9 Tahun Tsunami Aceh

9 Tahun Tsunami Aceh

Berlinang Air Mata

ACEH -  Kamis 26 Desember 2013 tepat 9 tahun tsunami melanda Aceh dan menelan ratusan ribu korban jiwa. Di Banda Aceh, detik - detik peringatan 9 tahun tsunami dilaksanakan di lapangan utama Komplek Taman Ratu Safiatuddin. Ribuan masyarakat dan pelajar larut dalam zikir dan doa bersama yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB pagi tersebut.

 Kegiatan peringatan 9 tahun tsunami ini juga dihadiri para pejabat pusat seperti Menteri Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan dan) Azwar Abubakar, Mantan Pj Gubernur Aceh Tarmizi Karim yang sekarang menjabat Dirjen Pemberdayaan Masyarakat desa (PMD) dan Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat, Adi Koesoemo.

 Sementara dari pejabat daerah yang hadir diantaranya Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Kapolda Aceh Irjen Pol Herman Effendi, Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Pandu Wibowo. Para

kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), Walikota Banda Aceh dan Wakil Walikota Banda Aceh beserta kepala SKPK dan para Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Jajaran Pemerintah Aceh dan kota Banda Aceh serta para tamu mancanegara.

 Selain zikir dan doa bersama, kegiatan ini juga diisi dengan tausiah yang disampaikan oleh pendiri ESQ Leadership Center, Ary Ginanjar Agustian.

 Acara renungan 9 tahun tsunami Aceh ini diwali dengan sambutan Wakil Walikota Banda Aceh Hj. Illiza Sa”aduddin Djamal, setelah itu giliran Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Adi Koesoemo memberikan sambutan. Tidak berapa lama giliran wakil gubernur Aceh dan Menpan Azwar Abubakar secara bergantian memberikan komentar.

 Wakil Walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa”aduddin Djamal yang mengawali sambutan menyampaikan bahwa hari ini (kemarin-red) tepat 9 tahun musibah gempa bumi yang disusul tsunami melanda pesisir Aceh, termasuk Kota Banda Aceh.

 Musibah dashat 26 Desember 2004 silam tersebut, menelan 126 ribu korban jiwa. Bencana yang datang tidak terduga tersebut menyebabkan seluruh sendi kehidupan lumpuh total dan kota Banda Aceh saat itu ibarat kota mati.

 Namun dengan simpati dan bantuan masyarakat, negara dan lembaga donor, baik dalam dan luar negeri, membuat daerah ini cepat bangkit kembali menata kembali kehidupan dan infrastruktur yang porak - poranda.

 Senada dengan itu, Wakil Gubernur Aceh juga menyampaikan bahwa Aceh tidak akan mampu pulih dari musibah gempa berkekuatan 9,3 skala richter yang diikuti tsunami, tanpa adanya dukungan dari semua pihak, baik dalam maupun luar negeri.

 Berkaca dari musibah tersebut, tentu masyarakat Aceh sekarang lebih sigap dalam menghadapi bencana, apalagi Aceh daerah yang sangat rawan akan bencana. Semua pihak pun diminta dapat mengantisipasi setiap bencana yang akan terjadi diwaktu mendatang.

 Dalam kesempatan tersebut, Wagub juga menghimbau masyarakat Aceh untuk mengantisipasi bencana nyata yang terjadi setiap saat di depan mata, yakni bencana narkoba.

 Para guru dan orang tua diminta dapat mengawasi anak didik dan anak mereka, agar terhindar dari bahaya narkoba.\"Aceh saat ini menjadi salah satu pintu masuk perdagangan narkoba internasional, ini tidak boleh terus dibiarkan dan membutuhkan kerja keras semua pihak,\"tegas wagub.

Sumber: