>

Until Today

Until Today

Ciel menunggu khawatir Soheila yang terbaring di brankar rumah sakit. Hampir empat jam Ciel menunggu Soheila sadar namun Soheila tidak kunjung sadar, Ciel merasa geram dengan orang yang membuat Soheila seperti ini, rasa bersalah tiada berhenti menyerang Ciel. Seharusnya Ciel lebih cepat, dan Soheila tidak akan mengalami peristiwa seperti itu. Berkutat dengan pikirannya Ciel tidak menyadari bahwa Soheila mulai sadar.

“Eunghh …”lenguh Soheila, Ciel yang mendapati suara kecil dari Soheila lega sekaligus bersyukur karena akhirnya Soheila sadar.

“Soheila,” Panggil Ciel pelan,

“Samuel,” Sahut Soheila pelan, “Samuel,” Ujarnya lagi. Soheila terus mengulang nama Samuel dan terisak, Isakan Soheila bahkan semakin kencang. Ciel kelabakan, dia tidak pernah menghadapi wanita menangis seperti ini.

“Soheila,” Panggil Ciel lagi sambil mengguncang bahu Soheila agar Soheila sadar, namun hanya seruan nama Samuel dan tangisan Soheila yang ia dapati.

Ciel memeluk lembut Soheila, membawa kepala Soheila bersandar di dada bidangnya, “Hei, tenanglah.” Ujar Ciel pelan menanangkan berharap tangisan Soheila reda.

Cara Ciel sedikit berhasil, perlahan suara tangis Soheila mulai reda, hanya tersisa isakan kecil yang terdengar, dengan lembut Ciel mengusap kepala Soheila, mengeratkan pelukannya, berharap Soheila tenang dan tahu bahwa Soheila tidak pernah sendirian, ada Ciel yang menjadi sandarannya.

Isakan Soheila pun tidak lagi terdengar, hanya sesegukan setelah menangis membuat senyum tipis terukir di bibir Ciel, walau sempat merasa bingung dan kecewa Ciel tidak akan sanggup melihat Soheila menangis seperti tadi. Ciel ingin melihat wajah Soheila, namun saat ingin melepaskan pelukannya Soheila semakin erat memeluk Ciel dan Soheila semakin dalam membenamkan wajahnya di dada bidang Ciel.

Seolah paham Ciel membiarkan Soheila mencari posisi ternyamannya di pelukannya. “Tidurlah,” suruh Ciel lembut. Soheila menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Ciel.

“Apa kau akan meninggalkanku?” Tanya Soheila pelan dengan suara yang bergetar.

“Tidak, kau lelah, tidurlah.” Ciel menyuruh Soheila lembut dengan terus mengusap kepala Soheila memberi kenyamanan.

“Jangan pergi,” Ucap Soheila sambil merapatkan pelukannya, Ciel benar, Soheila butuh istirahat, terbukti tidak lama Soheila segera tertidur. Ciel mendengar dengkuran halus dari Soheila, dengan pelan dan hati – hati Ciel melepaskan pelukannya agar Soheila tidak terbangun. Dibaringkannya Soheila dan menyelimuti Soheila.

Ciel duduk di samping brankar Soheila, memandangi wajah Soheila. Di elusnya pipi Soheila lembut, tersenyum miris melihat keadaan Soheila.

“Kau tahu Soheila,” Ujar Ciel kala Soheila tertidur, “Kau benar – benar menjadi racun untukku.” Lanjut Ciel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: