Kecelakaan dengan Emosi Diaduk

Kecelakaan dengan Emosi Diaduk

Oleh Dahlan Iskan

Menteri BUMN

 

Menarik sekali kesaksian seorang ibu ini: dia melihat masinis masuk ke gerbong paling depan untuk memberi tahu bahwa kereta segera menabrak mobil tangki, dan karena itu penumpang diminta segera pindah ke gerbong di belakangnya.

Ruang masinis memang menjadi satu dengan gerbong paling depan yang dikhususkan untuk penumpang wanita. Setelah memberi tahu adanya bahaya itu, sang masinis bergegas kembali ke ruang kemudi. Sesaat kemudian terjadilah musibah itu. Sang masinis sendiri meninggal dunia, bersama dua rekan kerjanya di ruang itu.

Mungkin yang memberitahukan bahaya tadi bukan masinis, tapi asisten masinis. Penumpang tentu tidak bisa membedakan mana masinis dan mana asistennya. Itu tidak penting. Yang penting kita catat adalah jiwa pengorbanannya itu.

Dia begitu memikirkan keselamatan penumpang melebihi keselamatannya sendiri. Dia meninggal hanya sesaat setelah berusaha menyelamatkan para penumpang.

Sang masinis tidak kalah patriotik. Bisa jadi dialah yang memerintahkan asistennya untuk memberi tahu penumpang. Dia sendiri harus melakukan apa yang harus dia kerjakan: mengerem secara normal dan tidak mengerem secara darurat.

Kalau saja sang masinis panik dan melakukan pengereman darurat, bisa saja yang terjadi akan lebih tragis: gerbong-gerbong kereta terguling berantakan. Tindih-menindih. Korban akan lebih banyak.

Saya setuju dengan Dirut KAI Ignasius Jonan bahwa masinis dan asistennya adalah patriot-patriot penyelamat penumpang! Saya memuji kepekaan Jonan yang menangani sang patriot dengan sebaik-baiknya: anggota keluarga terdekat akan diangkat menjadi karyawan KAI, anak-anaknya akan dibiayai sekolahnya sampai lulus perguruan tinggi.

Sejak peristiwa itu saya memang tidak henti-hentinya berkomunikasi dengan Jonan mengenai apa yang harus dilakukan.

Dari kesaksian ibu itu satu kesimpulan sementara bisa diambil. Sang masinis, dari jarak yang masih jauh, sudah melihat ada mobil tangki dalam posisi berhenti melintang di atas rel.

Mobil tangki itu tidak bergerak maju. Berarti ada tiga kemungkinan: mogok di tengah rel (rasanya tidak), tidak bisa maju karena ada kendaraan padat di depannya, atau dari arah berlawanan penuh juga dengan kendaraan.

Kita sama-sama memiliki pengalaman serupa. Di saat akan ada kereta lewat, banyak kendaraan mengambil posisi sangat kanan. Dengan harapan, begitu kereta lewat, mereka bisa tancap gas dulu.

Sumber: