Until Today

-tidak ada yang bisa ka percayai selain dirimu sendiri, Karena dasarnya manusia adalah mutlak untuk sebuah kebohongan dan pengkhianatan”
-Samuel
Sejak diantar oleh Ciel ke kamarnya, Soheila merenungkan dan melamunkan segalany. Bukan karena menyesala namun seolah sesuatu terasa menjanggal. Ada sesuatu yang harus dia ketahui dan dia selesaikan dengan segara namun tak tahu dimana ia harus memulainya, semuanya terlalu buram bahkan sangat tidak jelas, rasanya otak Soheila pecah memikirnnya.
Apa yang dimaksudkan dengan Mariana terkait pengorbanan? Apa yang dikorbakan Ciel untuknya? Soheila terus mengulang pertanyaan itu di kepalanya. Jika saja Soheil tengah ada di dalam sebuah film maka Soheila yakin kepalanya tengah mengeluarkan asap dan tengah berhitung mundur menuju detik – detik ledakan di kepalanya. Larut dalam lamuannya Soheila tidak menyadari jika Ciel dan Mariana sudah memasuki kamarnya.
“Soheila,” panggil Mariana pelan, Mariana duduk di samping Soheila mengusap pelan kepala Soheila. Soheila tersenyum manis, dirinya cukup lega melihat keadaan Mariana yang sedikit lebih tenang dan baik dibanding tadi. Rasanya Soheila tidak sanggup jika melihat Mariana seperti itu lagi.
“Nenek, apa nenek baik – baik saja?” Tanya Soheila khawatir sambil mengenggam tangan Mariana.
“bukankah seharusnya nenek yang bertanya seperti itu?” Tanya Mariana dengan kekehan kecil, mendengernya Soheila juga ikut terkekeh pelan. Ciel yang melihat interksi mereka tersenyum lembut, dirinya tidak ingin melihat Soheila dan Mariana menangis lagi.
“Ck, kalian terlalu mendaramtisir keadaan, aku tidak menyukai mellowdrama,” gurau Ciel dengan nada jenaka.
“Yah…gagal deh sayang – sayanganya.” Balas Soheila menatap Mariana dengan nada yang pura – pura sedih. Melemparkan guyonan membuat mereka tertawa.
“Baiklah, aku ingin meminta maaf kepada nenek, jujur nek bahkan aku tidak tau apa yang nenek maksud dengan perkataan nenek tadi. Apa yang Samuel korbankan untukku?” Tanya Soheila yang mulai serius, Mariana dan Ciel yang mendengarnya juga langsung berubah dalam mode serius.
“Nenek tidak tau pasti, nenek hanya tau sedikit saat mengunjungi Samuel kemaren, itu adalah kunjungan pertama dan terkahir nenek pada Samuel sejak Samuel tinggal di Kanada. Nenek awalnya tidak sajar jiak Soheila mengikuti nenek ke rumah tua itu, sejujurnya nenek juga tak tahu itu rumah siapa namun Samuel meminta nenek bertemu disana. Samuel hanya mengatakan untuk menyembunyikan Soheila sementara waktu dan bilang bahwa dalam waktu dekat Samuel mengatakan hidupnya tidak lama lagi, dan menyuruh nenek untuk meminta tolong pada Ciel dalam keadaan terdesak. Nenek tidak ingat jelas yang nenek ingat Samuel mengatakan Ciel adalah pisau bermata dua,” Cerita Mariana lugas pada Ciel dan Soheila, karena sejujurnya dirinya juga penasaran apa yang tengah dilakukan Samuel dan mengapa Soheila dan Ciel bisa terlibat bahkan sekarang dirinya juga ikut terlibat secara tidak langsung.
“peristiwa malam itu juga tidak beda jauh dari nenek. Samuel hanya mengatakan bahwa dirinya menyayangi nenek lebih dari apapun dan berkata sedikit tentang pengorbana agar semuanya tidak sia – sia dan hal yang sama juga ia katakana kepadaku bahwa Ciel adalah pisau bermata dua.” Ujar Soheila yang merasa cerita Mariana tidak berbeda jauh dengannya.
Ciel merasa bingung, dirinya bahkan belum pernah bertemu dengan Samuel lalu mengapa tiba – tiba laki – laki itu mengatakan bahwa dirinya adalah pisau bermata dua. “Aku tidak paham apa maksud Samuel cucu nenek itu, aku bahkan belum pernah bertemu dengannya dan bagaimana bisa dia langsung mengatakan bahwa aku ini pisau bertama dua untuk Soheila, bukankah ini terdengar seperti menyangkut keselamatan dan kehidupan Soheila,” Ujar Ciel setelah mendalami semuanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: