutnya berjalan menuju barat ke Kagungan Dalem Mangkubumen. Disitu mempelai laki-laki diterima KRT Pujaningrat untuk menyampaikan maksud dan tujuan menjemput mempelai laki-laki, orang tua, dan pengikutnya untuk menghadap nyantri di dalam Cepuri Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

       Serangkaian prosesi Nyantri itu, menurut Prof Djoko Suryo merupakan pengenalan secara keseluruhan bagaimana budaya Keraton Jogja setiap acara pernikahan. Sehingga calon mempelai laki-laki bisa beradaptasi dengan lingkungan Keraton Jogja yang nantinya menjadi bagian dari keluarga Keraton Jogja.

       \"Rangkaian acara ini bukan sekedar menjaga tradisi budaya. Namun menjadi karakter yang kuat dimiliki oleh Keraton Jogjakarta,\" kata Djoko disela-sela acara Nyantri.

       Adapun dari Cepuri Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mempelai laki-laki, orang tua, dan pengikutnya lalu naik Kereta Pating Dalem untuk menuju ke dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melalui Kagungan Regol Magangan. Disana mempelai laki-laki dipersilahkan untuk duduk sebentar dijamu hidangan sampai menunggu acara selanjutnya, yaitu Siraman-Majang dan Pasang Tarub pengantin Putri di Kagungan Dalem Bangsal Sekar Kedaton.

       Melihat rangkaian acara begitu padat, GKR Pembayun jauh-jauh hari selalu mengingatkan GKR Hayu untuk tidak stres. Anak pertama Sultan HB X ini juga meminta kepada GKR Hayu agar fokus pada serangkaian acara selama tiga hari tersebut.

       \"GKR Hayu diminta jangan stres. Fokus saja pada acara pernikahan,\" kata GKR Pembayun.

       Kemudian pada prosesi berikutnya, masuk pada Siraman-Majang dan Pasang Tarub. Dalam kesempatan itu, GKR Pembayun menyuruh GKR Maduretna dan abdi dalem membawa air dari tujuh sumber air yang dipakai untuk upacara Siraman-Temanten laki-laki. Setelah itu air dibawa ke Gadri Kagungan Dalem Kasartiyan.

       Pada acara Siraman untuk GKR Hayu ini, diawali dengan doa. Siraman dilakukan pertama kali oleh GKR Hemas lalu dilanjutkan GKR Pembayun, GBR Ayu Murdokusumo, GBR Ayu Puruboyo, diakhiri dengan muloni wudhu. Lalu Siraman GKR Hayu telah selesai, GKR Hemas diikuti GKR Pembayun, GKR Condrokirono, para GBR Ayu dan para Garwa atau janda siteri GBP Harya, kemudian menuju Kagungan Dalem Kasatriyan untuk mengikuti Upacara Siraman \"untuk Temanten Kakung.

       Prosesi selanjutnya pukul 11.00 yaitu pengantin laki-laki di Kagungan Dalem Kasatriyan. Sampainya GKR Hemas beserta pengikutnya di Gadri Kagungan Dalem Kasatriyan, lalu dilanjutkan merias kamar Temanten Kakung atau Majang di Kagungan Dalem Gedhong Srikaton yang dilakukan GKR Condrokirono, GBR Ayu Murdokusumo, GBR Ayu Darmokusumo, dan GBR Ayu Padmokusumo. Jika selesai Majang, mempelai laki-laki duduk kembali di Gadri Kagungan Dalem Kasatriyan.

       Setelah itu acara siraman mempelai laki-laki dilaksanakan. Diawali oleh GKR Hemas di dampingi GKR Pembayun, orang tua mempelai laki-laki. Usai Siraman, serangkaian acara juga dilalui KPH Notonegoro seperti berganti busana kain Corak Sidoluhur.

Sumber: