Dari Senyum sampai Pahami Masyarakat

Dari Senyum sampai Pahami Masyarakat

Ajakan Menteri Dahlan kepada Mahasiswa STIK-PTIK

     JAKARTA - Kemarin (6/2), Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan berbagi tip tentang Leadership. Kali ini dia memenuhi undangan para perwira Polri yang tengah menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian-Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK). 

    Kepada para mahasiswa STIK-PTIK Angkatan 64, Dahlan  berharap polisi bisa memahami persoalan masyarakat. Dia juga mengajarkan pentingnya bermurah senyum bagi polisi. Jalannya diskusi berlangsung hangat dari pagi sampai siang.

                Menurut Dahlan, kedatangannya ke kampus STIK-PTIK di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu, tidak lepas dari upaya gigih mahasiswa untuk menemuinya. \"Saya mau datang ke sini karena kegigihan mahasiswanya (STIK-PTIK). Jam lima pagi, saat hujan, mereka menepati janji untuk datang,\" ujar dia di hadapan 120 orang mahasiswa dan Ketua STIK-PTIK Irjen Pol Dr Iza Fadri SH MH.

                Setelah mendapat pertanyaan tentang kiat selalu tersenyum dalam bertugas, mantan Direktur Utama PLN ini menceritakan, hal tersebut adalah konsekuensi dari permintaannya kepada seluruh direksi BUMN. \"Kalau saya tidak tersenyum, berarti saya salah memerintahkan seluruh direksi BUMN untuk tersenyum,\" kata dia.

    Dahlan mencontohkan, salah seorang direktur BUMN yang sebelumnya sangat sulit tersenyum adalah Ignasius Jonan. Pasalnya, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu memiliki latar belakang bidang keuangan. \"Orang keuangan itu biasanya memang susah senyum. Lalu saya bilang kepadanya, tiga bulan harus sudah bisa tersenyum,\" ujar mantan CEO Jawa Pos Group ini.

                Saat proses latihan tersenyum, setiap minggunya Jonan selalu mengirimkan foto kepada Dahlan untuk dikomentari. \"Apakah seperti ini Pak?\" ucap dia menirukan pertanyaan Jonan.

                Kini, selain kinerja yang baik, Dahlan memuji Jonan

lantaran performanya baik. \"Senyumnya sempurna. Jadi kinerjanya baik, tampilannya juga baik,\" jelas pria kelahiran Magetan, Jawa Tengah itu.

                Selain tersenyum, menurut mantan CEO Jawa Pos Group ini, pemimpin yang baik harus mampu menghargai anak buahnya. Salah satu caranya menguasai skala prioritas. Tujuannya, dapat menilai bawahannya hingga ke taraf ide. \"Jadi pemimpin tahu. Ide yang ini nilainya sembilan, yang itu lima, yang lain nol,\" terang dia.

    Karena itu, kata mantan wartawan Tempo ini, seorang pemimpin pun harus memulai karirnya dari bawah dan mengalami tugas-tugas sulit yang dikerjakan bawahannya. Sehingga, sebelum meminta anak buahnya untuk melakukan sebuah pekerjaan, pemimpin itu harus tahu detail pekerjaan yang akan dilakukan. \"Bukan seperti direksi BUMN saat saya pertama kali datang. Saat saya tanya di rapat, selalu meminta bantuan bawahannya,\" ungkap dia.

                Dahlan berharap anggota kepolisian juga mampu memahami permasalahan yang dihadapi masyarakat. Sebab itu, peningkatan kredibilitas mulai dari jajaran tertinggi hingga terendah di tubuh kepolisian harus terus dilakukan. Agar tujuan pengayom masyarakat dapat tercapai.

(den/hen)

Sumber: