PPIH Kirim Surat ke Kementerian Haji

PPIH Kirim Surat ke Kementerian Haji

Kurangi Kepadatan di Bandara

MASA pemulangan jamaah haji Indonesia sudah berlangsung sejak Minggu (20/10) lalu. Artinya, sampai dengan hari ini, masa pemulangan jamaah haji sudah memasuki hari yang ketiga.

Pantauan tim Media Center Haji (MCH) di lapangan, proses pemberangkatan jamaah dari Makkah menuju Jeddah berjalan dengan lancar. Hanya, kelancaran tersebut justru menyebabkan terjadinya kepadatan di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah.

Maklum, sesuai dengan kebijakan yang dikelauarkan Kementerian Haji Arab Saudi, jamaah haji Indonesia memang harus sudah diberangkatkan ke Jeddah minimal 12 jam sebelum take off.

Menurut Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah, Arsyad Hidayat, kebijakan ini diambil karena  di tiga hari pertama ini dikhawatirkan akan terjadi kemacetan di jalan atau  keterlambatan di check point, sehingga pemberangkatan jamaah dari Makkah ke Jeddah diberi rentang waktu yang cukup panjang.

“Di luar dugaan, proses pemberangkatan jamaah dari Makkah ke Jeddah berjalan cepat, sehingga waktu 12 jam menjadi terlalu lama. Masa menunggu jamaah di bandara pun menjadi terlalu panjang,” terang Arsyad ketika ditemui di Daker Makkah, Selasa (22/10).

Terkait hal ini, Arsyad menjelaskan bahwa Daker Makkah sudah melakukan rapat yang dipimpin langsung oleh Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Anggito Abimanyu. “Prinsipnya bagaimana mengurangi kepadatan jamaah di bandara. Bagaimana kita bisa menahan jamaah agar tidak berangkat terlalu cepat. Kalau bisa sembilan atau delapan jam sebelum take off,” kata Arsyad.

Arsyad mengaku bahwa pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan pihak naqabah dan mereka justru membenarkan bahwa seharusnya pemberangkatan jamaah dari Makkah itu minimal 10 jam saja sebelum take off, bukan 12 jam. Itupun dengan  perhitungan 2 jam untuk persiapan, 2 jam untuk pemberangkatan, sehingga masa tunggu jamaah di bandara hanya 6 jam. “Mestinya seperti itu,” ujar Arsyad.

Upaya lobi juga sudah dilakukan ke pihak muassasah. Namun, mereka mengatakan bahwa pihaknya juga terikat dengan ketentuan dari Kementerian Haji. “Bahkan kalau kami memberangkatkan kurang dari 12 jam, itu dianggap sebagai pelanggaran,” kata Arsyad.

Sehubungan itu, Arsyad menjelaskan bahwa pihak Ketua PPIH sudah melayangkan surat secara resmi kepada Kementerian Haji agar pemberangkatan jamaah bukan 12 jam, tapi minimal  10 jam dengan perhitngan 2 jam persiapan, 2 jam pemberangkatan, dan 6 jam menunggu di bandara. “Surat dikirim kemarin malam. Mudah-mudahan saya kira ketika melihat kondisi di bandara, mereka juga harus tahu,” terang Arsyad.

“Semoga hal ini bisa kita minimalisir terjadinya kepadatan di bandara, untuk pemulangan di hari ini atau besok,” imbuh Arsyad.

Upaya lainnya yang diambil Daker Makkah, lanjut Arsyad, membangun komunikasi efektif dengan pihak maktab agar tidak meminta jamaah untuk segera berangkat. “Kepada jamaah, kita  juga memberikan informasi supaya tidak terjadi penumpukan di Bandara Jeddah, supaya menahan diri,” tutur Arsyad.

“Namun, setelah bis sampai di pemondokan, jamaah memang biasanya ingin bergegas pulang. Walaupun masa tunggu antara mereka turun dari bis di Jeddah, sampai take off di bandara masih lama,” tambahnya.

“Ini fenomena jamaah yang memang sudah ingin buru-buru pulang. Tapi jangan sampai hal tersebut justru berimbas mereka sampai tidur-tiduran di plaza bandara, saya kira itu yang tidak kita inginkan. Kalau mau tiduran, lebih baik di pemondokan. Mudah-mudahan dalam satu atau dua hari ini sudah tertangani,” tutup Arsyad.

Sumber: