Behind: Impossible

“Berusaha menjadi sempurna itu tidaklah salah, hanya saja jeda untuk berbenah kadang harus ada agar tahu bahwa hal itu, sepenuhnya sudah terlalu salah.”
-KekendanKepeduliannya
Pekerjaan Keken selesai tepat pukul 12 malam begitupula dengan Mala, karyawan kantorpun sudah tidak terlihat lagi, keculi beberapa orang dari divisi keuangan meningat ini akhir tahun pastinya mereka sibuk merincikan dana anggaran perusahaan selama setahun terkahir ini. Seketika Keken dan Mala merasa lega, divisi mereka tidakpernah berkejaran dengan waktu bahkan hampir di setiap sabtu Divisi humas tidak memiliki pekerjaan sama sekali, ini semua juga berkat Danu yang selalu mempercepat deadline pekerjaan mereka, walau mereka harus mengerahkan seluruh emosi dan tenaga mereka akibat tuntutan Danu setidaknya itu setimpal dengan apa yang mereka dapatkan di akhir pekan.
Keken menunggui Mala menunggu jemputan dari kakak Mala, karena tidak etis rasanya membiarkan Mala untuk pulang sendiri alhasil Keken menungguinya. Bagaimana dengan Keken sendiri? Tidak perlu khawatir, jarak kos – kosan Keken dan kantor sangatlah dekat, hanya berjarak 100 meter dan Keken hanya perlu berjalan kaki untuk pulang, lagipula banyak toko yang masih buka di sepanjang jalan menuju kos – kosan, membuat Keken tidak terlalu khawatir karena ia masih ada pada keramaian.
15 menit menunggu, akhirnya Mala dijemput, dan Keken bergegas menuju kos-kosannya. Keken berjalan dengan riang, walau lelah setelah bekerja, semangat Keken tidak pernah surut apalagi saat ia kembali ke kamar dan bergelung di kasurnya, rasanya membayangkannya saja membuat Keken sangat semangat.
Namun niat Keken harus berhenti kala melihat Kirana dengan seorang laki – laki yang Keken yakin usianya sama dengan ayahnya di kampung. Mungkin jika sekilas, orang – orang akan mengira Kirana berjalan dengan ayahnya, namun hal tidak senonoh serta gerakan intim yang mereka lakukan, membuat Keken yakin itu bukanlah ayah Kirana. Dan Apa – apan itu, berani – berani sekali laki – laki hidung belang itu menyentuh Kirana sesukannya, membuat Keken kesal dan tak bisa tinggal diam.
“Dasar lelaki jaman sekarang, bahkan sudah tua Bangka pun masih nggak tau batasan!” gerutu Keken pelan sambil menggulung lengan kameja kerjanya dan menarik sedikit rok spannnya agar sedikit lebih leluasa bergerek, tak lupa melepaskan heels yang ia pakai.
“MINGGIR BRENGSEK!” Teriak Keken sambil berlari kearah pria tua yang bersama Kirana tersebut dan meninju wajah pria tersebut.
“Heh, Kakek tua bangka! Nggak sadar ya itu badan udah bau tanah juga, masih aja main perempuan!” ujar Keken kesal kembali memberi bogem mentah pada wajah pria tua tersebut.
“Banyakin amal sana, udah tua juga. Ingat tuh istri di rumah, udah dikasih makan belum!” Teriak Keken kesal lagi sambil mendorong pria tersebut agar tak bangkit dari tanah akibat terjatuh karena menerima pukulan Keken.
“Stop! Stop! Stop!” ujar Kirana, berusaha melerai Keken dan menjauhkannya dari pria yang tadi bercumbu dengannya tadi.
Dengan bantuan Kirana, pria tua tersebut bangkit berdiri dengan memeluk pinggang Kirana. Keken yang melihatnya tidak tinggal diam, dengan kasar Keken menarik Kirana ke belakangnya menjauhkan Kirana dari pria tua yang terus mengambil kesempatan menyentuh tubuh Kirana. Keken melayangkan satu tendangan ke perut pria tersebut, membuat pria tua tersebut tersungkur. Kali ini Keken tidak main – main dengan amarahnya, seolah tidak mengasihani bahwa pria tersebut sudah paruh baya, Keken menghajarnya habis – habisan, cukup puas barulah Keken berhenti.
“Heh! Kakek tua! Lo itu udah tua! Sadar diri Sana! Apa lo nggak punya anak cewek apa! ” Teriak Keken sarkas di depan pria yang sudah tergeletak tidak berdaya tersebut. “Lu tau nggak sih cara ngehargain perempuan, lo tu ada karena peremuan, paham nggak sih!” teriak Keken lagi tak karuan dengan wajah yang memerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: