>

Behind: Impossible

Behind: Impossible

 

 

“Ngedengerin nyinyiran orang itu nggak ada guna, yang namanya kata nggak akan pernah selesai. Kalo nggak suka, cukup tau aja bahwa kita berhubungan hanya sebatas untuk memenuhi standar makhluk sosial aja”

-Sanu

Setelah jam pulang kantor usai, Keken, Mala, Tsana, dan Kirana harus bingung tentang apa yang terjadi pada mereka saat ini. Pasalnya sejak mereka keluar dari ruangan Divisi humas, hampir semua karyawan kantor melihat mereka berempat seperti ingin menguliti.

“Ada yang salah dari kita? Atau Cuma gue yang terlalu kegeeran?” Ujar Tsana bertanya tidak tahan dengan keadaan.

“Nggak tahu, gue rasa normal – normal aja deh kita.” Ujar Keken.

Mala melirik Kirana, seolah memberi kode apa hari ini Kirana membuat berita sensasi yang sangat panas, mengikuti lirikan Mala. Keken dan Tsana pun turut memandang Kirana seolah bertanya, sedang yang dipandang memutar bola matanya malas.

“Dari pagi gue sama lo pada ya kak! Yakali gue masih sempat bikin berita” Ujar Kirana mendengus kesal.

Tsana dan Mala segera merangkul Kirana, “Ulu ulu ulu, maafin kita ya Kir, kan kebiasaan.” Ujar Mala.

“Kirana the best lah pokoknya.” Ujar Tsana sambil mengacungkan jempol pada Kirana.

“Ya, Ya, Ya, suka suka Kakak – Kakak sekalian.” Sungut Kirana dengan muka yang sengaja dibuat sekesal mungkin.

Sedangkan Keken yang melihat mereka hanya tertawa pelan, seolah marah dan kesalnya Karana bukanlah apa – apa untuk Keken. Ditengah kegiatan mereka, Reno, Sanu, Doni datang menghampiri Keken dan teman – temannya.

“Wes…artis kita,” Ujar Doni, yang membuat Keken, Mala, Tsana, dan Kirana bertanya – Tanya siapa yang dimaksud oleh Doni.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: