Bekali 1.000 Santri Bela Negara

Bekali 1.000 Santri Bela Negara

 SURABAYA - Pelayaran santri bela negara singgah di Markas Komando Armada RI Kawasan Timur (Mako Armatim). Sebanyak seribu santri se-Nusantara tiba dengan KRI Banda Aceh yang sandar di Dermaga Madura kemarin (23/11). Mereka telah berlayar selama dua hari dari dermaga Kolinlamil, Jakarta, Sabtu (21/11). Selama di Kota Pahlawan, peserta pelayaran diajak mengenal pangkalan terbesar TNI-AL tersebut.

 Tambahan bekal juga diberikan tiga tokoh. Yakni, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, serta Panglima Armatim Laksda TNI Darwanto.

 Peserta pelayaran berasal dari berbagai kalangan muda. Selain santri pondok pesantren, ada wakil pelajar madrasah aliyah (MA) maupun SMA/SMK, tokoh-tokoh pemuda, mahasiswa, dan komunitas Islam Nusantara.

‘’Berada di pangkalan besar dan mengikuti apel akbar di bawah komando panglima (Pangarmatim), sadar atau tidak, ada proses internalisasi dalam otak paling dalam agar Anda nanti harus berada di tempat besar seperti ini,’’ungkap Dahlan saat memberikan pembekalan di gedung Panti Tjahaja Armada setelah upacara militer penyambutan pelayaran. Spontan, aplaus diberikan peserta pelayaran yang memadati gedung megah tersebut.

 Mayoritas peserta yang masih muda membuat pria kelahiran Magetan itu optimistis terhadap masa depan mereka saat mencapai usia produktif 28-30 tahun. Apalagi setelah mereka ‘’meniduri’’ kapal perang canggih produksi PT PAL dalam pelayaran melintasi Laut Jawa. Pengalaman tersebut sangat langka bagi kalangan santri mengingat pelayaran bela negara itu adalah yang perdana. ‘’Mudah-mudahan ada pelayaran lanjutan,’’ujar Dahlan.

 Saifullah Yusuf mengingatkan tiga hal kepada peserta pelayaran bela negara. Lautan Indonesia yang luas ibarat surga yang membuat negeri ini tidak perlu menjajah negara lain untuk bertahan hidup. Kemudian, perjuangan ikhlas ulama dan santri pada era merebut kemerdekaan harus dipertahankan dalam konteks kekinian. ‘’Pelayaran ini juga menjadi pelajaran bagaimana bersikap gotong royong dan toleran untuk menciptakan kerukunan,’’tegas mantan menteri negara pembangunan daerah tertinggal tersebut.

 Sementara itu, Darwanto juga mengungkapkan pengalamannya. Sebelum menjadi tentara, dia adalah pemuda hasil pengajian. ‘’Saya punya mimpi keliling dunia dan itu bisa terwujud ketika Presiden Soeharto pada 1986 menugaskan berlayar dengan KRI Arung Samudera selama 1 tahun 20 hari,’’jelasnya. Pelayaran keliling dunia sekaligus menunjukkan kepulauan Nusantara Indonesia kepada masyarakat dunia.

 Peserta pelayaran di Armatim juga diajak mengenal rangkaian sejarah armada. Mereka juga mengunjungi Monumen Jalesveva Jayamahe (Di Laut Kita Jaya) sebagai simbol visioner prajurit matra laut. Dijadwalkan, siang ini (24/11) mereka kembali berlayar ke Jakarta selama dua hari. Dengan kapal perang produk anak bangsa yang terlibat dalam tim SAR pencarian AirAsia QZ8501, Desember 2014-Februari 2015, semangat nasionalisme mereka pun terdongkrak.

(sep/c5/agm)

 

Sumber: