>

Until Today

Until Today

-Serberat apapun masalah, nggak ada yang lebih berat dari kalian yang diberi kepercayaan dan pergi oleh pengkhianatan”

-Soheila

Ciel berkali – kali mencoba membunuh rasa bosannya selagi menunggu Soheila menyelesaikan pekerjaanya yang sedari tadi tidak selesai – selesai. Benar – benar menyebalkan, bagaimana bisa Mariana mempercayai butiknya kepada Soheila yang bekerja sangat lambat.

“Nenek lampir itu pasti menyesala telah mempercayakan butiknya kepadamu, melihat pekerjaan mu benar – benar lamban,” Komentar Ciel yang kini tengah menengelamkan kepalanya di lipatan tangan dan menjadikan meja kerja Soheila sebagai tumpuan sekaligus alas tangannya.

Soheila yang mendengar komentar Ciel benar – benar ingin melemparkan high heels yang kini ia pakai ke kepala Ciel, dasar manusia tidak tahu diri. Seharusnya Ciel sadar karena siapa pekerjaanya menjadi tertunda dan menjadi tidak selesai begini. Ciel lah penyebabnya, sejak Soheila memanasinya dengan kejadian di bandara Ciel tak pernah absen untuk membuatnya jengkel dengan segala tingkahnya.

Mulai dari tidak sengaja menumpahkan teh ke desain pakaian yang ia buat, merengek minta dibelikan camilan karena bosan menunggu Soheila, siapa yang menyuruh memang untuk menunggu Soheila, dan jangan lupakan mulut Ciel yang tidak berhenti mengoceh pasal banyaknya wanita yang mengejarnya dan memujanya, memangnya Soheila peduli?!

Soheila memutar bola matanya malas, ingin rasanya membalas pekataan Ciel namun dirinya terlalu letih untuk saat ini. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya frustasi dan tingkah Ciel menjadi beban pikirannya dan belum lagi masalah Mariana yang bertemu dengan Samuel, benar – benar menyebalkan rasanya.

Soheila mengingat sahabatnya Dave. Saat dulu bersama Dave, Soheila tidak akan pernah merasa seletih dan semuak ini terhadap sekitarnya. Yap, prilaku Dave memang tidak di benarkan, dia menguras orang – orang dengan bersikap baik di depan lalu membunuh di belakang dengan cara memerasnya. Namun, hanya bersama Dave ia bisa menjadi sesungguhnya Soheila, Soheila yang cengeng, Soheila yang manja dan Soheila yang egois. Mengingat kesalahannya, Soheila mengehembuskan nafas lelah, tidak masalah jika hanya Dave kehilangan uang atau propertinya, Soheila tidak takut hal itu, Soheila takut hal lain, Soheila takut mendengar perkaatan Dave jika dirinya bertemu Dave nanti. Tidak ada yang lebih menyakitkan selain dikhianiati oleh orang yang paling kita percaya bukan? Soheila merasakannya dan ia pula melakukannya, Sialan!

“Dave,” gumam Soheila pelan, nyaris tidak terdengar. Namun, Ciel masih mendengarnya walau samar ia mendengarnya, nama lain yang membuat Ciel panas sekaligus bingung.

“Apa?” Tanya Ciel pada Soheila yang kini tampak tengah melamun.

“Hah?” Ucap Soheila bingung yang melihat Ciel bertanya.

Melihat respon Soheila, Ciel tersenyum tipis nyaris tidak terlihat. “Lupakan,” Suruh Ciel.

“Apa? Apa yang kau tanyakan tadi?” Tanya Soheila penasaran.

“Sudah aku katakan lupakan, jadi lupakan saja!” Sarkas Ciel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: