Until Today

Ciel melihat ke kursi belakang dan benar saja ada amplop coklat yang berisi dokumen yang dimaksudkan olehnya.
“Cepat sedikit, selain lapar, aku tak sabar untuk membacanya!” perintah Ciel, Adelard memutar matanya, namun tidak membangkan, sesuai perintah Ciel Adelard mempercepat laju mobilnya.
***
Ciel kini tengah berbaring nyaman di kasurnya, yap, Ciel memutuskan untuk tinggal di mansionnya yang di Indonesia. Setelah memastikan dengan Adelard bahwa masa tinggalnya di Indonesia lebih lama tepatnya 3 bulan, hanya 3 bulan kesempatannya di Indonesia, juga untuk Soheila. Mengingat ia harus membaca dokumen yang dibawa Adelard, Ciel juga memutuskan untuk merapikan koper Soheila yang dibongkarnya.
Ciel tidak tau apa yang merasukinya saat itu dan menyuruh Adelard membawa koper Sohiela, Ciel mengecek beberapa barang Soheila, hanya beberapa pakaian wanita dan alat – alat wanita seperti Skincare dan lainnya, tidak ada yang menarik hingga Ciel menemukan buku tua yang terselip di antara pakaian Soheila dan oleh sebab itulah Soheila menjadi sangat menarik di mata Ciel.
Ciel melipat pakaian Soheila seadanya dan menutup lagi koper itu. Beranjak dari tempatnya, Ciel menduduki meja kerja yang ada di kamarnya membuka dokumen yang sedari tadi membuatnya penasaran. Dokumen yang Ciel maksud adalah dokumen tentang Soheila, Ciel menatap kagum dokumen yang ditangannya. Bagaimana Adelard bisa mendapat informasi sedetail dan seperinci ini tentang Soheila bahkan sebelum Ciel memberitahunya.
Ciel membaca kertas yang berisi Soheila dengan seksama, tak ingin melewatkan satu katapun bahkan satu huruf. Beberapa kali Ciel terkejut dan tidak meyangka fakta tentang Soheila, terdpat juga beberapa foto Soheila dan salah satu foto Soheila yang tengah tersenyum di keramain kota kanada membuat Ciel terpana, kapan sih Soheila tidak membuat Ciel terpana dan terkagum – kagum terhadapnya.
Untuk saat ini, Ciel hanya mengikuti hatinya tidak seperti dirinya yang biasanya, dimana logika adalah segala – galanya. Karena Soheila, Ciel seperti menjadikan hidupnya layaknya sebuah perjudian, jika dia menang maka segalanya akan menjadi miliknya, terlalu menyenangkan. Bagimana jika dirinya kalah? Bukankah itu terlalu sakit, dan dalam lubuk hati Ciel ada rasa dimana ia merasa takut merasakan rasa sakit itu.
Apa yang kini dirasakannya adalah hal tabu yang sering didengarnya, apa benar? Bagaimana cara membuktikannya jika yang Ciel rasakan kini benar adanya itu? Sekali lagi, Ciel menatap intens foto Soheila, bertanya – Tanya dalam benaknya selayaknya Soheila ada di hadapannya, jika benar ini Cinta, mengapa rasanya ia tak rela?
(Bersambung )
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: