Until Today

-aku bukan manusia yang baik, namun aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk orang – orang yang berharap pada kebaikanku-
-Ciel
Ciel melihat Mariana yang terus menangis, walau Ciel selalu mengatai Mariana nenek tua yang menyebalkan dan selalu bertingkah seolah tidak menyukai Mariana, Ciel menyayangi Mariana. Entah mengapa Ciel juga ikut turut merasa sedih terhadap apa yang dialami Mariana walau dirinya tidak terlalu memahi permasalahnya, mendapat informasi yang sepotong – potong membuat Ciel harus bisa menabak alurnya sendiri untuk tahu apa yang tengaj terjadi sekarang.
Ciel mendekati Mariana, digenggamnya tangan Mariana erat memberi Mariana kekuatan agar tetap bertahan dan keluar dari keterpurukannya. Tidak peduli betapa sedihnya Mariana saat ini, tidak peduli betapa hancurnya Mariana, tidak peduli betapa memprihatinkannya kondisi Mariana, Ciel ingin mendengar ocehan Mariana yang menyebalkan, Ciel ingin Mariana yang selalu menarik kupingnya di setiap ada kesempatan.
Ciel merengkuh Mariana pelan, “Hei nenek tua, aku bahkan tidak menyangka jika wanita tua menyebalkan sepertimu bisa juga menangis,” Ujar Ciel dengan nada yang dibuat terlihat sangat kesal, upaya untuk menghibur Mariana.
“Kau tahu nenek tua, sebenarnya aku ingin marah melihat kau menyudutkan Soheila, kau kan tahu jika aku ingin menjadi the next future husband Soheila, sekarang aku tahu kenapa kau selalu menggalkan kencanku dan Soheila, apa itu karena cucu tak kasat matamu itu.” Oceh Ciel, sesekali dia mencebikkan bibirnya kesal mengingat perlkuan Mariana padanya.
Mariana yang mendengarnya mencubit pelan pinggang Ciel yang kini tengah mendekapnya, mendengar ocehan tidak jelas Ciel juga membuatnya sedikit terhibur.
“Aww,” Ringis Ciel. “Nenek tua! Kau tahu jika saja ibuku tahu anaknya yang paling dia sayangi ini selalu kau cubit dan kau Tarik terlinganya, aku yakin ibu tidak akan segan – segan mengajakmu berduel. Dasar nenek tua menyebalkan!’ gerutu Ciel yang mengundang tawa pelan dari Mariana.
Ciel yang mendengar tawa Mariana berpura – pura kesal, namun tak urung akhirnya Ciel juga ikut tertawa. Mariana menyadari, Samuel memang benar, Mariana dikelilingi dengan orang – orang baik yang menyayanginya. Mariana kehilangan dan terpuruk kehilangan Samuel, namun itulah keputusan Samuel, sebagai nenek yang merangkap sebagai ibu Samuel, sudah puluhan kali Mariana mencegah dan melarang Samuel melakukan hal yang nekat, dan Samuel tidak pernah mendengarkannya.
“Nenek,” panggil Ciel setelah hening beberapa saatyang terjadi antara dirinya dan Mariana.
“Aku mungkin tidak sebaik cucumu, bahkan aku belum pernah bertemu langsung dengan cucumu. Namun jika suatu saat aku dipertemukan dengan cucu tak kasat mata yang membuat nenek tua menyebalkanku ini mengangis seperti ini, aku akan menghadiahinya satu bogeman gratis lalu bersaing sehat dengannya untuk selalu bersama dengan Soheila. Namun, kita tahu bukan pemanangnya adalah aku” Ujar Ciel gamblang, Ciel memang tidak menatap Mariana selama ia megucapkan kalimat melownya, sorot matanya terlalu tulus dan dalam untuk melingdungi Mariana dan Soheila.
Ciel tidak tahu sejak kapan ia menjadi peduli dengan urusan orang lain, namun hatinya dan tubuhnya bergerak sendiri untuk turut andil, dirinya ingin melindungi orang – orang yang ia sayang.
“nenek rasa kau terlalu berani mengatakan cucu nenek itu tidak kasat mata,” Balas Mariana sambil memukul pundak Ciel sedikit kuat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: